Khilafah Ajaran Islam



Bagai menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Niatan ingin menenggelamkan 'Khilafah', namun justru menaikkan ide itu ke permukaan. Memantik perasaan generasi yang belum pernah menikmati indahnya hidup di bawah naungan Khilafah, untuk segera mencari kebenaran tentang negeri adi daya yang pernah meraja di pentas dunia, selama lebih dari 13 abad.

Apalagi saat ini konten dakwah sangat masif menguasai media sosial. Dakwah via daring menjadi solusi utama pencerdasan umat, di tengah pandemi Covid-19.  Maka, para perindu Khilafah dengan mudah akan memuaskan dahaganya mereguk ilmu Islam, bahkan bertanya langsung pada nara sumber yang tepat, demi menemukan sosok 'ibu' yang dahulu dianggap tidak becus mengurusi anaknya.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, tatkala baligho dan spanduk-spanduk besar terpasang di beberapa jalan Kota Cirebon, terutama di titik-titik keramaian, yang berisi penolakan terhadap ide 'Khilafah' oleh salah satu ormas. Salah satunya terpasang di Jalan Diponegoro, Kecamatan Kejaksan Kota Cirebon, Jawa Barat. (Pikiranrakyat,1/8/2020). 

Masih ada beberapa lagi, seperti di depan Masjid At Taqwa, lampu merah perempatan By-pass dengan Jalan Pemuda, Jalan Ampera, Pasar Jagasatru dan perempatan Jalan Siliwangi. Pemasangan di lokasi strategis, membuat banyak mata memandangnya. Seolah berharap semua orang sepakat bahwa 'Khilafah' layak diberangus di muka bumi.

Pemasangan spanduk penolakan tersebut disinyalir sebagai aksi lanjutan dari penghapusan kata 'Khilafah' pada draft yang dibacakan Ketua DPRD Cirebon, Affiati. Pembacaan ikrar terjadi setelah pihak dewan menerima perwakilan Forum Cirebon Bersatu yang menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP), pada Senin (6/7/2020. (Timesindonesia, 10/7/2020).

Ketika dibacakan, muncul kata 'Khilafah' disandingkan dengan paham komunisme, liberalisme, leninisme, dan sekularisme, yang sebelumnya tidak terdapat pada draft. Saat itulah perwakilan pendemo protes. Maka Affiati memperbaiki teks dan kemudian membacakan kembali, tanpa kata ‘Khilafah’ di poin tiga tadi. Hal ini berbuntut panjang, ormas yang menolak ide 'Khilafah' membawa kasus ini ke pengadilan.

Bahkan mereka juga bersikukuh bahwa berbagai tuduhan buruk yang dialamatkan pada 'Khilafah' melalui pesan dalam spanduk, menempatkan Khilafah sebagai tertuduh. Akan tetapi bagi pengguna jalan, penolakan ide Khilafah belum tentu dipahami sama buruknya seperti diharapkan ormas tadi. Bisa jadi yang terjadi malah sebaliknya.

Sebab bagi sebagian umat yang awam, kata ini merupakan hal baru. Musuh-musuh Islam berhasil menjauhkannya dari kehidupan umat. Sehingga kaum muslim sendiri tidak lagi mengenalnya. Sedangkan bagi sebagian lain yang terbiasa melihat ide 'Khilafah' di berbagai opini yang berkelindan di media, maka keislaman mereka akan senantiasa terusik.

Apalagi yang peka terhadap persoalan umat. Tentu bisa menyaksikan fakta, dan akan terus membandingkan solusi ala kapitalisme sekuler dengan solusi Islam. Hingga pada akhirnya ia akan melabuhkan hatinya pada Islam, pada Khilafah yang menjadi 'tajul furudh' atau mahkota kewajiban, yang seharusnya ada di tengah umat. 

'Khilafah' terus menjadi perbincangan hangat. Sekalipun para pengusungnya banyak yang diperkarakan, namun 'Khilafah' terus melaju memasuki pemikiran dan relung hati umat. Bahkan tatkala mulut ulama dibungkam, ide ini malah menyebar melalui lisan para pembencinya. Membuka jalan. Menuntun umat yang awam untuk bergerak sendiri mencari tahu keberadaannya.

Semakin dihujat dengan berbagai propaganda keji, justru semakin membuat penasaran dan mengusik keingintahuan. Sekalipun sejarahnya dikubur, tetapi wanginya tetap tersebar, cahaya indahnya pun berpendar. Berbagai upaya menjauhkannya dari benak umat, tampak tidak membuahkan hasil. Abad Khilafah perlahan tapi pasti, akan segera hadir. 

Tinggal menunggu detik-detik kemenangan Islam, sebagaimana dijanjikan dalam bisyaroh bahwa setelah,
“...kekuasaan diktator yang menyengsarakan, ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

Membumikan Khilafah

Khilafah Islamiyah adalah kepemimpinan umum pemerintahan Islam yang meliputi seluruh umat muslim di dunia, untuk menegakkan syariat di dalam negeri dan menyebarkan dakwah ke luar negeri. Pembebasan negeri-negeri terjadi sepanjang keberadaannya hingga abad 17 Masehi. Di antaranya Persia, India, Kaukasus, hingga batas teritorial yaitu Cina dan Rusia, serta ke seberang Laut Qazwin Timur.

