TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Miras: Halal dalam Hukum Negara, Haram dalam Hukum Syariah



Polres Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, menetapkan dua orang pemuda yakni FE (20) dan RH (19) sebagai tersangka karena sengaja menyuruh anak di bawah umur berinisial RB (3) untuk minum minuman beralkohol hingga mabuk lalu direkam dan videonya viral di media sosial. (Republika.co.id, 25 Agustus 2020).

Dalam video yang viral itu, tampak seorang pria yang menuangkan miras ke dalam sebuah gelas plastik. Minuman dalam gelas itu kemudian disodori ke seorang bocah yang berada di dekatnya.

Akibatnya, bocah itu mematuhi perintah pria tersebut. Hampir sekitar tiga kali bocah itu meminum air berwarna merah yang diberikan oleh pelaku hingga akhirnya bocah itu sempoyongan dan sempat terjatuh.

Keduanya dijerat dengan Pasal 77b junto Pasal 76b dan Pasal 89 ayat 2 junto pasal 76j ayat 2 UU Perlindungan Anak serta Pasal 45 ayat 1 UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Mereka pun terancam hingga maksimal 10 tahun penjara. 

Sayangnya, tak ada satupun pasal yang menjerat mereka karena minum miras. Karena memang dalam sistem hukum demokrasi, tidak ada larangan minum miras. RUU Miras yang coba diajukan ke DPR pun berlarut-larut karena terbentur berbagai kepentingan.

Sebaliknya syariah memandang meminum miras adalah perbuatan dosa besar. Karena miras hukumnya haram. Dalam syariah baik peminum akan dicambuk sementara produsen dan penjualnya akan mendapatkan sanksi ta'zir yakni hukuman yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada Khalifah atau qadhi, sesuai ketentuan syariah. Tentu sanksi tersebut akan memberikan efek jera bagi para pelakunya.


Sistem hukum demokrasi melegalkan miras padahal Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Pancasila

Minuman keras atau miras biasa juga disebut dengan minuman beralkohol di zaman sekarang sudah hampir menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakat di Indonesia. Pengkonsumsi minuman beralkohol ini juga bukan hanya dari kalangan orang dewasa saja melainkan kalangan remaja hingga anak-anak pun tidak sedikit yang mengkonsumsi minuman ini.

Alkohol sendiri sebenarnya mempunyai jenis yang bermacam-macam, tetapi kebanyakan jenis alkohol yang dipergunakan untuk campuran makanan dan minuman menggunakan alkohol jenis etanol.

Manusia beranggapan bahwa minuman keras dapat memberikan kesegaran pikiran, namun dalam kenyataannya selalu berakhir dengan masalah-masalah yang dihadapi peminumnya. Biasanya peminum minuman keras atau alkoholik berusaha untuk menenggelamkan penderitaannya dengan harapan dapat menikmati surga imajinasinya. 

Beban yang dipikulnya akan terlupakan sejenak dalam masa singkat ketika ia sedang mabuk, namun dalam kenyataannya alkohol tidak mengurangi penderitaaan kehidupan, namun alkohol malah menambah kebangkrutan materi dan kebobrokan moral si peminum.

Dalam sistem demokrasi, tidak ada satupun aturan hukuman bagi yang minum miras. Hukuman berlaku hanya bagi penjual dan ketika si peminum mabuk dan merugikan hak orang lain.

Berikut ini aturan hukum mengenai minuman keras yang berlaku di negeri ini:

1. Kitab Undang - Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 300 tentang minuman memabukkan.

Pasal 300 ayat 1, berbunyi :

Dengan hukuman penjara selama - lamanya satu tahun atau denda sebanyak - banyaknya Rp 4.500, dihukum :

1e. Barangsiapa dengan sengaja menjual atau menyuruh minum minuman - minuman yang memabukkan kepada seseorang yang telah kelihatan nyata mabuk.

2e. Barangsiapa dengan sengaja membuat mabuk seseorang anak yang umurnya dibawah 16 tahun.

3e. Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan dengan sengaja memaksa orang akan minum minuman yang memabukkan.


Pasal 300 ayat 2, berbunyi :

Kalau perbuatan itu menyebabkan luka berat pada tubuh, sitersalah dihukum penjara selama - lamanya tujuh tahun.


Pasal 300 ayat 3, berbunyi :

Kalau perbuatan itu menyebabkan orang mati, sitersalah dihukum penjara selama - lamanya sembilan tahun.


Pasal 300 ayat 4, berbunyi :

Kalau sitersalah melakukan kejahatan itu dalam jabatannya ia dapat dipecat dari pekerjaannya itu.

2. Kitab Undang - Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 536 mengatur tentang mabuk di jalan umum.


Pasal 536 ayat 1, berbunyi :

Barangsiapa yang nyata mabuk ada dijalan umum, dihukum denda sebanyak - banyaknya Rp 225.


Pasal 536 ayat 2, berbunyi :

Jika pada waktu melakukan pelanggaran itu belum lalu satu tahun sejak ketetapan hukuman yang dahulu bagi sitersalah lantaran pelanggaran serupa itu juga atau pelanggaran yang diterangkan dalam pasal 492, maka hukuman denda itu dapat diganti dengan hukuman kurungan selama - lamanya tiga hari.

Pasal 536 ayat 3, berbunyi :

Kalau pelanggaran itu diulangi untuk kedua kalinya dalam satu tahun sesudah ketetapan putusan hukuman yang pertama karena ulangan pelanggaran itu, maka dijatuhkan hukuman kurungan selama - lamanya dua minggu.

Pasal 536 ayat 4, berbunyi :

Kalau pelanggaran itu diulanginya untuk ketiga kalinya atau selanjutnya didalam satu tahun sesudah ketetapan putusan hukuman yang kemudian sekali lantaran ulangan pelanggaran untuk kedua kalinya atau selanjutnya, maka dijatuhkan hukuman kurungan selama - lamanya tiga bulan.

Dari kedua pasal diatas, tidak atas satu pun ayat yang memberi sanksi pada peminum miras kecuali saat peminum mabuk kemudian mengganggu hak orang lain. Itupun sangat ringan bagi penjual hanya dikenai denda Rp 4.500 sedangkan yang mabuk di jalan hanya dikenai denda Rp. 225.

Tidak adanya sanksi yang menimbulkan efek jera ini, mengakibatkan peminum miras semakin banyak. Mereka mengajukan berbagai argumen untuk membenarkan tindakannya.

Berikut ini beberapa alasan kenapa orang-orang minum minuman keras:

1. Untuk Hiburan (rekreasional)

Sepertinya ini adalah alasan paling popular bagi anak muda terutama yang bergaya hidup urban. Di Indonesia usia legal mengkonsumsi miras adalah 21 tahun. Kaum muda yang meminum miras mengaku menjadi miras sebagai salah satu pelengkap hiburan ketika kongkow dengan kawan-kawan.

Bagi beberapa yang sudah dapat memahami cita rasa miras, rasa khas miras menjadi faktor yang paling diburu para pecinta minuman beralkohol ini. Biasanya mereka meminum dalam jumlah yang relatif kecil mengingat harganya yang mahal.

2. Untuk Relaksasi

Efek alami yang dirasakan tubuh ketika diasupi alkohol dalam jumlah yang normal adalah relaks. Oleh karena itu relaksasi menjadi salah satu alasan bagi para pecinta miras. Biasanya alasan ini dikemukan oleh para profesional yang mencari stress release setelah sibuk bekerja seharian. Hal ini dibenarkan oleh sekelompok dokter selama jumlah alkohol yang dikonsumsi masih dalam taraf wajar.

3. Untuk Sosialisasi

Tidak dapat dipungkiri bahwa gaya hidup kaum urban di Indonesia hari ini sudah semakin akrab dengan minuman beralkohol. Kaum sosialita biasanya menjadikan miras sebagai salah satu instrumen untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Selain kaum urban, banyak masyarakat tradisional di Indonesia yang menjadikan miras sebagai salah satu alat perekat kekerabatan. Maka tidak heran jika banyak yang menganggap bahwa meminum miras bersama-sama adalah salah satu media sosialisasi yang efektif.

4. Untuk Tradisi, Adat Istiadat, dan Upacara Keagamaan

Minuman beralkohol adalah media atau sarana melakukan ritual adat dan keagamaan. Oleh karena itu, banyak pecinta miras melestarikan tradisi minum dengan alasan melestarikan budaya. Dalam beberapa kebudayaan bahkan menggunakan miras untuk ritual keagamaan karena miras dianggap sebagai hal yang sakral.

Sampai sekarang tidak ada satu undang-undang pun yang menaungi peredaran Miras di Indonesia. Kebanyakan aturan-aturan miras sifatnya teknis yaitu hanya lewat peraturan menteri makanya jika ada pelanggaran biasanya tidak bisa dipidana karena sanksinya biasanya hanya administratif. 

Sementara Rancangan Undang Undang (RUU) Larangan Minuman Beralkohol (LMB) hingga saat ini belum juga disahkan menjadi UU oleh DPR. Bahkan diprediksi pembahasan RUU ini akan dihentikan karena tidak kunjung menemui titik temu. 

Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Miras (Genam) Fahira Idris mengungkapkan, alot dan berlarut-larutnya pembahasan RUU Larangan Minuman Beralkohol ini menandakan banyak kepentingan yang terlibat sehingga aturan ini tak kunjung selesai. 

Fahira juga menyesalkan begitu berlarut-larutnya pembahasan RUU LMB ini. Padahal di lapangan pelanggaran terkait miras dan tindakan kriminal yang dipicu miras di berbagai daerah di Indonesia sangat marak terjadi.

Salah satu persoalan utama maraknya pelanggaran miras saat ini adalah, ringannya sanksi hukum yang diterima pelanggar hukum terkait miras. Minimnya sosialisasi bahaya miras dan program rehabilitasi pecandu miras. Kondisi ini mengakibatkan tingkat konsumsi minuman beralkohol semakin tinggi. 


Dampak pelegalan miras dalam hukum demokrasi terhadap kualitas generasi bangsa yang memiliki karakter religius

Miras adalah minuman yang mengandung alkohol atau etanol. Pengaruh dari minuman keras ketika dikonsumsi biasanya menyerang kesadaran bagi siapa yang mengonsumsinya. Akibat utamanya yaitu rasa sakit kepala atau pusing di saat kadar alkohol sudah berlebihan dalam tubuh.

Sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, tentang bahaya dari minuman keras atau cairan beralkohol ini. Efek yang ditimbulkan salah satunya mengalami kecanduan yang luar biasa. Hal itu disebabkan karena minuman beralkohol ini mengandung zat aditif, layaknya seperti narkoba yang membuat kecanduan bagi siapa yang sering mengonsumsinya.

Pengaruh lain dari mengonsumsi minuman keras adalah banyaknya hal negatif yang terjadi pada seseorang, atau antar kelompok dalam lingkungan hidup bermasyarakat.

Selain berdampak negatif pada kesehatan, dampak buruk dalam kehidupan sehari-hari saat berinteraksi sosial. Biasanya didapati dari sebagian banyak momen pesta miras yang terjadi, ada sejumlah tindakan kriminal bermunculan karena disebabkan adanya pengaruh alkohol.

Pesta Minuman keras yang kerap diadakan dalam lingkungan masyarakat justru memberikan dampak pada kenyamanan dan ketentraman masyarakat. Saat dimana kecanduan minuman keras, seseorang biasanya melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat sekitar.

Dalam kondisi tidak terkontrol atau biasa disebut dalam keadaan mabuk, seringkali melakukan hal-hal yang diluar batas seperti melakukan tindakan pemerkosaan, perkelahian hingga terjadi pembunuhan. Baik sengaja atau direncanakan maupun secara tiba-tiba akibat kehilangan kesadaran setelah konsumsi cairan alkohol secara berlebihan.

Selain peristiwa balita yang dicekoki miras di Sulawesi, berikut ini peristiwa-peristiwa tragis yang disebabkan karena dampak buruk akibat mengonsumsi minuman keras.

