Khilafah Ajaran lslam yang Agung

Momentum tahun baru lslam 1 Muharram 1442H ternodai oleh sikap Banser yang mempersekusi terhadap AH dan ZA sebagai pemilik yayasan pendidikan yang diduga menyebarkan ldeologi khilafah. Hal ini sangat mengusik rasa keadilan di masyarakat dan membuat banyak pihak prihatin.

Mereka menyebut dirinya Pancasilais tapi perbuatannya jauh dari sila-sila pancasila. Membentak, menyudutkan, bahkan mengintimidasi seorang ulama yang masih diduga menyebarkan faham yang mereka anggap salah. Video persekusi telah tersebar luas di medsos. Siapapun tahu bahwa tindakan Banser adalah persekusi bukan tabayun, sebagaimana yang disampaikan oleh Menag Fachrul Razi.

"Saya apresiasi langkah tabayun yang dilakukan Banser PC Ansor Bangil yang mengedepankan cara-cara damai dalam menyikapi gesekan di masyarakat terkait masalah keagamaan,” kata Menag Fachrul Razi dalam siaran persnya, Sabtu (22/8).

Pernyataan Menag Fachrul Rzani ini mendapat perhatian Prof Musni Umar. Sebab, dia melihat proses tabayun oleh Banser dilakukan dengan cara membentak dan mengintimidasi.

“Kalau pernyataan Menag ini benar, amat disayangkan, karena Islam tidak mengajarkan untuk membuat kekerasan, membentak, dan melakukan intimidasi kepada ulama atau kepada siapa pun,” ucap Prof Musni sebagaimana dikutip di akunnya di Twitter, Minggu (23/8). Fajar.co.id.

Menag bersikap ambigu, sebagai pejabat tentunya harus menjadi penengah ketika terjadi benturan. Terkesan melindungi, sehingga tidak segera menyeleseikan masalah. Padahal sikap Banser sudah melebihi aparat berwenang yaitu Kepolisian.

Beginilah sistem demokrasi sekulerisme yang dianut negeri ini. Disatu pihak menyerukan toleransi beragama, disisi lain membela tindakan intoleransi yang telah terjadi. Negara hukum tapi tidak memberikan hukuman kepada yang bertindak diluar jalur hukum.

Tindakan serupa pernah juga di alami UAS, UFS, UTZ, dan beberapa ustadz lain yang bernasib sama. Hanya karena diduga menyebarkan paham yang mereka anggap salah, tapi lagi-lagi Banser bertindak diluar kewenangan hukum, mempersekusi.

Dalam sistem Demokrasi yang dianut negeri ini, kebebasan diagung-agungkan atas nama HAM. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi siapa saja yang menyeru lslam kaffah dalam naungan Khilafah. Pihak yang mempersekusi menyatakan bahwa khilafah adalah ideologi atau paham yang sesat dan dilarang di lndonesia, sebagaimana halnya  ajaran PKI.

Khilafah bukan lah ldeologi, aliran, atau faham. Khilafah adalah syariat/ajaran lslam yang hukumnya fardhu Khifayah. Umat lslam semuanya punya kewajiban yang sama untuk memperjuangkannya. Bukan hanya HTI yang harus menegakannya, tapi seluruh kaum muslim punya kewajiban yang sama.

Dasar dari kewajiban adanya Khilafah adalah:

Pertama, Firman Allah SWT dalam Terjemah Qur’an Surat An Nur ayat 55: “Dan Allah telah berjanjikepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh la akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridloi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.”

Kedua, Hadist Rosulullah saw: “....... Kemudian akan ada masa kekuasaan diktator yang menyengsarakan, yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Selanjutnya akan muncul kembali masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian. Setelah itu Beliau saw diam.” (HR. Ahmad).

Ketiga, Ijma’ Shahabat. Sesaat setelah Rosulullah saw wafat, para shahabat senior langsung bersepakat untuk membaiat pengganti Rosulullah saw dalam hal menjaga agama dan urusan manusia. Selama tiga hari tiga malam para shahabat memilih siapa yang berhak memimpin mereka. Akhirnya terpilihlah Shahabat Abu Bakar ra sebagai khalifah yang pertama. Setelah Abu Bakar ra dibaiat di Saqifah Bani Saidah baru jenazah Rosulullah saw yang mulia dikebumikan. Ini menunjukan betapa keberadaan khalifah sangat penting untuk menjaga keberlangsungan urusan manusia. Sebaliknya ketiadaan Khalifah dalam sistem khilafah membahayakan kehidupan manusia. 

Sudah sangat jelas nash yang menunjukan kewajiban menegakan khilafah. Ini artinya khilafah pasti akan tegak kembali karena merupakan janji dari Allah SWT dan kabar gembira dari Rosulullah saw.

Sungguh kesalahan besar menyamakan sistem Khilafah dengan PKI. Sejarah membuktikan, khilafah menjadi peradaban agung yang menaungi hampir 2/3 wilayah didunia dengan berbagai suku, bangsa, agama, warna kulit dsb hidup sejahtera. Bahkan Nusantara sudah berhubungan dengan Khilafah pada mmasa Khalifah Umar bin Abdul Azis. Sedangkan PKI tahun 1965 dengan sejarahnya yang kelam, yaitu pembantaian sejumlah Jenderal,  Kyai, dan santri  yang terekam kuat dalam benak masyarakat lndonesia dengan G30S/Gestapu.

Adapun alasan bahwa Khilafah ditolak diberbagai negara bukan berarti khilafah salah, akan tetapi sikap hipokrit penguasa yang notabene kaki tangan penjajahlah yang menghalanginya. Karena khilafah akan menghilangkan hegemoni mereka/Barat atas negeri-negeri kaum muslimin.

Bahkan bab Khilafah telah diajarkan di Madrasah Aliyah di lndonesia sebelum akhirnya tahun 2020 ini di alihkan pada mata pelajaran sejarah/tarikh. Adalah H Sulaiman Rasyid Ulama Besar asal Lampung, dalam bukunya Fiqh Islam, menyatakan bahwa: “ Al Khilafah ialah suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran agama lslam, sebagaimana yang dibawa dan dijalankan oleh Nabi Muhammad saw semasa Beliau hidup, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar ra, Umar bin Khathab ra, Ustman bim Affan ra, dan Ali bin Abi Thalib kw) kepala negaranya disebut Khalifah.” (Hal 494. Bandung; Sinar Baru Algensindo, 1994).

Sungguh jelas bagi kita bahwa sistem demokrasi menjadi alat persekusi lslam yang mulia. Ketika umat mulai menyadari kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem ini dan hanya ingin hidup dalam naungan sistem Khilafah, mereka memutar balikan fakta. Persekusi, kriminalisasi dan labeling negatif adalah hasil demokrasi yang kalah secara intekektual. Sudah saatnya umat lslam bersatu agar tidak ada celah bagi musuh-musuh lslam untuk menghancurkan lslam. 

Terakhir siapa saja yang menghalangi tegaknya Khilafah maka akan berhadapan dengan Sang Pemilik ajaran Khilafah yaitu Allah SWT. (Ustadz lsmail Yusanto). Allahu a’lam.[]

Oleh: Umi Hanifah
(Aktivis Peduli Negeri dan Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar