Khilafah itu Sistem Pemerintahan Islam, Bukan Ideologi



Saat ini diskursus tentang Khilafah mencuat ke permukaan. Melalui aktifitas dakwah, kajian Khilafah berada di ruang publik baik di dunia nyata maupun maya. 

Bagi yang kontra, mereka tidak tinggal diam. Narasi - narasi yang menyudutkan dilontarkannya. Sebagai contoh adalah menyebut dengan Ideologi Khilafah. Bahkan dengan beraninya menyamakan Khilafah dengan Komunisme yang juga dilarang. 

Menyebut Khilafah dengan narasi "Ideologi Khilafah" mempunyai implikasi yang serius. Dengan narasi Ideologi Khilafah ingin dibentuk pemahaman bahwa Khilafah itu bukan bagian dari ajaran Islam. Akan tetapi Khilafah itu adalah ideologi tersendiri. Dengan mengeluarkannya dari Islam, artinya Khilafah berusaha dilepaskan dari pijakan nash - nash Islam.

Selanjutnya akan dibuat alibi guna menguatkan narasi "Ideologi Khilafah" dengan narasi pemberontakan. Bahwa Khilafah itu adalah upaya untuk mendirikan negara di dalam negara. Di berikanlah penekanan jika seperti itu, lantas apa perbedaannya dengan Ideologi Komunisme? 

Komunisme juga berupaya mendirikan negara di dalam negara. Dan jalan yang ditempuhnya adalah dengan melakukan pemberontakan. Dari sinilah ada upaya penyamaan antara Khilafah dengan Komunisme. 

Upaya penyamaan antara Khilafah dengan Komunisme memakai narasi Ideologi Khilafah, setali tiga uang dengan narasi Khilafahisme. Saat terjadi tuntutan besar - besaran pembatalan RUU HIP, Sekjend PDIP, Hasto Kristiyanto menyebutkan agar yang dilarang selain Komunisme dan Marxisme, juga Khilafahisme. Sebutan Khilafahisme itu ingin menempatkan Khilafah sebagai paham dan ideologi yang terpisah dari Islam. Yang selanjutnya dimusuhi oleh bangsa Indonesia, khususnya oleh umat Islam sebagaimana Komunisme maupun Sosialisme - Marxisme.

Dengan kata lain, narasi "Ideologi Khilafah" itu harapannya bisa menjadikan umat Islam menjauh dan memusuhi upaya penegakan Khilafah. Termasuk kemudian mempersekusi para pengemban dan pendakwahnya.

Sesungguhnya dicabutnya BHP dari Hizbut Tahrir Indonesia, tidak lantas menyampaikan dakwah Khilafah itu menjadi terlarang. Menyebut Khilafah sebagai hal yang terlarang berarti sama dengan menyebut Rasul Saw dan sahabat beliau telah mengajarkan hal yang terlarang. Bukankah Rasul Saw dengan gamblang menyebutkan tentang sistem Khilafah dalam sebuah sabdanya yang artinya: "Dulu Bani Israil urusannya dipegang oleh para Nabi, setiap kali satu nabi meninggal akan digantikan oleh nabi yang lainnya. Sesungguhnya tidak ada nabi lagi sepeninggalku, nanti akan ada banyak kholifah" (HR Muslim). Tentu saja para khalifah datang silih berganti.

Begitu pula masa Khilafah itu dimulai dari Abu Bakar ra, Umar bin Khaththab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Thalib ra. Diteruskan di masa Khilafah Umayyah, Abbasyiyah dan Utsmaniyah. Jadi menyamakan Kekhilafahan dengan Komunisme adalah hal yang sungguh sangat keterlaluan.

Khilafah itu adalah ajaran Islam. Khilafah itu ajaran Islam tentang sistem pemerintahan yang dijadikan sebagai metode untuk menerapkan Islam secara paripurna. Al - Imam al Ghozali di dalam kitabnya, Al - iqtishad fil i'tiqad menjelaskan bahwa agama itu asas, kekuasaan itu penjaganya. Selanjutnya beliau menjelaskan, agama tanpa penjaga akan lenyap dan kekuasaan tanpa asas itu akan rapuh. 

Jelasnya, Khilafah itu merupakan sistem pemerintahan Islam dengan seorang Khalifah sebagai kepala negaranya. Kholifah itu adalah pengganti Rasul Saw dalam hal mengurusi urusan umat dengan Syariat Islam. Kholifah bukanlah pengganti Rasul Saw dalam kenabian, karena tidak ada lagi nabi setelah Rasul Saw.

Adapun dalam menegakkan Khilafah juga diatur di dalam Islam. Alasannya, karena Khilafah itu ajaran Islam. Rasul Saw dalam menegakkan negara Islam pertama di Madinah adalah dengan tholabun nushroh (mencari pertolongan dari Ahlul Quwwah). Pastinya akan hadir ahlul quwwah, setelah dakwah diserukan sehingga mampu membentuk opini umum. Pendek kata, dakwah bagi tegaknya Khilafah sifatnya pemikiran dan politik, bukan dengan kekerasan. 

Melalui dakwah terus - menerus akan mampu mengubah persepsi umum di tengah - tengah umat, bahwa Khilafah itu ajaran Islam yang baik. Sementara itu demokrasi adalah sistem kufur. Artinya dengan dakwah akan mampu membentuk kesepakatan umat terhadap al Khilafah. Saat itulah Allah akan menghadirkan sosok ahlul quwwah yang siap menjadi penolong bagi tegaknya Syariat Islam dan Khilafah. Ya, merekalah kaum Anshor. 

Oleh karena itu, teruslah tanpa henti untuk menyampaikan Khilafah dan kebaikan - kebaikannya di tengah - tengah umat. Hingga dengan seruan dan penjelasan tersebut bisa meruntuhkan singgasana - singgasana kekufuran dan kedholiman. Dan sesungguhnya persekusi terhadap Khilafah hanya akan mempercepat kembalinya Khilafah ke pangkuan umat. []


Oleh: Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP)

Posting Komentar

1 Komentar

  1. “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)

    kalau ada Khilafah, nantinya bakal seperti penjara atau surga, ustadz?

    BalasHapus