Konten Unfaedah Demi Rupiah



Tsunami informasi yang terjadi saat ini membuat semua informasi dengan sangat mudah bisa di cari demikian pula tradisi copas (copy paste) rentan dilakukan sehingga memberikan kemudahan dalam berbagi informasi. 

Hadirnya serbuan informasi mengakibatkan mudahnya orang mengunggah suatu konten yang tentu saja membawa pengaruh besar pada bangunan masyarakat, utamanya masyarakat mayoritas muslim, dari konten yang menginspirasi hingga konten sampah berisi Pornografi, pornoaksi, hoax, pencitraan, pencemaran nama baik, berita kriminal dll menghiasi laman-laman media digital yang dengan mudahnya bisa diakses siapa saja. Bahkan tak jarang konten sampah yang tidak bermutu namun disukai oleh banyak penggemarnya. Seringkali demi mengejar popularitas di dunia maya, maka berbagai hal dilakukan untuk menarik minat netizen, meski hal tersebut harus melanggar etika dan adab di masyarakat.

Kemampuan untuk menyaring informasi yang bermanfaat dan informasi yang merusak  seringkali tidak dimiliki oleh masyarakat. Sehingga kehilangan kemampuan dalam menyaring dan membedakan antara fakta dan opini.

Tak bisa dipungkiri kemudahan untuk mengakses berbagai konten yang semakin mudah berkat hadirnya teknologi informasi komunikasi adalah sebagai dampak positif. Namun hal kebalikan juga terjadi dengan penomena gagap teknologi atau gagap media yang seringkali hanya mengikuti tren tanpa memikirkan benar atau salah sesuai aturan Allah. Melainkan hanya luapan bentuk eksistensi diri berlandaskan hawa nafsu demi mendulang materi.

Sebagai mukmin yang baik, sudah seharusnya kita menjadi sosok terpercaya, benar dan amanah dalam menyampaikan dan menyebarkan suatu berita atau konten tertentu dan bermanfaat. Sebagai mana prinsip dan mekanisme yang telah diwariskan oleh Islam. 

Bahwa Islam mengharuskan untuk memperhatikan dan melakukan proses validitas suatu konten, dengan mencari tau sumber dan penyampai berita, melihat isi berita apakah sesuai atau bertentangan dengan faktanya, dan mengutamakan adab dalam menyikapi informasi sehingga bijak dan tidak boleh reaktif, terlebih terkait berita yang menyangkut nama baik seseorang. Sehingga peran opini umum dalam adab menyaring informasi guna perubahan masyarakat sangatlah berperan. 

Demikian pula halnya dengan peran pembuat konten yang memiliki otoritas dalam pembuatan dan penyebaran informasi. Konten yang mempengaruhi warna dan dinamika peradaban manusia memiliki pengaruh yang sangat besar. Sehingga dituntut untuk lebih berkomitmen dalam memberikan konten yang benar dan bermanfaat yang jika tidak dilakukan maka kredibilitas fungsinya akan runtuh.

"Cukuplah seseorang disebut pendusta jika ia mengabarkan semua yang ia dengar" (HR.Imam Muslim)

Dalam Islam peran media dalam hal ini konten kreator, dalam menyaring dan menyebarkan konten, terhadap individu dan masyarakat tak bisa berjalan sendiri namun harus adanya peran negara yang akan menjaga umat sebagai perisai dengan menyaring segala informasi yang rusak dan berbahaya bagi nilai dan idiologi negara. Sehingga negara tidak lepas tangan dan menyerahkan begitu saja segala informasi kepada masing-masing individu yang menikmati informasi tersebut. Negara akan merancang strategi secara detail mengenai Islam dan pemaparannya sehingga mampu menggerakkan akal manusia agar mengarahkan pandangannya pada Islam guna menanamkan pemikiran dan akhlak yang mulia, jauh dari pemikiran membuat konten unfaedah.[]

Oleh : Sri Suarni A.Md


Posting Komentar

0 Komentar