Tidak hanya itu, dakwah Islam terus dilakukan dengan membebaskan Syam bagian utara, Mesir, Afrika Utara dan Spanyol bagian barat. Begitu pula Anatolia, Balkan, Eropa Timur dan Selatan hingga utara Laut Hitam meliputi bagian Qarmus dan Ukrania selatan. Seluruh negeri yang ditaklukkan masuk ke haribaan Islam. 

Bukti bahwa agama ini masuk akal, menentramkan hati dan sesuai fitrah manusia. Khilafah sebagai institusi yang menerapkannya pun bukan musuh, seperti digambarkan dalam spanduk. Ia merupakan kepemimpinan umat yang hakiki, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw, diikuti Khulafaur rasyidin sesudahnya, begitu pula oleh para khalifah yang banyak, sebagai bentuk penjagaan terhadap urusan umat.

Jika menggali sejarah lebih dalam, maka 'Khilafah' pun seharusnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Cirebon. Bahkan sudah sejak dulu sejalan dengan datangnya para wali yang ternyata utusan Kekhilafahan Turki Utsmani. 

Terdapat pada Manuskrip Purwaka Caruban Nagari, di abad 15 di pantai Laut Jawa ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat. Pengurus pelabuhan adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh (Pajajaran). Dan di pelabuhan ini juga terlihat aktivitas Islam semakin berkembang (Jabarprov.go.id). 

Jika selama ini para wali hanya digambarkan dengan berbagai unsur mistisnya, hingga tidak dipandang dari sisi politisnya, namun mereka melakukan aktivitas luar negeri Khilafah. Menyebarkan dakwah Islam melalui jalur maritim ke Asia Tenggara, membuat para dai utusan Khalifah ini akhirnya sampai ke Nusantara. 

Kota Cirebon yang terletak pada lokasi yang strategis dan menjadi simpul pergerakan transportasi antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, sehingga menjadikan beragam pemahaman berkembang di kota ini. Maka tidak heran, sekalipun jejak Khilafah pernah menapaki kota ini, tetapi ada upaya mengaburkan sejarah Islam.

Sementara Khilafah Utsmaniyah pun pernah berjasa mengamankan perjalanan haji dengan menempatkan armada di Laut Hindia. Juga mengirim bantuan personel pasukan termasuk ahli strategi, berikut senjata, meriam, kapal besar dan kecil yang dipimpin laksamana Kurtoglu Hizir Reis ke Kesultanan Aceh untuk bersama-sama melawan dan mengalahkan penjajah Portugis.

Tatkala runtuh Khilafah Turki Utsmani, hilanglah semua kekuatan umat. Imam Ghazali dalam kitab Al-Iqtishad fi al-I’tiqad menggambarkan eratnya hubungan antara syariah dan khilafah bagaikan dua sisi mata uang dengan menyatakan, 

“Ad dinu ussun wa al-shultanu harisun. Wa ma la ussa lahu fa mahdumun wa ma la harisa lahu fa dha'i"

Artinya, "agama adalah tiang dan kekuasaan adalah penjaga. Apa saja yang tidak ada asasnya akan roboh dan apa saja yang tidak ada penjaganya akan hilang”.

Kesempurnaan dan kelengkapan ajaran Islam, tidak hanya pada salat, puasa dan zakat, akan tetapi juga meliputi kehidupan bernegara. Politik dalam negerinya mengatur muamalah, memberlakukan hudud, uqubat, memelihara ukhuwah, akhlak dan menegakkan syiar Islam serta memelihara urusan umat sesuai hukum Islam.

Keagungan Khilafah secara jujur disampaikan Carleton S, Chairman and Chief Executive Officer, Hewlett-Packard Company, saat mengomentari peradaban Islam dari tahun 800 hingga 1600 Masehi,  

” Peradaban Islam merupakan peradaban yang paling besar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan sebuah negara adidaya kontinental (continental super state) yang terbentang dari satu samudera ke samudera lain; dari iklim utara hingga tropik dan gurun dengan ratusan juta orang tinggal di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan asal suku….Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai bangsa yang melindungi perdamaian dan kemakmuran yang belum dikenal sebelumnya. (Ceramah tanggal 26 September 2001, dengan judul "Technology, Business, and Our way of Life: What Next”, sumber: www. Khilafah com).

Maka tidak selayaknya kaum muslim menolak Khilafah. Sebagai ajaran Islam, ia wajib diterapkan. Ketiadaannya justru menjadikan ummul jaraim, induk dari segala kejahatan, mala petaka besar bagi umat. Karenanya, dibutuhkan ukhuwah,  persatuan umat untuk menegakkannya kembali, agar syariat Islam secara kafah dapat diterapkan, dalam bingkai Khilafah. Tsumma takuunu khilafatan ala minhajin nubuwwah.[]


Oleh: Lulu Nugroho
Pengemban dakwah dari Cirebon.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. ingat komunisme sama kapitalisme jadi ingat Trik bisnis :

    Bagaimana menjadi kapitalis satu-satunya di sebuah Perusahaan?
    Cukup menjadi CEO dan yang lain(Karyawan) jadi Buruhnya.

    Kemudian bagaimana menjadi Kapitalis satu-satunya di Sebuah Negara?
    Cukup menjadi Kepala Negara dan yang lain(Rakyat) jadi Buruhnya. Berhubung lebih besar, Rakyat cukup "dibohongi/didoktrin" Komunisme biar jadi Buruh yg lebih ikhlas.

    BalasHapus