1. Kakak Adik Meninggal setelah Konsumsi Miras Selama 2 Hari 

Kakak beradik tewas setelah konsumsi miras selama 2 hari tanpa berhenti. Kedua bersaudara itu melakukan pesta miras bersama beberapa rekan mereka.

Pihak kepolisian yang menyelidiki kejadian ini pun menyita barang bukti, puluhan botol miras dan minuman berenergi yang campuran miras. Dan juga sumber pasokan miras yang dikonsumsi kedua pria kakak beradik cs ini diamankan polisi.

Dikutip dari Surya Malang.com, Baharuddin (44) dan adiknya, Bactiar (36) tewas setelah pesta minuman keras (miras) selama dua hari di rumah kosong di Jalan Kelapa, Desa Baruga, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Kamis (6/6/2019).

Kasatreskrim Polres Luwu Timur, Iptu Akbar Andi Malloroang mengatakan ada tujuh orang yang ikut pesta miras itu. Tujuh orang itu pesta miras sejak Senin (03/06/2019) sampai Selasa (04/06/2019).

2. Polwan Disetubuhi Senior saat Dibuat Mabuk Miras

Mengutip dari Daily Mirror, Jumat (2/11/2018), berdasarkan keterangan korban, peristiwa tersebut terjadi Senin (29/10/2018). Saat itu dirinya sedang pingsan karena para pelaku memaksanya untuk minum-minum.

Saat itulah, para pelaku memanfaatkan kondisi korban dan memperkosanya. Peristiwa ini terjadi di Kota Ufa, Republik Bashkortostan, Rusia. Para pelaku yaitu Letkol Eduard Matveev (51) dan Letkol Salavat Galiyev (50) dan Kepala Departemen Migrasi Mayor Pavel Yaromchuk (34).

Peristiwa pemerkosaan tersebut diduga terjadi di kantor Kementerian Dalam Negerti setempat yang membawahi kepolisian. Kasus pemerkosaan tersebut diduga telah memicu skandal besar sehingga tim penyidik senior pun dikirim dari Moskow ke Ufa untuk melakukan penyelidikan.

3. Pria Tikam Pacar saat 'Ngemiras' Bersama

Dikutip dari Tribun Manado, peristiwa penikaman terhadap seorang gadis cantik di Manado berinisial EPK (17) Warga Kecamatan Bunaken, Kota Manado sempat menyita perhatian publik. EKP ditikam oleh pacarnya KP (18), warga Kecamatan Bunaken Kota Manado. 

Kejadian berawal saat korban, terduga dan teman wanita korban dengan pesta miras bersama di rumah tersangka. Saat itu teman korban berinisial Desi, mengajak korban bekerja ke luar daerah.

Setelah adu mulut, tersangka menuju dapur untuk mengambil pisau dan hendak menikam teman korban. Korban pun mencoba melindungi temannnya. Namun kena tikam di punggung sebelah kiri.

4. Pria Ditikam karena Tak Mau saat Diajak Pesta Miras

Seperti dikutip dalam Tribun Manado, Subhan (30), warga Tatah Belayung, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan tewas dibunuh Yandi (30), temannya sendiri. Yandi membunuh Subhan pada di Jalan RK Ilir RT07 Kelurahan Kelayan Selatan, Kecamatan Banjarmasin, Sabtu (16/3/2019) malam, sekitar pukul 23.50 Wita

Dua jam setelah membunuh Subhan, Yandi dibekuk di rumahnya, kawasan Jalan RK Ilir Banjarmasin Selatan. Kapoksekta Banjarmasin Selatan, Kompol Najamuddin Bustari mengatakan, motif Yandi membunuh Subhan karena sakit hati atau tersinggung.

Yandi tak terima karena ajakan pesta mirasnya ditolak oleh korban. Awalnya keduanya sedang minum-minuman keras kemudian korban juga sudah beberapa kali minum demi menghargai pelaku.

Namun ketika kembali diajak menenggak miras oplosan lagi, korban menolak. Atas tolakan itu diperkirakan pelaku tersinggung dan langsung menusuk korban sebanyak dua kali menggunakan senjata tajam.

5. Pemuda Diciduk 'Tim Paniki' saat Pesta Miras

Mengutip dari arsip Tribun Manado, Untuk mengantisipasi terjadi kerawanan kriminalitas di kota Manado, Tim Paniki Polresta Manado terus meningkatkan kewaspadaan.

Hal ini terbukti dengan hasil patroli yang digelar oleh Tim Paniki, berhasil mengamankan sejumlah anak muda yang sedang pesta miras.

Kelima pemuda tersebut Rs (20), warga Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala, ME (25), warga Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala, RS (23), warga Kecamatan Tikala. RA (20), warga Banjer Kecamatan Tikala, dan SS (23), warga Kota Bitung. Kelimanya diamankan saat sedang miras di Kelurahan Banjer, Selasa (4/9/2018).

Awalnya tim mendapatkan info bila di salah satu kelurahan di Kecamatan Tikala sedang terjadi pesta miras. Tim langsung menuju ke lokasi dan mengamankan kelima pemuda.

Anggota yang ada kemudian menggiring para pemuda ini ke Mapolresta Manado untuk diberikan pembinaan dan pengambilan data.

Kapolresta Manado Kombes Pol FX Surya Kumara ketika dikonfirmasi melalui kasubag Humas AKP Roly Sahelangi mengatakan sudah memiliki data dari kelima pemuda. Jajarannya menemukan barang bukti 1 botol miras jenis captikus yang sudah dicampur. Selanjutnya mereka akan diberikan pembinaan, dan sudah didata pula.

Dampak buruk dari miras ini akan terus ada selama sistem hukum yang ada di negeri ini adalah sistem demokrasi kapitalis. Hukum yang berlaku di negeri ini tidak menerapkan sanksi tegas dan tidak menimbulkan efek jera bagi pelakunya. Disamping itu juga sistem demokrasi kapitalis menjadikan keuntungan materi sehingga menjadi faktor penghambat dalam memberantas miras di negeri ini.

Penyebaran miras, meskipun sudah diperketat dari segi izin administrasi, ternyata tidak dapat menutup pintu gerbang bagi pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan semata dari perdagangan minuman keras. Banyak kecurangan yang dilakukan pihak-pihak tertentu untuk menghindari rumitnya izin administrasi seperti dengan cara menjual miras ilegal, menjual miras oplosan, bahkan menjual belikan minuman beralkohol tanpa memperhatikan batasan umur pembelinya.

Hal ini tentu saja akan berujung pada masalah sosial yang muncul di masyarakat. Dilansir dari detik.com (20/12/2019), Kapolresta Depok AKBP Azis Andriansyah menyebut minuman keras dan narkoba berpotensi menimbulkan gangguan kamtibmas. Berdasarkan catatannya, sekitar 30 persen kejahatan yang terjadi di Depok timbul akibat pengaruh minuman keras dan narkoba. Itu baru satu kota, bagaimana dengan kota lain di Indonesia. 

Oleh karena faktor penyebaran minuman keras ini tidak lepas dari para individu yang ada di masyarakat, disinilah negara wajib hadir, sesuai dengan amanat konstitusi UUD 1945 dimana negara harus melindungi segenap tumpah darah bangsa Indonesia. Negara tidak dapat lagi menutup mata atas apa yang dihasilkan dari pergerakan minuman beralkohol yang tidak dikehendaki ini baik oleh masyarakat ataupun hukum yang berlaku.


Strategi syariat Islam dalam mengatasi maraknya miras sehingga dapat menciptakan generasi yang bermartabat dalam iman dan taqwa

Menurut Muhammad Ali As-Shabuni  dalam At Tibyan fi ‘Ulumil Quran, Allah Swt  tidak mengharamkan khamar secara sekaligus. Namun pengharaman ini berlangsung secara tadarruj (bertahap). Ada empat tahapan ayat-ayat yang Allah turunkan terkait dengan pengharaman khamar ini.

Ayat pertama, firman Allah, “Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.” (Q.S. An Nahl : 67). 

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan nikmatnya kepada manusia melalui dua pohon; kurma dan anggur. Namun ada manusia yang menjadikan buahnya untuk sesuatu yang buruk, yaitu membuat minuman yang memabukan. Dan ada yang menjadikannya wasilah mendapat rezeki yang baik. Bagi orang yang berakal yang melihat ayat (tanda kebesaran Allah) tentu akan menghindari tipe pertama.

Kemudian turun ayat kedua, “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al Baqarah : 219) 

Ayat ini jelas menyebutkan adanya unsur dosa dalam khamar. Walaupun ayat ini belum menegaskan keharamannya. Namun bagi orang yang menjaga kesucian diri, tentunya akan memilih menghindari setiap perbuatan yang menyeretnya pada lembah dosa.

Ayat yang ketiga QS. An Nisa : 43, “Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai sadar apa yang kamu katakan…” Ayat ini mengharamkan khamar pada sebagian waktu saja, yaitu pada waktu-waktu shalat. Namun demikian, bagi orang yang menjaga shalatnya tentu sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai menyia-nyiakan waktu bersama barang haram ini.

Adapun ayat keempat yang merupakan tahap pengharaman secara mutlak yaitu; QS. Al Maidah : 90. “Wahai orang-orang yang beriman ! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” 

Ketika ayat ini turun, sontak Madinah saat itu banjir khamar, karena kaum muslimin bergegas memenuhi seruan Ilahi ini dengan membuang semua persediaan khamar yang ada. Sebuah keta’atan yang tidak akan terjadi pada undang-undang dan peraturan manapun di dunia ini. Sebab undang-undang Allah direspon dan dicerna dengan aqidah dan keimanan.   

Dari tahapan-tahapan ayat pengharaman khamar ini, kita bisa mempelajari kiat dan cara menjauhi miras dan sejenisnya. Pertama dengan meningkatkan keimanan melalui pembacaan ayat-ayat Allah. 

Kedua, selalu berusaha menghindari perbuatan-perbuatan dosa. Sebab dosa ibarat siklus; yang satu dan lainnya saling terkait dan terhubung, satu dosa akan menghadirkan dosa lainnya, dan begitu seterusnya.

Ketiga membentengi diri dengan shalat, sebab shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Keempat, berlindung diri dari godaan setan dan menjauhi tipu dayanya. 

Rasul saw. juga menjelaskan bahwa semua minuman (cairan) yang memabukkan adalah khamr dan khamr itu haram baik sedikit maupun banyak:

«كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ»

Semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram (HR Muslim).

«مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ، فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ»

Apa saja (minuman/cairan) yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya adalah haram (HR Ahmad dan Ashhâb as-Sunan).

Karena itu khamr harus dibabat habis dari masyarakat. Hal itu bisa dipahami dari laknat Rasulullah saw. terhadap 10 pihak terkait khamar:

«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي الخَمْرِ عَشَرَةً: عَاصِرَهَا، وَمُعْتَصِرَهَا، وَشَارِبَهَا، وَحَامِلَهَا، وَالمحْمُولَةُ إِلَيْهِ، وَسَاقِيَهَا، وَبَائِعَهَا، وَآكِلَ ثَمَنِهَا، وَالمشْتَرِي لَهَا، وَالمشْتَرَاةُ لَهُ»

Rasulullah saw. telah melaknat dalam hal khamr sepuluh pihak: pemerasnya, yang minta diperaskan, peminumnya, pembawanya, yang minta dibawakan, penuangnya, penjualnya, pemakan harganya, pembelinya dan yang minta dibelikan (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Hadits ini sekaligus juga menunjukkan bahwa kesepuluh pihak itu telah melakukan tindak kriminal dan layak dijatuhi sanksi sesuai ketentuan syariah. Peminum khamr, sedikit atau banyak, jika terbukti di pengadilan, akan dihukum cambuk sebanyak 40 atau 80 kali. Anas ra. menuturkan:

«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَضْرِبُ فِي الخَمْرِ باِلجَرِيْدِ وَالنَّعَالِ أَرْبَعِيْنَ»

Nabi Muhammad saw. pernah mencambuk peminum khamar dengan pelepah kurma dan terompah sebanyak empat puluh kali (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Ali bin Abi Thalib ra. juga menuturkan:

«جَلَّدَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَرْبَعِيْنَ، وَأبُو بَكْرٍ أَرْبَعِيْنَ، وعُمَرُ ثَمَانِيْنَ، وَكُلٌّ سُنَّةٌ، وهَذَا أحَبُّ إِليَّ»

Rasulullah saw. pernah mencambuk (peminum khamar) 40 kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunnah. Ini adalah yang lebih aku sukai (HR Muslim).

