Menjadikan Rakyat Pangsa Pasar Dunia Kesehatan, Manusiawi kah?



Dampak Pandemi cukup menggoyang sendi-sendi  kehidupan masyarakat. Dunia ekonomi dan investasi mengalami kemunduran yang tajam. Salah satu langkah yang diambil pemerintah untuk menggenjot aspek ini pemerintah akan membangun dah sakit internasional dan mempermudah dokter spesialis asing masuk ke Indonesia. 

Luhut mengatakan kemungkinan akan bekerjasama dengan rumah sakit di negara lain yang punya reputasi bagus semisal. RS. Internasional Mayo (Clinik). 

Yang cukup menggelitik adalah pernyataan Luhut selalu menkomarves, "masa pandemi ini, orang-orang yang tak bisa bepergian ke luar negeri merupakan potensi pasar bagi dunia kesehatan. (CNNIndonesia, 13/8/2020)

Dari rencana kebijakan yang diambil pemerintah melalui Kementerian Bidang kemaritiman dan investasi tersebut ada beberapa catatan penting. Diantaranya:

Pertama: Kebijakan masih berorientasi pada kepentingan bisnis

Dari pernyataan tersebut jelas bahwa muara kebijakan pembangunan rumah sakit bukanlah untuk mempermudah layanan masyarakat di bidang kesehatan. Tapi mengambil peluang pasar bagi masyarakat yang tidak bisa berobat ke luar negeri di masa Pandemi. 

Bisa diprediksi jika orientasinya bisnis maka kebijakan yang diambil kemanfaatan utama hanya pada para investor atau segelintir orang yang mengelola rumah sakit tersebut. Sedang rakyat hanya sebagai objek pasar untuk kepentingan bisnis segelintir kapital di dunia bisnis kesehatan.

Kedua: Kebijakan dalam Bayang-bayang Asing

Upaya untuk menggandeng rumah sakit asing yang memiliki reputasi bagus, di satu sisi serasa berpeluang untuk mempermudah bagi Indonesia untuk menggali dan memaksimalkan fungsi rumah sakit internasional yang akan dibangun. Namun, di sisi lain peluang bagi asing untuk mengambil keuntungan atas. Indonesia cukup tinggi. 

Terlebih pelibatan dokter asing ke Indonesia, juga akan mengurangi potensi peluang kerja dalam negeri. Jika potensi pihak medis Indonesia masih bisa kenapa tidak mengoptimalkan peran anak negeri. Sebelum mendatangkan  dokter asing. 

Berangkat dari pengalaman kerjasama tenaga dari luar negeri. Justru  peluang gaji besar masuk ke tenaga kerja asing . Sedang pekerja dalam negeri mendapatkan upah yang jauh lebih kecil. Ini akan membukakan kesenjangan gaji antara orang asing dan pribumi.

Ketiga: Peran Negara Yang kurang maksimal

Lagi-lagi kebijakan yang diambil negara saat ini terkesan tidak maksimal untuk rakyat. Hal ini menunjukkan peran negara hanya sebagai regulator bukan sebagai penanggung jawab utama atas kebutuhan dan kesejahteraan rakyatnya.

Model pengaturan ini tidak lain dan tidak bukan karena lahir dari asas Kapitalisme. Yang menjadikan negara sebatas pengatur. Dan rakyat dibiarkan berusaha sendiri untuk memenuhi segala hak dan kewajibannya.  

Bahkan, yang paling miris dan prihatin. Di tangan pandemi dimana rakyat butuh dukungan dan sokongan. Negara kapitalisme begitu tega menjadikan rakyatnya sebagai objek pasar bagi kepentingan pebisnis Kapitalis di dunia kesehatan. Nasib rakyat ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. 

Keempat: Islam Solusi Manusiawi

Islam hadir dengan risalah yang lengkap bersumber dari pencipta manusia, alam dan semesta. Layak jika tiap aturannya searah dengan fitrah manusia. 

Islam pun  telah menegaskan fungsi negara dengan penguasanya adalah pengurus rakyatnya. Perisai bagi umat dalam menghadapi tantangan, termasuk ujian Pandemi. 

Maka kebijakan negara adalah berorientasi pada pelayanan pada rakyat. Bukan menjadikan rakyat sebagai tumbal bisnis kesehatan.

Bahkan, kebijakan yang diambil untuk membangun rumah sakit adalah untuk kemaslahatan rakyat. Dengan pembiayaan gratis. Dan dana kebutuhan kesehatan bisa diambil dari harta kepemilikan umum. Dimana Allah menyediakan segudang kekayaan SDA melimpah untuk negeri-negeri kaum muslimin. 

Kebijakan kesehatan ini bisa berjalan maksimal karena ada peran negara khilafah yang menetapkan syariat Islam secara Kaffah. Penerapan ini yang memudahkan kebijakkan senantiasa diambil dari dalil Syara' baik yang bersumber dari Al-Qur'an bmaupun Sunnah. 

Kebaikan aturan ini ditunjang dengan akad baiat kepemimpinan yang jelas yaitu menjalankan syariat dalam rakya mengurusi warga negara, memudahkan pengambilan kebijakan cukup simple dan mandiri. Dan terhindar dari kebijakan di bawah tekanan asing sebagamana di negara kapitalis yang ada saat ini.

Karenanya tiada jalan lain untuk membebaskan  belenggu umat dari kebijakan jahat Kapitalisme ini selain dengan kembali pada syariat Islam kaffah. Di sinilah rasa takut dan khawatir akan segala ujian umat khususnya di pandemi ini akan berakhir dengan pertolongan Allah. Sebagaimana dalam janji-Nya dalam Qs.An-Nur: 55

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Arti: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.


Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar