Kilas Balik Hagia Sophia



Menyoal sebuah bangunan tua, sudah 86 tahun lamanya hanya dikagumi visualnya, tidak dengan sejarah perjuangannya. Hagia Sophia namanya. Menjadi simbol kemenangan besar kaum muslimin pada masanya hingga sekarang. Penaklukan yang sudah dihaturkan kemenangannya sejak 825 tahun tepat sebelum penaklukannya direalisasikan oleh Muhammad Al Fatih.

Penaklukannya dipimpin oleh pemimpin terbaik, sabagimana pasukannya pun pasukan terbaik. Setelah sekian purnama perjuangan itu dilakoni dengan gagah. Percaya dan yakin pada sabda Rasulullah Muhammad, sebab apa-apa yang disampaikan Rasulullah Muhammad terdengar nyata adanya.

Sebelum matahari terbit dari sebelah timur, Muhammad Al Fatih memenangkan pertarungannya. Masuklah ia lewat gerbang utama kota, "Alhamdulillah, semoga Allah rahmati para syuhada, memberikan kemuliaan kepada mujahiddin serta kebanggaan dan syukur bagi rakyatku...." (Muhammad Al Fatih, 1453)

Muhammad Al Fatih diceritakan dalam sejarah langsung menuju Gereja Hagia Sophia. Takjub akan keindahannya, hanya kalimat Masya Allah yang mampu terlisan olehnya. Merasa tak percaya bahwa dirinyalah yang menjadi panglima terbaik seperti yang dikabarkan Rasulullah Muhammad.

Kemudian Muhammad Al Fatih menginginkan tempat termegah, tempat terbaik dan tempat terindah itu dijadikan sebagai masjid. Menjadi Hagia Sophia Cami' atau Masjid Hagia Sophia, sebagai pusat pemerintahannya. Sebagaimana Rasul membangun masjid sesampainya di Quba. Dan mengonsentrasikan pembangunan Masjid Nabawi dibanding yang lainnya. Sebab masjid pusat peradaban pemerintahan islam yang mulia. Masya Allah.

Namun, tepat pada tahun 1934 kabinet turki memaksa merubah Hagia Sophia dari masjid menjadi museum. Dan sekarang tahun 2020 Pemerintahan Erdogan membatalkan keputusan tersebut dan membuka jalan bagi Hagia Sophia untuk dijadikan masjid kembali. Kemarin tanggal 24 Juli 2020, Hagia Sophia melaksanakan sholat jum'at pertama kali setelah sekian lama ia dijadikan museum.

Kabar ini membuat kaum muslimin sujud syukur sebab bahagia yang tiada terukur. Barat justru jatuh tersungkur. Kekhawatiran Barat nampak begitu jelas, kecaman-demi kecaman kepada Pemerintahan Erdogan semakin deras.

Kabar ini menjadi sorotan dunia. Kaum muslimin bersatu dalam kebahagiaannya. Entah dimanapun mereka berada, walau tak satu tempat koneksi hati mereka sama sebab kembalinya Hagia Sophia.

Bayangkan tatkala umat bersatu, perasaan mereka saling berpadu karena keinginan yang satu, Ridho Allah. Berjuang menerapkan syariat Allah secara paripurna. Siapa yang berani mengusik bila umat sadar akan rasa persaudaraannya ?

Alhamdulillah, kini simbol kemenangan besar itu kembali pada penakluknya (umat muslim). Untuk dimakmurkan kembali sebagaimana mestinya. Terdengar muadzin mengumandangkan adzan pertama kalinya setelah sekian lama, gemercik air wudhunya menyejukkan jiwa. Kemudian setiap pengunjung bersujud diatas sajadahnya, bacaan Al Qur'an sebagai alunan melodinya. Alangkah bersyukurnya kaum muslimin atas karunia-Nya.

Kembalinya Hagia Sophia sebagai masjid ini memberi angin segar bagi kaum muslimin. Membangkitkan ghiroh kaum muslimin untuk berjuang menegakkan syariat Allah yang rahmatan lil 'alamin. Mensukseskan perjuangan berdirinya khilafah islamiyyah. Meraih kemuliaan layaknya Muhammad Al Fatih dalam perjuangan menaklukkan Konstantinopel.

Sekarang masanya kita untuk meraih kemuliaan itu lewat penaklukan kota selanjutnya yang dikabarkan lewat bisyarah Rasulullah, ya Kota Roma.
"Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma ?" Kemudian Rasul menjawab, "Kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel." (HR. Ahmad)

Tak lama lagi, mungkin tak lama lagi. Atau bahkan kemungkinan itu akan ditepis dengan segera terwujudnya kekhilafan islam. Menyatukan umat, menyatukan rasa juga menerapkan syariat. Jadilah bagian dalam perjuangan yang sudah dijanjikan sebuah kemenangan. Allahuakbar.[]


Oleh : Ratna Sari

Posting Komentar

0 Komentar