TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Khilafah Bukan Dinasti


Tintasiyasi.com -Hari ini masih ada yang berpendapat Khilafah itu sama dengan dinasti atau kerajaan, padahal dalam ajaran Islam faktanya tidak seperti itu. Menyamakan Khilafah sebagai dinasti, kemungkinan besar karena kegagalan memahami fikih seputar Khilafah, sekaligus terpengaruh referensi sejarah yang ditulis para orientalis yang penuh distorsi.

Karena itu, tulisan berikut ini akan mencoba menjelaskan, perkara yang sangat esensial bahwa Khilafah bukanlah dinasti atau kerajaan. Sebab untuk masalah jejak Khilafah di nusantara, baik melalui dokumenter sekelas JKDN, ataupun melalui berbagai penelitian dan karya sejarah yang terbit sebelum JKDN sudah sangat mencukupi, untuk menunjukan terdapat jejak Khilafah di Nusantara.

Adapun mengenai bantahan segelintir pihak terhadap JKDN, itu persoalan lain, dan tidak subtansial. Pasalnya, bantahan itu muncul pasca dan hanya merespon JKDN, dan bukan semenjak dulu. Itu artinya, berbagai penelitian, karya sejarah, dan riwayat sebelumnya mengenai jejak Khilafah tidak terbantahkan.

Sangat perlu dipahami, umat Islam terlebih Ahlussunnah wal Jama’ah, dalam memahami ajaran Islam seperti Khilafah, senantiasa merujuk pada praktik bernegara al-Khulafa’ ar-Rasyidun. Imam al-Ghazali (w. 505 H) rahimahullah menyampaikan:

فأما الخلفاء الراشدون فهم أفضل من غيرهم وترتيبهم في الفضل عند أهل السنة كترتيبهم في الإمامة

Adapun al-Khulafa’ ar-Rasyidun mereka lebih utama dari khalifah yang lainnya dan menurut Ahlussunnah urutan keutamaan mereka sesuai urutan dalam Imamah. (Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, cet. Dar al-Basha’ir, h. 512)

Dalil wajibnya mengikuti al-Khulafa’ ar-Rasyidun sangat jelas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, akan melihat banyak perselisihan. Maka kalian wajib berpegang pada Sunnah-Ku dan Sunnah Khulafa’ Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengan sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Dalam konteks empat Khalifah agung sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni Khalifah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali ridhwanuLlah ‘alaihim, nampak jelas ada dua konsep yang perlu diteladani umat Islam: Pertama, metode mengangkat Khalifah; dan kedua, prosedur teknis mengangkat Khalifah. Dari sini kita akan paham, Khilafah bukanlah dinasti seperti sebagian orang katakan.

Berkaitan metode mengangkat seorang Khalifah, sudah clear berdasarkan banyak dalil metode tersebut adalah baiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوا بِبَيْعَةِ الأَوَّلِ فَالأَوَّلِ، أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

“Dulu Bani Israil diurus para nabi, setiap kali seorang nabi wafat diganti nabi selanjutnya. Namun sungguh sepeninggalku tidak ada nabi lagi, tapi akan ada para Khalifah yang berjumlah banyak.” Para Sahabat bertanya: “Apa yang engkau perintahkan untuk kami?” Beliau menjawab: “Penuhilah baiat (khalifah) yang pertama, hanya yang pertama, lalu berikan hak mereka, karena Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Karena itu wajar jika imam as-Suyuthi (w. 911 H) rahimahullah, dalam Tarikh al-Khulafa’ hanya mencantumkan nama khalifah yang absah berdasarkan baiat, beliau berkata:

فلهذه الأمور لم أذكر أحدًا من العبيديين ولا غيرهم من الخوارج، وإنما ذكرت الخليفة المتفق على صحة إمامته وعقد بيعته، وقد قدمت في أول الكتاب فصولاً فيها فوائد مهمة

Karena beberapa alasan tersebut, dalam karya ini saya tidak menyebutkan satu orang pun dari kalangan ‘Ubaidiyyin dan kalangan Khawarij. Tetapi saya hanya menyebutkan Khalifah yang disepakati keabsahan kepemimpinan dan akad baiatnya. (Tarikh al-Khulafa, cet. Dar al-Ittiba’, h. 13)

Dalam konteks Khilafah Umayyah dan ‘Abbasiyyah, memang pernah terjadi pasang surut dalam pelaksanaan pengangkatan Khalifah termasuk dalam baiat. Ada sebagian besar penguasa yang berhasil dibaiat secara sempurna, namun ada juga sebagian oknum yang untuk menuju baiat, menggunakan cara-cara yang tidak pantas. Tapi tetap ujungnya adalah baiat sebagai penentu keabsahan jabatan Khilafahnya. Jadi walau bagaimana pun tetap harus dihargai, apapun masalah yang terjadi di masa lalu, sudah diselesaikan oleh ijtihad generasi muslim terdahulu. Pertimbangkanlah pernyataan Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) rahimahullah berikut:

وقد اتفق أهل العلم على أن دولة بني أمية وبني العباس أقرب إلى الله ورسوله من دولتهم وأعظم علما وإيمانا من دولتهم وأقل بدعا و فجورا من بدعتهم وأن خليفة الدولتين أطوع لله ورسوله من خلفاء دولتهم

