TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Magrib Mengaji Online, Cukupkah untuk Membuat Masyarakat Agamis?



Baru-baru ini Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengeluarkan kebijakan Magrib Mengaji Online. Sejumlah persiapan telah dilakukan untuk di mulainya softlaunch Magrib Mengaji Online bersama Bupati Sumedang, Dr. H. Dony Ahmad Munir, Sabtu (1/8/2020). Para Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah Kabupaten Sumedang, diharapkan untuk turut serta. (tinewss.com 1/8/2020)

Apresiasi gerakan Magrib Mengaji ini sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai upaya mendekatkan masyarakat dengan Al-quran. Apalagi bagi para ASN/Pejabat yang memang sudah seharusnya menjadi sosok-sosok taqwa yang dekat dengan Al-quran.

Kebijakan ini sesuatu hal yang baik, menjadi sebuah harapan semoga para pejabat/pemimpin bisa menjadi pribadi yang bertakwa pada allah. Dan berharap dari para pemimpin yang dekat dengan Al-quran maka akan lahir pula masyarakat yang bertakwa.  Dan menjadi sebuah awal yang diharapkan agar semua kebijakan-kebijakan yang mereka buat melihat rujukan yang ada dalam Al-quran.

Tapi spirit mengaji ini harus diarahkan pula pada pemahaman tentang pentingnya menjadikan Al-quran sebagai pedoman hidup manusia. Yang mana semua aktivitas kehidupannya selalu terikat dengan aturan islam. Tak hanya urusan ibadah saja, tapi seluruh aspek kehidupan baik itu muamalah, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum pidana semua harus merujuk pada al-quran. Semua diatur oleh Sang Pencipta, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang termaktub di dalam Al-quran.

Allah menyebutkan di dalam ayat:
شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ…..

Artinya:  “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)…..”. (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Imam Al-Qurthubi di dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa Al-Quran sebagai petunjuk maknanya, Al-Quran secara keseluruhan jika dikaji dan diteliti secara mendalam, akan menghasilkan hukum halal dan haram, nasihat-nasihat, serta hukum-hukum yang penuh hikmah. Al-Hafidz Al-Suyuthi juga menjelaskan, bahwa Al-Quran mengandung petunjuk yang dapat menghindarkan seseorang dari kesesatan, ayat-ayatnya sangat jelas serta berisi hukum-hukum yang menunjukkan seseorang kepada jalan yang benar.

Karena itu bagi orang-orang beriman, tidak ada pilihan lain kecuali meyakini, mengimani dan mengamalkan Al-Qurand alam kehidupan sehari-hari, sebagai konsekwensi logis atas keislamannya. Al-quran tak cukup hanya dibaca, tapi perlu diamalakan dalam kehidupan sehari-hari. Membaca Al-quran adalah sunnah. Melaksanakan seluruh Al-quran adalah wajib. Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah Al-Quran sebab Al-Quranakan datang pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada orang-orang yang mempunyainya." (HR Muslim)

Membaca dan mengamalkan Al-quran adalah dua hal itu tidak bisa dipisahkan, yang paling baik tentu rajin baca Al-Quran dengan bacaan yang baik, lalu juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai muslim kita tidak memilah-milah antara keduanya. Sebagai seorang muslim, tentu urusan mengamalkan isi Al-Quran sudah menjadi harga mati. Sebab Al-Quran bukan sekedar kitab untuk dibaca saja, tetapi lebih dari itu, Al-Quran adalah petunjuk hidup dan pengajaran bagi kita semua.

Allah SWT berfirman:

Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau Al-Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.(QS. Thaha: 113)

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur'an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.(QS. As-Syura: 7) 

Menjalankan Isi Al-Quran

Mengamalkan isi Al-Quran adalah sesuatu yang mutlak wajib dijalankan. Yang paling parah dan harus segera dicegah adalah orang yang pandai membaca Al-Quran, bahkan rajin membacanya, tetapi rajin juga mengerjakan kemungkaran dan maksiat. 

Pemandangan ini sesekali bisa kita saksikan di tengah kerancuan beragama di negeri kita. Ada orang yang bahkan sudah jadi Qari', dalam arti pandai membaca Quran dengan merdu, fasih dan lancar. Tapi kadang kelakuannya masih saja terbawa arus, jahili. Entah dia pacaran, buka aurat, malah ikut kegiatan yang berlawanan dengan syariat Islam, tidak berhukum dengan al-quran, pendidikannya pun tidak berlandaskan dengan Al-quran atau terlebih lagi mencampakan isi Al-quran dalam tatanan kehidupan. 

Dalam kebijakan ini Bupati menginginkan para pejabat, ASN ikut andil dalam kebijakan Magrib Mengaji. Sudah kita bahas bahwa tak hanya untuk dibaca tapi harus dikaji, dipahami dan diaplikasikan hukum-hukumnya. Apalagi ditengah-tengah problematika ummat saat ini. Al-quran adalah solusi satu-satunya bagi semua permasalahan dan hanya akan bisa dijalankan dengan sistem islam yakni khilafah alaa minhaji nubuwwah.[]


Oleh : Habibah, AM.Keb

Posting Komentar

0 Komentar