TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Napak Tilas Jejak Khilafah di Nusantara Meyakinkan bahwa Dunia Butuh Khilafah

Foto: islami.co


Tidak bisa dipungkiri bahwa Islam tersebar ke seluruh dunia karena adanya peran  negara Yang mengemban risalah tersebut. Tanpa adanya sebuah institusi sangat mustahil Islam dapat menguasai 2/3 waktu berjaya dan kini hampir seluruh negara tersinggahi agama Islam, termasuk bumi Nusantara. Tidak lah mungkin jika lau di sebarkan oleh individu yang menurut sejarah yang ada dibawa oleh pedagang.

Daulah Islam yang Rosulullah SAW dirikan di Madinah untuk mengemban Islam, merupakan titik tolak menuju peradaban Islam. Yang kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin sampai ke khilafahan Turki Utsmaniyah. Dari sepanjang sejarah peradaban Islam tersebut telah menorehkan kejayaan emas dengan memberi kemaslahatan seluruh umat manusia. Hidup penuh kesejahteraan, kedamaian, kemakmuran, dan segala kebaikan yang sampai saat ini pun masih di rasakan. Maka maklum jika kaum muslimin rindu akan kembalinya Daulah Khilafah Islamiyyah.

Namun sejak tahun 1924, yakni secara resmi kekhilafahan Turki Utsmaniyah dihapus oleh antek penjajah yang bernama Mustofa Kemal Attaturk lalnatullah alaih dan berganti dengan kapitalisme yang menanamkan pemahaman sekulerisme.  Akhirnya Kaum muslimin mengalami kemunduran di segala bidang, dari ekonomi, pendidikan, kekuatan militer, penerapan syariat dan lain sebagainya.

Hingga saat ini tak satupun negeri muslim  bangkit dari keterpurukan. Dari segi ekonomi yang dicengkeram kuat oleh para kapitalis, dengan kedok pinjaman modal, kerjasama perdagangan, dan dijualnya aset sumberdaya alam yang melimpah. Bank yang menjalankan pinjaman Ribawi merupakan nyawa dari cengkeraman ekonomi kapitalisme. Bunga yang semakin menumpuk ditambah denda yang besar mengakibatkan jatuhnya perekonomiannya negara.

Krisis kemanusiaan yang melanda negeri muslim dengan kedholiman membuat umat Islam tertindas sampai pada pembantaian tak berujung. Syuria, Irak, muslim Uighur cina,India, dan palestina yang Samapi detik ini masih dialaminya. Anak -anak, ibu yang sedang mengandung, orang tua yang tidak berdaya tidak luput dari agresi mereka. Teror ucapan hingga Bom selalu digencarkan. Begitu juga fitnah keji selalu menhantam kaum muslimin tiada henti. Setiap ada kasus kekerasan ujungnya tertuju kepada muslim. Kini, kaum muslimin ibarat makanan yang menjadi rebutan para pemuja nafsu dunia.

Begitu juga dalam birokrasi, dengan sekuat tenaga membuat makar dengan wasilah aturan yang mereka buat demi mengkriminalisasi ulama, para aktivis, dan ajarannya seperti jihad dan khilafah. Kaum muslimin tidak sedikitpun diberi ruang untuk mengkounter melalui birokrasi. Yang ada hanya bersabar dan tetap istiqamah menjalani perintah agama.

Mengingat Kebaikan akibat dari diterapkanya syariat secara kaffah dalam institusi negara dimasa lalu serta melihat kerusakan - kerusakan saat ini,  akibat tiadanya kepemimpinan dalam islam, menjadikan umat islam rindu atas kembalinya mahkota Islam tersebut. 

Apalagi jika sejarah peradaban Islam kita tapaki dan pelajari akan meyakinkan betapa pentingnya sebuah negara yang melindungi, mengayomi, dan mensejahterakan umat Islam dari kebencian para kafirun dan munafiqun. Karena memang benar bahwa sepanjang sejarahnya Daulah islam dapat mewujudkan Islam sebagai rahmatan Lil Al-Amin. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al anbiya ayat 107.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wa maaa arsalnaaka illaa rohmatal lil-'aalamiin

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Betapa indahnya hidup di bawah naungan Khilafah, yang menerapkan Islam secara kaffah. Yang  sesuai apa yang Allah SWT kehendaki, yaitu hidup penuh kebaikan dan kebarokahan untuk semua manusia. Bukan hidup yang penuh kerusakan dan penghambaan kepada hawa nafsunya. Serakah, saling gesekan, sombong, tidak peduli, dan merasa ingin berkuasa. Wallahua'lam bishowwab.[]


Oleh: M Azzam Al Fatih
Penulis dan Aktivis Dakwah



Posting Komentar

0 Komentar