TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Membangkitkan Indonesia pada Usia 75 Tahunnya



Indonesia genap dinyatakan merdeka selama 75 tahun. Peringatan kemerdekaan tahun ini pun istimewa karena negeri ini masih belum keluar dari situasi pandemi Covid 19. Karena itulah, Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meluncurkan uang baru dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun. Acara peluncuran uang baru edisi koleksi ini berlangsung Senin (17/8/2020). Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyatakan, diterbitkannya uang baru ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan Indonesia dalam melawan pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai. (m.liputan6.com/17/08/2020).

Covid-19 memang masih terus menghantui negeri ini. Bukan hanya jiwa manusia yang terancam, kehidupan pun akhirnya serba sulit. Perkembangan ekonomi melambat, sekolah pun dirundung dilema. Dijalankan secara online, banyak siswa yang tidak memiliki fasilitas pembelajaran online dan tidak mampu mengakses fasilitas tersebut.

Dijalankan secara offline, kluster baru Covid 19 bermunculan di sekolah. Belum lagi kemiskinan yang makin menjadi akibat banyak orang yang sulit bekerja atau kehilangan pekerjaan di tengah pandemi ini. Ketika new normal berjalan termasuk pariwisata yang menjadi sumber penghidupan banyak pihak kembali dibuka, ternyata kasus Covid 19 malah terus menanjak. Hingga hari ini, kasus Covid 19 sudah menembus angka 140 ribu kasus, dengan jumlah kematian lebih dari 6.150 jiwa. Hanya dalam 1 hari saja, terjadi penambahan 2.081 kasus baru. (Wikipedia/17/08/2020). 

Benar-benar suasana peringatan agustusan yang sangat istimewa dan mencekam bagi negeri ini!
Wajar saja jika berbagai pihak berharap negeri ini bisa segera bangkit dari keterpurukan akibat Covid 19, contohnya seperti menjadikannya momentum penerbitan uang baru oleh Menkeu dan BI seperti di atas untuk memberi optimisme bagi Indonesia. Namun, apakah optimisme dan jalan kebangkitan negeri ini cukup hanya bersumber dari uang koleksi? Belum lagi tentu saja, tidak semua bagian dari rakyat memerlukan uang koleksi tersebut, yang pastinya menelan biaya besar untuk penerbitannya, di tengah kondisi sulit ekonomi Indonesia? Hanya mereka yang memiliki urusan dengan koleksi uang yang bisa menikmati prestisius uang koleksi tersebut, sayangnya. Wajar saja bila akhirnya muncul pertanyaan: apakah uang koleksi yang diterbitkan dengan uang rakyat itu yang bisa mengeluarkan kita dari kondisi sulit ini? Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh negeri kita agar bangkit, lepas dari semua himpitan ini?

Inilah yang sewajarnya dipikirkan mendalam, ditawarkan dan dijalankan oleh pemerintah negeri ini bersama rakyat, bukan peringatan demi peringatan kemerdekaan yang nyatanya tidak melepaskan rakyat kecil dari sesak napasnya keterpurukan.
Negeri ini telah tua sejak hari kemerdekaannya. Telah berusia 75 tahun. Dalam kondisi semakin tua ini, kebijaksanaan dalam mengakui kesalahan dan mencari jalan keluar harusnya menjadi ciri khas negeri kita. Kenapa negeri kita makin hari makin surut dan mundur? Ditambah lagi di tengah gempuran pandemi ini, mungkin kondisi kita bisa disebut sakit parah, sekarat dan harus segera diberi obat dan disembuhkan. Lalu apa yang salah sehingga masalah negeri ini tidak kunjung usai, malah makin hari makin tenggelam, ditenggelamkan lebih dalam oleh Covid 19 pula?

Cobalah perhatikan firman Allah di bawah ini untuk menemukan jawaban kesalahan dan jalan perbaikan untuk negeri kita ini.
“Seandainya penduduk suatu negeri itu beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (perintah Kami), maka kami siksa mereka karena apa yang telah mereka lakukan.” (TQS Al-A’raf: 96).

