TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menggagas Sistem Anti Resesi



Sejak pandemi covid 19 melanda, berbagai dampak sistemik secara perlahan tapi pasti dirasakan oleh negara-negara di dunia. Bahkan negara super power pun, AS dibuat kelimpungan tak berdaya menghadapi serangan wabah corona. Tidak hanya aspek kemanusiaan dan kesehatan saja yang mengalami kegoncangan, namun juga sektor ekonomi mengalami keterpurukan. 

Dilansir dari BBC, Selasa (9/6/2020), Biro Riset Ekonomi Nasional AS (NBER) mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah masuk ke jurang resesi ekonomi sejak Februari 2020. Perusahaan-perusahaan di AS dilaporkan memangkas setidaknya 22 juta pegawai pada Maret dan April 2020. Bahkan menurut Kepala Ekonom Capital Economics Paul Ashworth, ekonomi AS tidak akan bisa segera kembali ke keadaan sebelum Covid-19 melanda. Meski bank sentral negara itu, The Federal Reserve (Fed) akan meluncurkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan. (Cnbcindonesia.com, 24/07/2020) 

Menyusul kemudian negara yang selama ini juga dikenal sebagai negara yang sangat maju perekonomiannya ternyata tidak mampu bertahan dari resesi. Di bulan Juli secara resmi pemerintah Singapura menyatakan bahwa negaranya mengalami resesi. Hal ini terkonfirmasi setelah Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) mengonfirmasi kejatuhan ekonomi di kuartal II-2020. (Cnbcindonesia.com, 14/07/2020)

Menyusul kemudian Korea Selatan. Anjloknya ekonomi Korsel sudah terasa sejak awal tahun kemarin atau sejak pemerintahnya melakukan pembatasan sosial atau lockdown. Di kuartal I dampaknya mulai terasa. Ekonomi Korsel anjlok minus 1,3 persen. Masuk kuartal II, dampaknya makin terasa. Bank Korea menyebut ekonomi kuartal II menyusut hingga minus 3,3 persen. Angka ini lebih dalam dari perkiraan para ekonom yang memprediksi negatif 2,3 persen.

Resesi juga membayangi Indonesia karena sudah dua kuartal di tahun 2020 ini pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh melambat. Di kuartal pertama terkontraksi di angka 2,97 persen, terkoreksi tajam sebesar 2 persen dibandingkan kuartal 4 tahun 2019. Begitu juga di kuartal kedua tahun ini, pertumbuhan ekonomi semakin lambat hingga menyentuh angka -4,3 persen, jauh melebihi proyeksi pemerintah di angka -3,8 persen.

Kuartal tiga menjadi pertaruhan pemerintah, apakah Indonesia akan terjerumus di jurang resesi atau tidak. Para ekonom sudah memprediksi Indonesia tidak akan mampu menghindari jurang resesi, Indonesia akan melenggang tanpa perlawanan menuju jurang resesi di kuartal 3.

Pemerintah kini berjuang keras agar pada kuartal III, ekonomi Indonesia tidak kontraksi sehingga terhindar dari resesi. Berbagai kebijakan digelontorkan mulai dari pemberian bantuan tunai kepada masyarakat tidak mampu, korban PHK, bantuan tunai untuk pekerja dengan gaji di bawah Rp5 juta, hingga berbagai stimulus fiskal yang bertujuan menggerakkan lagi roda dunia usaha.

Kesalahan Sistem

Pandemi sejatinya bukan faktor utama terjadinya resesi di berbagai negara. Sebab pandemi wabah jika diatasi dengan sistem yang tepat, maka dampaknya tidak akan meluas serta menyita waktu sekian lama. Sistem ekonomi berbasis kapitalisme yang selama ini diadopsi inilah yang menjadi penyebab terjadi krisis dan resesi bahkan menuju depresi secara berulang-ulang. 

