TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menceritakan Kembali Sejarah



Sejarah Islam hanya bisa diambil dari sarjana muslim yang adil. Sejarah yang ditulis oleh orang kafir akan banyak bias. Fakta sejarah bisa sama. Tapi menuliskan dan menarasikannya bisa berbeda. Disinilah pentingnya rewriting dan retelling sejarah. Dari sejarah, kita dapat mengambil pelajaran. Pelajaran akan kesuksesan atau kegagalan masa lalu. Dari sejarah, kita bisa membuat rancang bangun sebuah peradaban. Dari sejarah, kita menata kehidupan di masa depan. 

Film #JejakKhilafahDiNusantara telah menarik minat 272.677 orang peserta yang mendaftar untuk menonton tayangan pertamanya. Jika satu akun digunakan oleh beberapa orang, maka tentu lebih banyak lagi. Film itu juga telah menuai respon postif dari banyak tokoh. Namun ada juga suara sumir sejak sebelum tayang dengan berbagai tuduhan, padahal mereka sendiri belum menonton.
Jauh sebelum itu, Kementerian Agama telah menghilangkan materi khilafah dari rumpun fikih, lalu dimasukan dalam rumpun Sejarah Kebudayaan Islam. Tetapi anehnya ketika ada anak bangsa yang menjelaskan aspek historisnya, dan jejaknya di Nusantara, banyak yang kepanasan bukan main. Tayangan hari ini (20/8/2020) yang di Youtube beberapa kali kena blokir atas permintaan Pemerintah. Tapi atas izin Allah, panitia berhasil menuntaskan dengan berganti-ganti saluran. Penonton pun sabar. 

Film ini dibuat dengan standar ilmiah dan mematuhi unsur-unsur akademik. Riset didasarkan kajian pustaka dan penelusuran lapangan yang cukup panjang. Disutradarai oleh sarjana-sarjana muslim dalam bidang kajian sejarah. Menonton film ini akan membuka wawasan kita akan hubungan Khilafah dengan Nusantara yang jejak-jejaknya masih nampak hingga sekarang. 

Saya menduga film ini akan diburu oleh publik yang penasaran. Hari ini saja banyak komunitas dan pondok pesantren yang selenggarakan nonton bareng (dengan protokol kesehatan). Ma sya Allah. Film ini adalah karya ilmiah terbuka. Dipersilahkan kepada publik untuk menilainya dengan jujur dan tanpa caci maki apalagi phobia.[]


Oleh: Ustaz Yuana Ryan Tresna
Mudir Khadimus Sunnah Bandung
https://www.instagram.com/p/CEGxk0vpc4j/?igshid=1cteh2jamaece

Posting Komentar

0 Komentar