Maraknya Kejahatan di Masa Pandemi


Pandemi belum berlalu, kita masih terus dituntut untuk berhati-hati, mngingat keadaan yang semakin hari semakin tak menentu. Kejahatan kerap terjadi bahkan semakin marak, terlebih di masa sekarang. Dimana orang-orang telah disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin memperihatinkan. Sehingga demi memenuhi kebutuhan pokok tersebut, akhirnya segala cara dilakukan.

Mengutip dari, beritasatu.com, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan, crime total pada bulan Januari, Februari, Maret tahun 2020 dibandingkan dengan periode sama di tahun 2019 sebenarnya mengalami penurunan. Namun, ada beberapa kejahatan yang meningkat seperti pencurian mini market, begal dan penyebaran berita hoaks.

"Tapi memang di saat sekarang-sekarang ini, di minggu 15 dan 16 di tahun 2020, masa pandemi ini, ada beberapa jenis-jenis kejahatan yang meningkat seperti pertama jenis kejahatan penyebaran berita bohong Undang-undang ITE menyangkut masalah Covid-19 ini. Kemudian jenis kejahatan curat (pencurian dengan pemberatan), curat itu spesialis pembongkaran minimarket, dan juga begal," ujar Yusri, Minggu (26/4/2020).

Tentunya, ini masalah yang menjadi perhatian tersendiri. Kegelisahan warga semakin bertambah. Belum selesai masalah kesehatan akibat pandemi, sekarang harus dihadapkan dengan masalah kejahatan, karena para pelaku kejahatan memanfaatkan situasi, saat semua fokus dalam penanganan dan penanggulangan pandemi.

Polri Irjen Agus Andrianto sekaligus Kepala Operasi Terpusat (Kaopspus) Kontinjensi Aman Nusa II-Penanganan Covid-19 Tahun 2020 menjelaskan penanggulangan dan penanganan penyebaran Covid-19 di Indonesia bukan hanya berdampak kepada pekerja formal dan informal. Hampir di semua aspek kehidupan terganggu.

"Bahkan budaya baru terbangun, apalagi mereka yang kehilangan penghasilan harian," kata Agus Andrianto. Dia mengatakan, para pelaku kejahatan memanfaatkan situasi saat semua fokus kepada penanganan dan penanggulangan penyebaran Covid-19. Polri, kata Andri, melakukan upaya untuk menangani faktor penyebab dan pendorong orang melakukan kejahatan dengan bimbingan dan penyuluhan untuk memanfaatkan waktu di rumah (work from home). (liputan6.com. 22/4).

Lantas, apakah upaya yang dilakukan pemerintah telah berhasil menangani hal ini? Jika melihat berita di atas maraknya kejahatan terlebih di saat pandemi yang juga belum dapat teratasi, maka dapat dikatakan gagal. Kelemahan sistem yang diadopsi negara inilah yang menjadikan ketidakmampuan mengatasi persoalan mendasar umat. Pemenuhan kebutuhan pokok, jaminan kesehatan sampai jaminan keamanan tak juga mampu teratasi dengan baik.

Sistem kapitalisme-sekularisme, memang lahir dari buah pikir manusia. Yang meletakkan keberpihakannya kepada segelintir orang dan mengorbankan kebanyakan rakyat. Inilah sistem yang memisahkan agama dari tatanan kehidupan. Agama hanya diletakkan pada urusan ibadah saja dan tak berhak atas urusan yang lain. Akibatnya keridhoan Allah SWT tidak didapat.

Berbeda dengan sistem Islam, yang meletakkan segala urusan umat pada syariat Nya yang lahir dari Allah SWT. Tentunya hanya kesempurnaan yang akan didapat. Jaminan pemenuhan kebutuhan hidup, kesejahteraan, kesehatan dan keamanan akan terpenuhi. 

Bagaimana Islam mengatasi maraknya kejahatan. Akan tuntas diatasi dengan sistematis, efektif dan efisien. Sehingga tidak membutuhkan biaya besar serta penanganannya pun lebih cepat dan memuaskan akal.

Dalam Islam, rasa takwa kepada Allah melahirkan penegak hukum yang jujur dan adil. Allah SWT. berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”  (QS an-Nisaa’ : 135).

Adapun asas penerapan hukum Islam, 

Pertama, ketakwaan individu yang mendorongnya untuk terikat kepada syariat Islam. Ini adalah pondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap individu muslim. 

Kedua, pengawasan masyarakat. Masyarakat yang Islami, akan membentuk lingkungan yang aman dan kondusif. Selain itu akan menjadi tameng yang dapat melindungi individu-individu dari kejahatan.

Ketiga, Negara yang menerapkan syariat Islam secara utuh. Inilah point penting mengatasi kejahatan dengan tuntas dan cepat, dimana hukum syariat menjamin keadilan bagi setiap individu tanpa memandang siapa yang melakukan atau melanggar. Karena penerapan hukuman pada tindak kejahatan menggunakan hukum Islam, hanya bisa dilakukan oleh Negara saja. Seperti hukum sanksi qishas (nyawa dibalas nyawa, hilang tangan dibalas tangan dan seterusnya).

Apabila salah satu asas ini telah runtuh, maka penerapan syariat Islam dan hukum-hukumnya akan mengalami penyimpangan, dan akibatnya Islam sebagai agama dan ideologi (mabda) tidak lagi menjadikan muslim sebagai umat yang terbaik. Dan dampak parahnya kejahatan tidak akan pernah dapat dituntaskan. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.[]

Oleh. Nur Rahmawati, SH
Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar