TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menolak Keterkaitan Nusantara dengan Khilafah, Salah Asuhan Rupanya?



Sebelum Islam masuk ke Nusantara, agama Hindu dan Budha lebih dulu datang. Hingga berkembang dan muncul banyak kerajaan bercorak Hindu dan Budha di Nusantara.

Ketika Islam sebagai agama yang menjelma menjadi sebuah peradaban yang gemilang di Timur Tengah. Akhirnya peradaban Islam terkenal sejagad raya termasuk ke wilayah Nusantara.

Dalam banyak buku sejarah disebutkan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke 11 M atau 12 M. Namun banyak yang menyangkal hal tersebut. Karena pada tahun-tahun tersebut Islam sudah berkembang menjadi kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.

Keberhasilan umat Islam melakukan futuhat terhadap kerajaan Persia dan menduduki sebagian besar wilayah Romawi Timur, seperti Mesir, Siria, dan Palestina pada masa Khalifah Umar Bin Khattab telah menempatkan Daulah Islamiyah sebagai super power dunia sejak abad ke_7 M. Ketika kekhilafahan Bani Umayyah (660-749), penguasa di Nusantara mengakui kebesaran Khalifah.

Hal tersebut terbukti adanya dua pucuk surat. Surat pertama di kirim oleh maharaja Sriwijaya pada masa Khalifah Bani Ummayyah . Pendahuluan surat tersebut sebagai berikut:

"Dari raja Al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah..."   (Sumber: Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad ke XVII dan XVIII, edisi revisi hal 27-28)

Adapun surat yang kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (860-940M) dalam karyanya Al-Iqd Al-Farid. Potongan surat tersebut intinya Maharaja ingin belajar Islam dan minta dikirimkan da'i yang bisa mengajarkan hukum Islam. Teksnya sebagai berikut:

"Dari raja Diraja...; Yang adalah keturunan seribu raja....kepada raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan Tuhan-Tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan; dan saya ingin mengirimkan kepada saya seorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukum nya."

(Sumber: Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad ke XVII dan XVIII, edisi revisi hal 27-28)

Berdasarkan catatan sejarah tersebut kuat dugaan bahwa Islam mulai masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M secara damai. Kemudian Islam menyebar dan menggantikan posisi agama Hindu Budha di Nusantara. Lalu muncullah kerajaan Islam pertama yaitu Kerajaan Samudra Pasai di Aceh. Di ikuti Kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Sumatra, Jawa, Sulawesi, Maluku dan sebagainya.

Namun, Seiring dengan upaya Portugis menguasai daerah jajahan baru di dunia. Maka penjelajahan Portugis pun sampai ke selat Malaka. Dengan semangat gold gospel dan glory Penjajah mulai membuat ulah di Malaka.

Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh akhirnya mengirim surat  meminta bantuan kepada Khilafah Turki Utsmani. Seorang sejarawan bernama Farooqi menemukan sebuah Arsip Utsmani yang berisi sebuah petisi dari Sultan Alaudin Ri'ayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qonuni yang dibawa Huseyn Effendi. Dalam surat tersebut, Aceh mengakui penguasa Utsmani sebagai Khalifah Islam.

Selain itu, surat ini juga berisi laporan tentang aktivitas militer Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap para pedagang muslim dan jama'ah haji dalam perjalanan ke Mekkah. Karena itu bantuan Utsmani sangat mendesak untuk menyelamatkan kaum muslim yang terus dibantai Farangi(Portugis) kafir. (Farooqi, "Protecting the Routhers to Mecca", hal 215. Ibid hal 44)

Dengan demikian nampak jelas hubungan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara dengan Khilafah Islamiyah.

Berkat jasa-jasa para ulama yang dikirim Khalifah ke Nusantara kita menjadi muslim yang bertakwa. Jadi, jika ada pihak yang masih enggan menerima sejarah Islam dan jejak Khilafah Di Nusantara tentu sangat disayangkan.

Penolakan atas kebenaran sejarah Khilafah adalah bentuk ketidakpahaman umat bahwa telah lama bangsa ini dalam asuhan khilafah. Hingga kaum kafir menghancurkannya pada 1924 M silam. Sehingga umat Islam seperti anak ayam kehilangan induknya. Kemudian di asuh oleh induk lain yang hanya berniat mengeksploitasi saja.

Sehingga ketika ada yang menunjukkan jati diri umat ini sebenarnya, dengan menayangkan sebuah film dokumenter sejarah khilafah di nusantara malah ditolak mentah-mentah. Entah mungkin karena telah lama diasuh oleh peradaban barat dengan segala nilai-nilai kufurnya. Sehingga tidak mau kembali kepada pangkuan ibu kandungnya. Padahal peradaban Barat adalah pengasuh yang sesat dan penuh tipu daya. Wallahu a'lam bi ash-showab.[]

Oleh: Najah Ummu Salamah

Posting Komentar

0 Komentar