TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Merdeka, Menderita dalam Dekapan Kapitalisme


17 Agustus tahun ‘45...
Itulah hari kemerdekaan kita…
Hari merdeka, nusa dan bangsa…
Hari lahirnya bangsa Indonesia…
Mer… De… Ka…

Begitulah penggalan lirik lagu Hari Merdeka ciptaan H. Mutahar yang dirilis pada tahun 1946. 

75 tahun yang lalu, Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Di tengah kekosongan kekuasaan yang disebabkan oleh mundurnya tentara Jepang yang terpaksa kembali ke negara mereka akibat peristiwa pemboman di Nagasaki dan Hiroshima, Indonesia dengan segera menyatakan kemerdekaan negaranya tepat pada 17 Agustus 1945 atas desakan golongan muda.

Sejak saat itu, setiap tanggal 17 Agustus, setiap warga negara Indonesia merayakan hari kemerdekaan mereka. Hari dimana para penjajah tidak lagi menjajah mereka. Hari dimana tidak ada lagi kerja paksa rodi dan romusha bagi rakyat Indonesia. Hari dimana Indonesia menjadi negara yang tidak lagi dikuasai oleh para penjajah.

75 tahun telah berlalu, benarkah Indonesia sudah merasakan kemerdekaan sejati? Sudahkah Indonesia terbebas dari penguasaan negera-negara luar?

Secara de jure (hukum) memang Indonesia telah merdeka. Indonesia diakui kemerdekaannya oleh negara-negara lain. Hubungan dagang, ekonomi, dan diplomatik Indonesia juga telah diakui bangsa-bangsa lain. Bahkan pemerintahannya diakui stabil oleh negara lain. Tetapi bagaimana dengan de facto (fakta) di lapangan? 

Nyatanya, kemerdekaan yang digaungkan 75 tahun yang lalu hanyalah kesemuan belaka. Indonesia diakui kemerdekaannya secara de jure, tetapi fakta di lapangan atau praktiknya sama sekali tidak mencerminkan kemerdekaan yang sebenarnya. Indonesia terbebas dan merdeka secara fisik, faktanya memang seperti itu. Akan tetapi, sudahkah Indonesia telah merdeka dari pemikiran asing penjajah? Sudahkah bumi pertiwi benar-benar terlepas dari belenggu kekuasaan negara-negara lain? Sudahkah?

Melihat bagaimana kondisi dan situasi Indonesia, tentu tidak dapat dikatakan bahwa Indonesia telah merdeka. Berbagai ketimpangan dan kecacatan dalam segala bidang tidak dapat dihindari oleh bangsa ini.

Secara ekonomi, pada kenyataannya rakyat Indonesia belum merdeka. Ekonomi mereka tercekik. Terjun bebas tidak terarah. Terutama di kondisi pandemi seperti sekarang ini. Menurut katadata.co.id, 16 Juli 2020 lalu, jumlah penduduk miskin Indonesia per Maret 2020 sebanyak 26,42 juta jiwa atau sebesar 9,78%. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 9,41% atau 25,14 juta penduduk. Persentase penduduk miskin terbesar terdapat di Maluku dan Papua, yaitu 20,34%. Sementara persentase terendah terdapat di Kalimantan sebanyak 5,81%.

Badan Pusat Statistik menyebutkan, kenaikan angka kemiskinan dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 yang memukul perekonomian Indonesia. Dampaknya dirasakan oleh 12,15 juta penduduk hampir miskin yang bekerja di sektor informal. Kelompok ini merupakan yang rentan terhadap kemiskinan dan terdampak Covid-19.

Adapun dalam bidang kesehatan, skor rata-rata indeks ketahanan kesehatan global sebesar 40,2 poin. Indeks ketahanan kesehatan global Thailand menjadi juara di Asia Tenggara. Negeri Gajah Putih itu mengumpulkan 73,2 poin dari skala 0 hingga 100. Thailand menempati posisi keenam dunia. Sedangkan Indonesia berada di posisi keempat Asia Tenggara atau peringkat 30 dunia. Bumi pertiwi mengantongi 56,6 poin. Indeks ketahanan kesehatan global Indonesia didongkrak dari kategori deteksi dan pelaporan, serta pemenuhan terhadap standar internasional.