Adapun pihak selain peminum khamr dikenai sanksi ta’zîr, yakni hukuman yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada Khalifah atau qâdhi, sesuai ketentuan syariah. Tentu sanksi itu harus memberikan efek jera. Produsen dan pengedar khamr selayaknya dijatuhi sanksi yang lebih keras dari peminumnya karena keberadaan mereka lebih besar dan lebih luas bahayanya bagi masyarakat.

Dengan syariah seperti itu, masyarakat akan bisa diselamatkan dari ancaman yang timbul akibat khamr atau miras. Semua itu hanya akan terwujud jika syariah diterapkan secara menyeluruh. Hal itu hanya bisa diwujudkan di dalam sistem Khilafah Rasyidah, sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi saw., serta dipraktikkan oleh para sahabat dan generasi kaum Muslim setelah mereka. 


Berdasarkan uraian dari pembahasan di atas, berikut ada beberapa kesimpulan, yaitu:

Pertama. Sistem hukum demokrasi melegalkan miras padahal Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Pancasila. Sampai sekarang tidak ada satu undang-undang yang menaungi peredaran Miras di Indonesia. Maraknya pelanggaran miras saat ini disebabkan karena ringannya sanksi hukum yang diterima pelanggar hukum terkait miras, minimnya sosialisasi bahaya miras dan program rehabilitasi pecandu miras. Kondisi ini mengakibatkan tingkat konsumsi minuman beralkohol semakin tinggi. 

Kedua. Dampak pelegalan miras dalam hukum demokrasi terhadap kualitas generasi bangsa yang memiliki karakter religius antara lain berpengaruh negatif bagi kesehatannya seperti mengganggu tingkat kesadarannya, menimbulkan rasa sakit kepala, dan menyebabkan kecanduan. Selain itu juga berdampak buruk saat berinteraksi sosial seperti munculnya tindakan kriminal akibat pesta miras. Dalam kondisi mabuk, seringkali melakukan hal-hal yang diluar batas seperti melakukan tindakan pemerkosaan, perkelahian hingga terjadi pembunuhan. 

Ketiga. Strategi syariat Islam dalam mengatasi maraknya miras sehingga dapat menciptakan generasi yang bermartabat dalam iman dan taqwa antara lain mengharamkan miras dan menjauhinya dengan cara meningkatkan keimanan melalui pembacaan ayat-ayat Allah, selalu berusaha menghindari perbuatan-perbuatan dosa, membentengi diri dengan shalat dan berlindung diri dari godaan setan dan menjauhi tipu dayanya.

Selain itu negara menjatuhkan sanksi sesuai ketentuan syariah bagi peminum khamr, sedikit atau banyak, jika terbukti di pengadilan, akan dihukum cambuk sebanyak 40 atau 80 kali. Adapun produsen dan pengedar khamr dikenai sanksi ta’zîr, yakni hukuman yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada Khalifah atau qâdhi, sesuai ketentuan syariah. 

Semua itu hanya akan terwujud jika syariah diterapkan secara menyeluruh. Hal itu hanya bisa diwujudkan di dalam sistem Khilafah Rasyidah.[]


Oleh: Achmad Mu'it
Dosen Online UNIOL 4.0 Diponorogo

Referensi

1. Panji Setiawan, "Ini Alasan Orang Minum Minuman Beralkohol," 2016.

2.https://manado.tribunnews.com/amp/2019/06/08/terpopuler-sekumpulan-kejadian-tragis-akibat-miras-mabuk-habisi-pacar-hingga-diciduk-tim-paniki

3. Buletin Kaffah, "Melegalkan Khamr, Mengundang Dharar," 2018

4. Imanuddin Kamil Lc. , "Beginilah Cara Alquran Memberangus Miras," 2013.


Posting Komentar

0 Komentar