Sistem ekonomi kapitalisme secara mendasar sudah sangat rapuh, sebab hanya bertumpu pada sektor moneter atau keuangan yang merupakan sektor non riil. Keuntungan ekonomi tidak diperoleh dari kegiatan investasi produksi barang dan jasa. Keuntungan itu diperoleh melalui investasi spekulatif dalam sektor non riil. Misalnya, melalui kredit perbankan serta jual beli surat berharga seperti saham dan obligasi. Dengan ekonomi berbasis moneter seperti ini, kapitalisme tidak bisa dilepaskan dari riba.

Karena berbasis riba, sistem moneter ini justru membahayakan sistem keuangan secara keseluruhan. Akan ada obligasi yang tidak dibayar (default)  dan kredit macet. Jumlahnya pun akan  terus bertambah dari waktu ke waktu. Hal ini akan mempengaruhi sektor riil dan perekonomian secara umum. 

Selain itu, sistem ekonomi kapitalisme berbasis pada fiat money atau uang kertas. Sejak dolar AS tidak lagi dikaitkan dengan logam mulia pada tahun 1970-an, mata uang yang berlaku hanya berlandaskan pada kepercayaan. Karena tidak ditopang dengan logam mulia, nilai intrinsik uang kertas tidak sama dengan nilai nominalnya. Sehingga uang kertas rentan inflasi. 

Ekonomi kapitalisme juga selalu dan lebih mengandalkan pajak dan utang daripada mengupayakan sumber pemasukan yang lain dalam membiayai pembangunan negara. Inilah kerapuhan sistem ekonomi kapitalisme yang memang sudah cacat namun tetap dipaksakan untuk diterapkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Padahal ada sistem ekonomi Islam yang paripurna mengatur dan menyelesaikan persoalan ekonomi suatu negara. 

Ekonomi Islam, Sistem Terbaik

Jika pengaturan terhadap segala sesuatu diserahkan kepada sebaik pembuat aturan hidup, maka sudah pasti kehidupan akan berjalan dengan baik. Dia-lah Allah Maha Pencipta sekaligus Pembuat Aturan yang terbaik bagi manusia. Allah jadikan islam sebagai pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan, termasuk pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 

Sistem ekonomi islam terbukti diterapkan sejak Rosulullah menjadikan Madinah sebagai negara Islam pertama yang menerapkan semua aturan islam secara menyeluruh. Kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelahnya hingga kurang lebih 13 abad. Dengan daya uji yang cukup panjang, membuktikan sistem ekonomi islam sangat tangguh menghadapi berbagai macam krisis yang terjadi. 

Islam memiliki sistem keuangan negara yang pengaturannya dibuat oleh Zat Pemilik Dunia dan Alam Semesta yakni Allah Ta'ala. Allah menetapkan secara syariat tiga jenis kepemilikan, yakni kepemilikan individu, kepemilikan negara, dan kepemilikan umum. Masing-masing kepemilikan tersebut diatur dan diterapkan oleh negara Khilafah. Melalui kepemilikan individu, seseorang boleh memiliki harta dengan cara yang dibolehkan oleh hukum syara'. Dengan kepemilikan umum, maka seluruh sumber daya alam yang ada bisa dimanfaatkan untuk kepentingan semua individu rakyat hingga mereka berada pada level hidup sejahtera. Sedangkan kepemilikan negara berupa harta rampasan perang, pajak bagi non muslim yang kaya (jizyah), pajak atas tanah kharaj, dan lainnya bisa digunakan oleh negara dalam rangka kemashlahatan negara. 

Sistem moneter dalam islam juga hanya mata uang emas dan perak saja yang diakui sebagai mata uang yang sah. Sebab keduanya Allah ciptakan sebagai zat yang nilainya stabil dan anti inflasi. 

Jika telah nyata ada sistem islam sebagai sistem terbaik pengganti sistem ekonomi kapitalisme, lantas mengapa masih ragu untuk mengambilnya? Tidakkah keterpurukan dalam segala bidang ini harus segera diselesaikan secara tuntas? Mengingat pandemi wabah masih belum juga mampu diatasi oleh sistem hidup ala kapitalis ini. Wallahu'alam bisshowab.[]


Oleh: Laily Chusnul Ch. S.E (Pemerhati Ekonomi) 

Posting Komentar

0 Komentar