Penelitian indeks ketahanan kesehatan global mencakup 195 negara. Penilaiannya berdasarkan enam kategori, yakni pencegahan, deteksi dan pelaporan, kecepatan merespons, sistem kesehatan, pemenuhan terhadap standar internasional, dan risiko lingkungan. (Dilansir oleh katadata.co.id, 29 Januari 2020)

Data-data di atas merupakan data yang nampak dari permukaan. Belum diketahui secara pasti tentunya ada berapa banyak data-data yang belum terinput yang berada di bawah permukaan. Karena pada faktanya, pendataan secara komprehensif dalam segala bidang belum seutuhnya dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

Fakta-fakta di atas hanyalah contoh kecil gambaran kondisi dan situasi Indonesia saat ini. Permasalahan pendidikan, keamanan, kesejahteraan, kebudayaan, politik, keadilan, dan sebagainya belum dibahas, tetapi melihat fakta di lapangan pasti sudah dapat terindera bagaimana kondisinya. Ketimpangan, kecacatan, dan kerusakanlah yang nyata terjadi.

Berbagai ketidaksempurnaan dan kecacatan pengaturan serta pengontrolan dalam segala bidang merupakan buah dari tidak merdekanya Indonesia dari sistem buatan para penjajah. Kapitalisme, sebuah sistem yang berasaskan materi, merupakan sistem yang dibuat dan digaungkan oleh orang-orang Barat untuk menggantikan sistem sempurna, yakni sistem Islam.

Runtuhnya Daulah Khilafah pada 1924 menyebabkan berbagai malapetaka bagi dunia. Negara-negara yang dahulu merdeka dan sejahtera di bawah naungan Khilafah berubah drastis menjadi negara-negara cengkraman orang-orang Barat. Setelah sistem Islam berhasil dilumpuhkan, mereka membuat sistem baru untuk mengatur tatanan kehidupan dunia. 

Kapitalisme, liberalisme, sekularisme, neoliberalisme, dan berbagai isme-isme lainnya mulai lahir satu per satu setelah keruntuhan Khilafah Islammiyyah. Dimana semua sistem tersebut telah cacat sejak lahir, dan hanya akan menimbulkan kecacatan dan kerusakan apabila diterapkan.

Kapitalisme, yang kini menjadi sistem yang mengatur tatanan kehidupan dunia, tak terkecuali Indonesia, berhasil merenggut kemerdekaan sejati milik umat manusia. Segala bidang kehidupan dikontrol dan diatur berdasarkan asas materi. Bertujuan untuk mendapatkan materi, yang akan masuk ke kantong-kantong para pemilik modal. Sedangkan rakyat kecil akan terus diabaikan dan ditelantarkan layaknya anak ayam kehilangan induknya. Terombang-ambing dalam badai kemiskinan, stunting dan masalah kesehatan, kebodohan akibat mahalnya pendidikan, serta ketidakadilan hidup yang senantiasa mengikuti.

Kemerdekaan terus diteriakkan, sedang di waktu yang sama penderitaan terus mendekap rakyat Indonesia. Teriakan penderitaan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup bangsa ini tak pernah terdengar sedikit pun. Negara ini telah buta dan tuli akan permasalahan-permasalahan rakyat. Pemerintah yang dipercaya rakyat hanya mendengar suara mereka pada waktu-waktu menginginkan kepentingan yang ingin dicapai saja. Setelah kepentingan mereka terpenuhi, suara rakyat hanyalah angin lalu. Tidak penting dan tidak perlu diperhatikan.

Inikah yang dinamakan merdeka? Suara penderitaan rakyat yang terus dibungkam, kebobrokan pengaturan dalam segala bidang, serta dikendalikannya tanah air tercinta oleh orang-orang asing penjajah. Benarkah ini yang disebut merdeka? Menderita dalam dekapan kapitalisme?

Bukankah kemerdekaan sejati adalah merdeka dan bebas dari penghambaan kepada selain Allah? Terbebas dari perbudakan sistem selain sistem yang datang dari-Nya. Serta merdeka dan sejahtera ketika hidup hanya pada sistem Islam paripurna, bukan yang lainnya.

Lantas, masihkah dengan gagah berani berteriak merdeka, padahal kenyataannya jiwa dan pikiran tengah dijajah oleh para penjajah?.[]

Oleh: Azizah Nur Hidayah
(Homeschooler, Aktivis Dakwah, dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Posting Komentar

0 Komentar