Ini adalah ayat Al-Quran, firman Allah yang pasti akan menembus ke dalam dada setiap orang yang beriman, menggetarkan dadanya, dan membuatnya banyak evaluasi dan merendahkan diri di hadapan kebenaran tiap kata di dalamnya. 
Inilah petunjuk dan jawaban bagi kemunduran, keterpurukan dan kesulitan yang terus menghimpit negeri ini. Itu semua terjadi karena kita pada faktanya mendustakan perintah Allah dalam mengatur negeri ini. Kita membenarkan perintah puasa, sholat, haji, dan ibadah mahdhoh yang lain. Tapi di saat yang sama, kita mendustakan, meninggalkan dan tidak melaksanakan perintah keharaman riba, keharaman zina, kewajiban untuk terikat kepada syariat Islam secara seluruhnya. 

Negeri ini bahkan menjadikan kewajiban menegakkan Khilafah berdasar model yang dijalankan Rasulullah sebagai target serangan, fitnahan bahkan siapapun yang menyampaikannya dijadikan musuh bersama oleh para punggawa negara 75 tahun ini. Bukankah perilaku ini sama persis seperti Firaun yang mendustakan Musa as, menjadikannya target serangan, buronan, bahkan akan dimusnahkan hingga dikejar-kejar? 

Akhir kisah Firaun dan para pendukungnya adalah tenggelam di Laut Merah. Apakah kita mau terus mendustakan sebagian perintah Allah dan menjalankan sebagian kecilnya lalu tenggelam dalam gulungan pandemi atau siksaan dunia dari Allah yang lain? Naudzubillah! Takutlah kepada Allah, hai orang-orang yang mengaku beriman!

Bila kita benar-benar berharap negeri ini mendapatkan jawaban menuju kebangkitan, maka jawabannya pun ada dalam ayat tersebut: beriman dan bertakwa kepada Allah. Maknanya, kita membenarkan kebenaran seluruh perintah dan larangan Allah, lalu kita menjalankan seluruhnya tanpa pilih-pilih. Tidak cukup dengan menjalankan ibadah mahdhoh lalu kita disebut bertakwa, namun seluruh perintah yang berkaitan dengan akhlak, makanan-minuman, pakaian, muamalah dan uqubat harus dijalankan setiap detilnya tanpa ada yang disepelekan dan dilalaikan. Sementara semua perintah dan larangan ini harus dilaksanakan oleh individu, negara adalah satu-satunya pihak yang dapat menjamin pelaksanaannya lewat penerapan undang-undang yang mengikat rakyat, pemberlakuan sanksi dan bekerjanya aparatur negara. 

Maka negara adalah kunci negeri ini dapat kembali kepada status ‘beriman dan bertakwa’. Negaralah yang dapat membuat kita mendapat keberkahan dan pertolongan dari Allah lewat pemberlakuan syariat Islam di dalam negeri. Inilah satu-satunya jawaban kebangkitan negeri ini yang harus diimani oleh mereka yang beriman, baik rakyat biasa maupun pejabat negara.
Maka, bila negeri ini secara serius ingin keluar dari keterpurukan dan menyongsong kebangkitan, tak ada cara lain kecuali mengembalikan pengaturannya kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Bukan dengan tetap bertahan dengan kesyirikan sekulerismenya, namun segera bertaubat menerapkan Islam seluruhnya menjadi aturan bermasyarakat dan bernegara. 

Bukan dengan demokrasi yang menyesatkan dan memenjara kita dalam maksiat, namun dengan mengembalikan pemerintahan negeri ini kepada Khilafah Islam berdasar metode Kenabian, di bawah pimpinan Khalifah Amirul Mukminin yang beriman dan bertakwa. 

Dengan segera menjalankannya, setelah 75 tahun merdeka negeri ini akan benar-benar merasakan keindahan kemerdekaan dalam keberkahan Allah yang nyata bahagianya, dunia dan akhirat, tanpa kesempitan hidup yang menyesakkan dada lagi. Bila kita bersegera berjuang bersama mewujudkannya, dengan pertolongan Allah.[]

Oleh: Indah Shofiatin 
Alumnus FKM Unair, Penulis Lepas

Posting Komentar

0 Komentar