TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menakar Objektivitas Fakta Sejarah


Kamis, 20 Agustus 2020 bertepatan dengan 1 Muharram 1442 Hijriah, jagad twitter diramaikan dengan tagar #SejarahIslamNusantara. Trending topic ini dilatarbelakangi oleh diputarnya film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) yang disiarkan oleh kanal You Tube Khilafah Channel pada pukul 09.000 WIB. 

Film dokumenter yang diangkat dari Skripsi Sejarawan muda Nicko Pandawa sebanyak lima ratus lembar ini menuturkan tetang hubungan Khilafah (Sistem Islam) dengan Nusantara. Film ini membahas tentang awal mula masuknya Islam ke Nusantara dengan Khilafah Islamiyah. Serta sumbangsih Islam terhadap peninggalan dan peradaban di Nusantara.

Tim JKDN benar-benar apik dalam menyuguhkan fakta sejarah ini pada masyarakat. Jika selama ini, masyarakat memahami sejarah lewat berbagai literature buku yang terkesan membosankan jika dibaca, kali ini penyuguhan fakta sejarah disajikan dalam bentuk audio visual yang memampu menembus daya pikir secara enjoyable. 

Sejarah Islam di nusantara yang selama ini begitu kabur dipahami masyarakat akhirnya terkuak dengan gamblang bahwa nusantara pernah berhubungan erat dengan Khilafah Islam. Para wali songo yang dikenal masyarakat sebagai pendakwah Islam ternyata mereka merupakan utusan khilafah Islam untuk mendakwahkan Islam di nusantara. 

Adalah Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, ulama pertama yang diutus untuk mendakwahkan Islam di tanah jawa pada abad 14. Tidak tanggung-tanggung para wali Songo ini merupakan keturunan Syaikh Jumadil Al- Kubra yang nasabnya bersambung pada Cucu Rasulullah Husain bin Ali Bin Abi Thalib. Mereka mengembangkan dakwahnya di Tanah Jawa yang dibuktikan dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa, Kerajaan Demak dengan rajanya yang bernama Raden Patah.

Islam yang sekedar dipahami oleh masyarakat masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari persia dan gujarat, ternyata perlu dikaji lebih jauh. Dalam bukunya Sejarah Umat Islam, Buya Hamka mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia jauh sebelum teori Gujarat. 

Bahkan diceritakan dalam film dokumenter tesebut, di ujung paling barat Nusantara, yang berdiri sebuah kerajaan Sriwijayata dengan Maharajanya  Sri Indrawarman telah melakukan kontak melalui surat dengan Khilafah Ummayah yang saat itu dipimpin oleh khalifah Umar Bin Abdul Aziz.

Samudra Pasai dikabarkan juga telah menjalin hubungan erat dengan kekhilafahan Bani Abbasiyah. Bahkan diduga kuat sesuai dengan fakta yang ditemukan di lapangan bahwa Sultan Zainal Abidin Bin Ahmad Bin Malikul Zahir Bin Malikus Sholih, penguasa Pasai di masa Shodrul Akkabir Abdullah Al Abbasiyy menyatakan baiatnya pada Khalifah Al Mutawakkil ‘Alallah di Kairo di awal abad 15 Masehi. Jadilah Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia dengan visinya menyebarkan Islam di nusantara bahkan Asia Tenggara pada saat itu. 

Semua fakta sejarah yang dikemas dalam film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) diatas bisa dipertaggungjawabkan secara ilmiah oleh pembuat Film  Nicko Pandawa. Bagaimana tidak, film ini dibuat dengan  berdasar data yang valid dan wawancara yang kredibel. 

Jika semua adalah fakta, maka tidak bisa dipungkiri masyarakat Islam Indonesia harus berterima kasih pada khalifah yang telah mengutus para pengemban dakwah sehingga saat ini mereka bisa merasakan manisnya jalan iman dalam Islam. 

Maka, saatnya menakar objektivitas sejarah dengan berbagai  fakta yang sudah terkuak dipermukaan. Jika berbagai data melalui kajian ilmiah sudah disuguhkan, masihkah kejujuran intelektual menolak Sejarah Islam hanya karena nafsu semata. Hal ini tentu menyalahi paradigma ilmu pengetahuan.
Terkuburnya fakta sejarah adalah hal yang bisa saja terjadi karena berbagai kepentingan.  Penyimpangan sejarah bisa saja dilakukan karena tujuan tertentu. Melalui film dokumenter JKDN ini, saatnya membuat para sejarahwan berkata jujur, hadirkanlah fakta sejarah yang valid dan mencerdaskan bangsa. Masyarakat juga demikian, “legowo” lah menerimal fakta sejarah yang ada. Bagaimanapun itu, kenyataan harus diterima dengan lapang dada. 

Di lain sisi, terlepas dari pro dan kontra tentang isu khilafah di masyarakat, khilafah yang memang merupakan bagian dari ajaran Islam seharusnya tidaklah menjadi momok bagi masyarakat. Bagaimana mungkin seorang muslim phobia terhadap identitasnya. Apalagi khilafah ini sudah berjasa pada Nusantara. Apa susahnya mengakui sistem Islam merupakan bagian dari ajaran Islam. Bukankah kita orang muslim mengaku beriman dan bertaqwa pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Jika iya, jawablah dengan iman kita. 

Tulisan ini tidak bermaksud menyanjung tinggi film yang yang telah membuat heboh masyarakat +628. Akan tetapi, sudah saatnya masyarakat memahami Islam sebagai Rahmatan Lil’ A’lamiin, Islam yang telah turut serta mewarnai nusantara dengan berbagai rekam jejaknya. Selanjutnya marilah membuka mata dan mendudukan fakta sejarah sesuai dengan objektivitasnya.[]

Oleh: Arum Mujahidah
(Studi Lingkar Perempuan dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar