TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menapaki Kembali Jejak Khilafah di Nusantara



Topic tentang Khilafah bukanlah sesuatu yang terdengar asing, hanya saja ternyata masih dinilai negatif di negeri +62 ini. Padahal ahli sejarah pun mengakui bahwa khilafah memang ada dan ditambah lagi jejak khilafah itu pun ada di nusantara. Bertepatan untuk memperingati tahun baru hijriyah 1 Muharram 1442 H, diluncurkanlah sebuah Film yang berjudul "Jejak Khilafah di Nusantara" di youtube. Bahkan sebelum penayangannya, film dokumenter ini menjadi trending topic di twitter dan dinantikan oleh seluruh masyarakat.

Sebuah film dokumenter yang menjadi bukti historis khilafah di nusantara sekaligus menapaki jejak hubungan khilafah dengan kesultanan di nusantara. Sebuah sejarah yang mungkin masih banyak yang belum mengetahui bahwa jejak-jejak itulah yang menjadi bukti bagaimana islam bisa sampai di nusantara.

Padahal sejarah islam di indonesia sendiri sudah ada sejak kepemimpinan khalifah Bani Umayyah yaitu Umar bin Abdul Aziz. Dan inilah yang belum banyak diketahui sehingga mengatakan bahwa khilafah hanya utopis belaka. Sejarah memang tidak bisa dijadikan sebagai sumber namun sejarah merupakan bukti pendukung bahwa jejak itu pernah ada.
 
Jika umat islam mau menelusuri sejarah islam di Indonesia, maka akan banyak ditemukan jejak dibeberapa wilayah pernah menjadi bagian dari Khilafah. Tidak hanya itu islam juga merupakan kunci perjuangan dalam melawan penjajah dengan semangat jihad fisabilillah.

Perluasan wilayah Islam yang dilakukan terus-menerus hingga masa kerajaan Dinasti Ummayah, Abbasiyah dan Turki Utsmani pada Abad ke 12. Wilayahnya bahkan hampir meliputi 2/3 permukaan bumi. Tak terkecuali nusantara. Sejarah penyeran islam di nusantara pun tidak akan terlepas dari pembahasan Kerajaan Islam Demak. Sebuah kerajaan yang berdiri pada abad ke 15 sebagai awal Revolusi Islam di Jawa.

Walaupun sebelumnya, Islam di tanah jawa telah ada sejak abad ke-11 yaitu dengan bukti ditemukannya sebuah makam wanita muslimah bernama Fatimah binti Maimun, wafat pada tahun 7 Radjab 475 H atau 2 Desember 1082 M. Kerajaan Islam Demak sebagai bukti terwujudnya kekuasaan Islam di Jawa memiliki pemimpin pertama yang bernama Sultan Fattah.

Bukti adanya hubungan khilafah dengan kesultanan di nusantara dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirimkan Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah masa Bani Umayah. Datangnya surat tersebut pada khalifah Umar bin Abdul Aziz Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga mengutus salah seorang ulama terbaiknya untuk memperkenalkan Islam kepada Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman, seperti yang diminta.

Dimasa berikutnya Kesultanan Aceh yang berdiri pada 1496 M, memperbarui hubungan dan ketaatannya dengan pusat kuasa Islam di Timur Tengah. Ketika pucuk Khilafah sudah beralih ke Bani Utsmaniyah di Turki, Sultan Aceh yang ketiga, Alauddin Riayat Syah al-Qahhar (berkuasa 1537-1571), mengirim surat kepada Khalifah Sulaiman al-Qanuni di Istanbul pada tahun 1566.
 
Dalam surat itu ia menyatakan baiatnya kepada Khilafah Utsmaniyah dan memohon agar dikirimi bantuan militer ke Aceh untuk melawan Portugis yang bermarkas di Malaka (Topkapı Sarayı Müsezi Arşivi, E-8009). Dalam surat balasannya kepada Sultan Aceh itu, Khalifah Salim II pengganti khalifah Sulaiman Al-Qanuni menulis bahwa melindungi Islam dan negeri-negeri Islam adalah salah satu tugas penting yang diemban oleh Khilafah Utsmaniyah.

Berkat kehadiran pasukan Khilafah Utsmaniyah di Nusantara benar-benar menggetarkan Portugis, sekaligus membahagiakan Muslim dan menguatkan Islam. Sebuah arsip Utsmani berisi petisi Sultan Alaiddin Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni, yang dibawa Huseyn Effendi, membuktikan jika Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai Kekhalifahan Islam.

Ini menunjukkan bahwa sejarah islam di nusantara tidak bisa lepas dari adanya peran khilafah. Dan itulah yang tidak banyak kita ketahui karena jejak-jejak sejarah itu dikaburkan dan dikubur dalam-dalam sehingga umat tidak mengenali sejarah negeri sendiri. Meskipun sejarah hanyalah masa lalu tapi bukan berarti kebenaran itu ditutup rapat-rapat.
 
Sejarah merupakan kunci untuk masa depan. Disinilah pentingnya mengungkapkan kebenaran tentang sejarah yang terpendam yang menjadi bukti bahwa khilafah bukan khayalan, dia pernah ada dan kewajiban kita adalah menegakkannya kembali. Masih banyak lagi jejak yang berbekas di berbagai pulau di Asia Tenggara, dan jejak yang paling nyata adalah keislaman kita sekarang menunjukkan eksistensi khilafah dan peran bagi negeri ini.[]


Oleh: Dita Puspita 
Anggota Komunitas Setajam Pena

Posting Komentar

0 Komentar