Ahli ilmu sepakat, Daulah Bani Umayyah dan Bani Abbas lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya, ketimbang daulah mereka (ubaidiyyin-fatimiyyah). Dan lebih besar ilmu dan imannya daripada daulah mereka, lebih minim bid’ah dan maksiatnya daripada bid’ah mereka. Khalifah Daulah Umayyah dan Abbasiyyah lebih taat kepada Allah dan Rasul-Nya ketimbang klaim Khalifah daulah mereka. (Majmu’ al-Fatawa, cet. Majma’ al-Malik Fahd, 35/127)

Namun sekali lagi ditegaskan, bagi Ahlussunnah jika ada kekeliruan di masa pasca al-Khulafa’ ar-Rasyidun, maka rujukan yang benar untuk sistem Khilafah adalah kembali kepada empat orang Khalifah yang agung tersebut. Semisal dalam masalah wilayah al-‘ahdi alias putera mahkota yang dituduhkan sebagian pihak sebagai tanda Khilafah itu dinasti. Maka hal ini sudah jauh-jauh hari ditolak, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu menyampaikan:

أترضون بمن استخلفت عليكم؟ فإني ما استخلفت عليكم ذا قرابة

Apakah kalian ridha terhadap orang yang aku pilih sebagai penggantiku bagi kalian? Sungguh aku tidak memilih penggantiku dari orang yang punya hubungan kerabat! (Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, cet. Dar al-Kitab al-‘Arabi, II/ 267)

Demikian juga Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, menyampaikan:

من ولي من أمر المسلمين شيئا فولى رجلا لمودة أو قرابة فقد خان الله ورسوله والمؤمنين

Siapa yang memimpin urusan kaum muslimin, lalu mengangkat seseorang lantaran rasa sukanya atau karena hubungan kerabat, sungguh dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin. (Ibnu Taimiyyah, as-Siyasah asy-Syar’iyyah fi Ishlah ar-Ra’i wa ar-Ra’iyyah, cet. Dar ‘Alim al-Fawa’id, h. 8)

Mengenai prosedur teknis mengangkat Khalifah, atau rincian dan bentuk-bentuk aktivitas menuju baiat, bisa ditemukan pula pada al-Khulafa’ ar-Rasyidun, yang bisa diringkas sebagai berikut:

Pertama, kaum muslimin mendiskusikan calon Khalifah di Saqifah bani Sa’idah, dengan kandidat: Sa’ad, Abu ‘Ubaidah, ‘Umar dan Abu Bakar radhiallahu ‘anhum. Hasil diskusi tersebut, menetapkan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dibaiat sebagai Khalifah, lalu kaum muslimin mendatangi masjid membaiat di hari kedua, setelah baiat itu usai beliau resmi menjadi Khalifah seluruh umat Islam.

Kedua, ketika Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sakit menjelang wafat, beliau memanggil kaum muslimin meminta pendapat berkenaan Khalifah selanjutnya bagi umat. Musyawarah selama tiga bulan tersebut memunculkan dua nama kandidat: 'Ali bin Abi Thalib dan ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhum. Setelah musyawarah selesai dan diketahui pilihan mayoritas kaum muslimin kepada 'Umar, beliau mengumumkan ‘Umar adalah calon Khalifah selanjutnya. Pasca wafat Abu Bakar, kaum muslimin segera hadir di masjid membaiat ‘Umar untuk menjabat Khilafah, berdasarkan baiat tersebut beliau resmi menjadi Khalifah kaum muslimin. Jadi karena baiat tersebutlah beliau menjadi Khalifah, bukan karena musyawarah atau pengumuman sebelumnya.

Ketiga, ketika ‘Umar ditikam musuh, kaum muslimin memintanya menunjuk pengganti, tapi ditolaknya. Lalu kaum muslim terus meminta hal tersebut, akhinya beliau menunjuk kandidat sebanyak enam orang. Setelah ‘Umar wafat, para calon tadi mewakilkan urusan kepada salah seorang dari mereka, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu. Maka ‘Abdurrahman merujuk kepada pendapat dan meminta masukan seluruh kaum muslimin, hasilnya beliau umumkan pembaiatan ‘Ustman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu, akhirnya seluruh kaum muslimin membaiat ‘Utsman menjadi Khalifah kaum muslimin. Jadi baiatlah yang menjadikan beliau Khalifah, bukan penunjukan pengganti atau pengumuman ‘Abdurrahman.

Keempat, saat ‘Utsman terbunuh, mayoritas umat Islam Madinah dan Kufah membaiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, beliau akhirnya menjadi Khalifah kaum muslimin berdasarkan baiat tesebut. (al-Badrani, Dirasah al-Fiqh Ta’shil an-Nizham as-Siyasi fi al-Islam, cet. Dar as-Salam, h. 48-49).

Berdasarkan metode pengangkatan yakni baiat, dan prosedur teknis pengangkatan serta pembaiatan Khalifah diatas. Bisa dibuktikan bahwa sistem pemerintahan Islam alias Khilafah, bukanlah sistem dinasti. Wallahu a’lam.[]

Oleh: Yan S. Prasetiadi
Cikampek, 10 Muharram 1442 H

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=392902825378548&id=100039765013755

Posting Komentar

0 Komentar