TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menjaga Kepercayaan Publik, Kebakaran Harus Diusut



Kejaksaan Agung (disingkat Kejakgung atau Kejagung) adalah lembaga kejaksaan yang berkedudukan di ibu kota negara Indonesia dan daerah hukumnya meliputi wilayah kekuasaan negara Indonesia. Adapun tugas dari Kejagung adalah melaksanakan tugas dan wewenang serta fungsi Kejaksaan di daerah hukum Kejaksaan Tinggi yang bersangkutan sesuai dengan peraturan perundangan-undangan  dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Jaksa serta tugas-tugas lain yang ditetapkan oleh Jaksa Agung.

Salah satu fungsi dari Kejakgung adalah melaksanaan  penegakan  hukum baik  preventif  maupun yang berintikan keadilan di bidang pidana. Melihat fungsi dan tugasnya yang amat besar, sangat disayangkan jika gedung Kejagung ini bisa terjadi kebakaran besar. Sudah dapat dipastikan arsip-arsip penting yang ada dalam gedung Kejagung pun ikut terbakar, mengingat kobaran api yabg sangat besar.

Berkaitan dengan hal ini, anggota komisi III DPR Aboe Bakar Alhabsyi mengomentari terkait spekulasi penyebab kebakaran gedung Jaksa Agung pada Sabtu (22/8) malam. Aboe meminta, Kejaksaan Agung (Kejakgung) untuk melakukan investigasi mendalam untuk mencari tahu penyebab kebakaran gedung Kejakgung, Jakarta. 

"Kejaksaan perlu juga melakukan investigasi mendalam, untuk mengetahui penyebab kebakaran. Apa memang saat itu tidak ada petugas piket yang bisa memadamkan api dan mencegah membesarnya api. Atau memang gedung Kejaksaan Agung tidak memiliki alat pemadam kebakaran, sehingga api tidak tertangani," kata Aboe dalam keterangan tertulisnya kepada Republika, Ahad (23/8).

Oleh karena itu, Kejaksaan Agung juga diharapkan menjelaskan kepada publik terkait peristiwa tersebut. Mengingat, Kejaksaan Agung saat ini, tengah menangani perkara yang mendapatkan atensi publik, seperti kasus Djoko Tjandra dan Jiwasraya.

"Hasil investigasi ini sangat diperlukan untuk mencegah spekulasi dan menjaga kepercayaan publik terhadap kejaksaan agung," jelasnya. 

Peristiwa kebakaran di Kejakgung ini kadung menimbulkan spekulasi panas dan opini liar di masyarakat. Beberapa kasus besar yang tengah ditangani oleh Kejakgung otomatis mandeg karena peristiwa kebakaran ini. Terlepas dari dugaan apakah kejadian tersebut murni karena kelalaian atau memang direncanakan oleh oknum tertentu.

Namun, hal ini menunjukkan kesalahan fatal sistem keselamatan gedung, yang setidaknya memiliki dua faktor utama yaitu kelaikan administrasi dan kelalaian teknis. Harusnya peristiwa kebakaran ini dapat dicegah atau setidaknya tidak menimbulkan dampak kebakaran parah jika sistem keselamatan gedung berfungsi dengan baik.

Persyaratan keselamatan dalam hal ini meliputi kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan serta kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya seperti kebakaran maupun petir.

Beberapa contoh kasus kebakaran yang menimpa bangunan gedung bisa disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya akibat hubungan arus pendek, ledakan gas, sambaran petir, dan lainnya. Untuk itu, setiap bangunan gedung kecuali rumah tinggal tunggal dan rumah deret sederhana harus dilengkapi sistem proteksi kebakaran pasif dan proteksi aktif.

Sistem proteksi kebakaran aktif adalah sistem proteksi kebakaran yang secara lengkap terdiri atas sistem pendeteksian kebakaran baik manual ataupun otomatis, sistem pemadam kebakaran berbasis air seperti sprinkler, pipa tegak dan selang kebakaran, serta sistem pemadam kebakaran berbasis bahan kimia seperti APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan pemadam khusus.

Sementara yang dimaksud dengan sistem proteksi kebakaran pasif adalah sistem proteksi kebakaran yang terbentuk atau terbangun melalui pengaturan penggunaan bahan dan komponen struktur bangunan, kompartemenenisasi atau pemisahan bangunan berdasarkan tingkat ketahanan terhadap api, serta perlindungan terhadap bukaan.

Bila gedung Kejakgung sudah memenuhi persyaratan keselamatan , maka seharusnya kebakaran besar ini tidak terjadi. Adapun spekulasi bahwa kebakaran ini disengaja oleh pihak-pihak yang berkepentingan maka hal ini memang bukan hal yang aneh. Mengingat bahwa para petinggi yang tersandung kasus pidana khususnya, akan melakukan berbagai cara agar kasusnya tidak terungkap atau karena hal tersebut akan menyeret nama para petinggi lain yang terlibat.

Perilaku ini tidak lepas dari asas berfikir yang keliru dan penerapan sistem kehidupan yang keliru pula. Sifat keserakahan dan menghalalkan segala cara akan tetap eksis selama sistem kapitalisme masih diadopsi negeri ini. Karena asas dari sistem kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan membuat manusia hidup dalam kesewenang-wenangan.

Hanya sistem Islam yang membuat manusia menjadi manusia seutuhnya, yang hidup berdasarkan fitrahnya sebagai manusia yaitu manusia yang tunduk dan patuh pada aturan dan hukum dari Sang Maha Pencipta. Barulah keadilan, keamanan, dan ketentraman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat diraih. Wallahua'lam.[]

Oleh: Lilis Suryani

Posting Komentar

0 Komentar