TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Liberalisme, Pangkal Utama Kasus Pelecehan Mahasiswa




Lagi-lagi kita disuguhi kasus pelecahan seksual di kala Pandemi. Kali ini pelakunya adalah mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur.

Gilang Aprilian Nugraha Pratama mahasiswa FIB Unair angkatan 2015 yang diduga melakukan pelecehan seksual dengan cara membungkus korban menggunakan kain, dikabarkan sudah melakukan hal sejenis sejak tahun 2015.

Adnan Guntur Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB Unair mengatakan, dari laporan yang dia terima kasus ini sudah banyak diketahui mahasiswa di kalangan FIB Unair.

Kasus Gilang mendadak trending di media sosial Twitter Indonesia Kamis (30/7/2020). Sampai pukul 17.00 WIB, sudah 105 ribu orang membuat cuitan di Twitter tentang mahasiswa FIB Unair yang viral setelah akun @m_fikris membagikan utas bercerita tentang pelecehan seksual yang ia alami, sehari sebelumnya pada Rabu (29/7/2020). (suarasurabaya.net, 30/7/2020)

Liberalisme Pangkal Utama Pelecehan Seksual

Tak bisa dipungkiri bahwa penerapan ide demokrasi kapitalis telah membuka kran kebebasan tanpa batas. Salah satunya adalah kebebasan berprilaku.

Liberalisme telah mengubah arah pandang manusia terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Mereka memandang bahwa interaksi antara laki-laki dan wanita dengan pandangan seksual semata. Termasuk di dunia pendidikan, interaksi laki-laki dan wanita tanpa batasan mengakibatkan pelecehan seksual.

Ditambah lagi, minimnya pemahaman agama. Sehingga tidak ada kontrol dari internal diri agar menahan hawa nafsu di manapun berada. Banyak para mahasiswa yang tidak menutup aurot, bertabaruj (berdandan), berkholwat dan ikhtilat (bercampur antara pria dan wanita) saat di kampus tanpa kebutuhan. Hal itu sangat berpotensi menimbulkan pelecehan.

Belum lagi paparan tayangan pornografi dan pornoaksi di media. Hal ini semakin menstimulasi naluri seksual pada diri manusia. Mendorong manusia untuk memenuhinya tanpa peduli dengan nilai-nilai agama. Bahkan pemenuhannya dengan cara yang menyimpang. Kepuasan naluri seksual menjadi standar kebahagiaan pelaku pelecehan.

Islam Mencegah Pelecehan Seksual

Islam adalah agama yang sempurna, sebuah agama yang mengatur semua aspek kehidupan. Termasuk di dalamnya sistem pergaulan. Islam agama yang menjaga kehormatan, nasab dan keturunan.

Islam mengharamkan pelecehan seksual dan perzinahan.  Allah SWT bersabda dalam Surat al-Isra’ ayat 32.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“.

Allah SWT memberikan wewenang kepada negara untuk menjatuhkan sanksi yang tegas. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nur ayat 2:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya didalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman “.

Naluri ketertarikan dengan lawan jenis adalah hal yang fitrah. Dalam Islam pemenuhan naluri seks hanya di benarkan dalam ikatan perkawinan bukan pelecehan seksual.

Negara akan membuat mekanisme yang bersifat preventif dan kuratif agar mahasiswa tidak melakukan tindakan amoral. Beberapa diantaranya:

Pertama, negara akan menerapkan sistem pendidikan Islam berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah. Fokus pada upaya mencetak generasi berkepribadian Islam. Menguasai tsaqofah dan ilmu terapan. Generasi yang memberikan potensi terbaiknya untuk kemajuan peradaban Islam.

Kedua, negara akan memisahkan tempat dan ruangan belajar bagi mahasiswa laki-laki dan wanita. Hal ini penting, agar membatasi interaksi antara mahasiswa pria dan wanita. Supaya tidak terjadi kholwat dan ikhtilat.

Ketiga, negara mewajibkan semua dosen dan mahasiswa menutup aurot secara sempurna. Seragam mahasiswa disesuaikan dengan kewajiban berjilbab dan kerudung bagi wanita. Selain itu negara akan memberikan bimbingan dan pembinaan kepribadian Islamiyah.

Keempat, negara melarang tabaruj bagi mahasiswa wanita.

Kelima, negara akan melarang semua media menyajikan tayangan berkonten pornografi dan pornoaksi.

Keenam, negara akan memberikan kemudahan bagi mahasiswa yang hendak menikah selagi menyelesaikan program pendidikan.

Ketujuh, negara akan memberikan sanksi yang berat bagi dosen atau mahasiswa yang kedapatan mendekati zina. Bahkan bila sudah  terlanjur berzina. Negara akan menjilid (cambuk) 100 kali serta setahun diasingkan bagi yang belum pernah menikah. Bagi pelaku yang telah menikah maka negara akan merajam hingga mati.

Kedelapan, sanksi berupa ta'zir dan pemecatan bagi mahasiswa yang terbukti melakukan tindakan mendekati zina atau pelecehan.

Demikianlah, sistem Khilafah membuat mekanisme mempersempit peluang pelecehan. Sistem yang sangat menjaga harkat, martabat dan kehormatan warga negara, termasuk mahasiswa. Sehingga para mahasiswa fokus pada program pendidikan. Memberikan kontribusi terbaik untuk mengisi peradaban Islam dengan prestasi yang maksimal. Bukan sibuk membuat skandal amoral. Wallahu a'lam bi ash-showab.

Oleh Najah Ummu Salamah
Forum Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar