TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ketahanan Pangan yang Terabaikan


Ditengah pandemi hari ini ekonomi terasa sempit. Termasuk dibidang pemenuhan kebutuhan pokok. Beberapa waktu lalu DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) mengesahkan Raperda tentang Penyelenggaraan Ketahanan Pangan di provinsi yang terdiri atas 13 kabupaten/kota tersebut untuk menjadi Perda setempat. (Antaranews.com/20-07-2020)

Pemerintah dipelopori oleh Kementrian Pertanian (Kementan) menjalankan program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI). Berubah menjadi program optimalisasi lahan rawa. Menjadikan Kalimantan Selatan menjadi targetnya. 

Kita tahu bahwa Kalimantan Selatan termasuk tanah rawa terkenal dengan lahan gambutnya yang bertanah merah. Berada didaratan rendah. Hampir setiap tahun lahannya tergenang air. Tingkat keasamannya tinggi. Ini menjadikan perlu penanganan khusus jika ingin mengolah lahan. Karena tingkat keasaman tinggi maka perlu dinetralkan dengan memberikan kapur. Hasil panen belum bisa optimal jika tanaman tidak dipupuk. Harus diberikan obat untuk perangsang pertumbuhannya. 

Pertanian di lahan rawa sangat terikat dengan iklim yaitu pasang surut air dan hama (tikus, burung, dll). Maka jika ingin bercocok tanam harus memperhatikan semua itu. Tak mudah langkah yang dilalui petani kalimantan dalam menyediakan kebutuhan pokok bagi negara, apalagi yang berada didataran rendah. Dari segala kekurangan yang ada, lahan rawa bisa dikelola. Dengan catatan mengeluarkan biaya lebih. Jika ingin membuka lahan baru yang notabene hutan Kalimantan masih asri, maka perlu waktu lama dan biaya yang tak murah.

Jika pemerintah serius dalam optimalisasi hasil panen mengapa tidak memanfaatkan lahan yang jelas-jelas subur dan tidak perlu penanganan khusus. Biaya yang dikeluarkanpun akan murah. Jadi bisa menghemat anggaran agar bisa dialokasikan kepada hal-hal lain yang lebih penting. Misalnya penanganan kemiskinan yang kian menjamur.

Untuk minat warga menjadi petani seperti menjadi kelas bawah. Ditambah lagi tingginya harga modal, pupuk, tenaga dan obat-obatan dibandingkan harga jual hasil panen. Misalnya saja sayur-mayur dan makanan pokok (padi). Bibit sayur itu harus membeli juga. Karena ada pemandulan bibit, jadi harus membeli dari penghasil bibit itu sendiri, misal bibit jagung manis, timun, terong dan bibit lainnya.

Semakin lengkaplah sudah penderitaan yang ada pada sektor pertanian ini. Sektor pertanian menjadi teranaktirikan. Anggaran untuk petani ini selalu dipangkas tiap tahunnya. Pasokan pupuk misalnya selalu berkurang setiap tahunnya. Pada tahun 2018 ada 9,55 juta ton, sedangkan pada tahun 2019 turun menjadi 8,6 juta ton. Tahun 2020 alokasi turun lagi menjadi 7,9 juta ton. (Sindonews.com)

Harus ada upaya serius dari pemerintah untuk memperhatikan sektor ini. Islam sangat memperhatikan sektor pertanian ini. Pertanian salah satu penopang utama dalam penopang pemenuhan kebutuhan rakyat. Karenanya adalah sumber ketahanan pangan utama. Rakyat sejahtera dengan tercukupinya kebutuhan pokoknya  yang paling urgen kebutuhan pangan. 

Setidaknya pemerintah harus memperhatikan prinsip pokok dalam ketahanan pangan. Mencari sistem apa yang diterapkan agar mampu mengatasi berbagai masalah pangan pada masa yang panjang. Mulai dari jaman islam berjaya sampai saat ini pun bisa diterapkan,sebagaimana yang digagas oleh Prof. Ing. Fahmi Amhar, yaitu: 

Pertama, optimalisasi produksi, yaitu mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian berkelanjutan yang dapat menghasilkan bahan pangan pokok.  Di sinilah peran berbagai aplikasi sains dan teknologi, mulai dari mencari lahan yang optimal untuk benih tanaman tertentu, teknik irigasi, pemupukan, penanganan hama hingga pemanenan dan pengolahan pasca panen.

Kedua, adaptasi gaya hidup, agar masyarakat tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi pangan.  Konsumsi berlebihan justru berpotensi merusak kesehatan (wabah obesitas) dan juga meningkatan persoalan limbah.  Nabi juga mengajarkan agar seorang mukmin baru “makan tatkala lapar, dan berhenti sebelum kekenyangan”.

Ketiga, manajemen logistik, dimana masalah pangan beserta yang menyertainya (irigasi, pupuk, anti hama) sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah yaitu dengan memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan mulai berkurang.  Di sini teknologi pasca panen menjadi penting.

Keempat, prediksi iklim, yaitu analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim dengan mempelajari fenomena alam seperti curah hujan, kelembaban udara, penguapan air permukaan serta intesitas sinar matahari yang diterima bumi.

Kelima, mitigasi bencana kerawanan pangan, yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. Mitigasi ini berikut tuntunan saling berbagi di masyarakat dalam kondisi sulit seperti itu.

Sebagian ilmuwan pertanian dalam sejarah Islam menuliskan semua prinsip ketahanan pangan itu nyaris dalam satu buku. Di dalamnya, dibahas soal jenis lahan pertanian dan pilihan tanah, pupuk kandang dan pupuk lain, alat pertanian dan karya budidaya, sumur, mata air, saluran irigasi, tanaman, pembibitan, penanaman, pemangkasan, dan pencangkokan buah. Mereka juga membahas soal budidaya serealia, kacang-kacangan, sayuran, bunga, umbi-umbian, dan tanaman untuk parfum. Pun, tentang tumbuhan dan hewan beracun serta pengawetan buah.  Bahkan tentang fiqih pertanahan dan ahlaq petani.

Sangat menarik jika kita berkaca pada apa yang menyebabkan sistem itu bisa berjaya. Jika ingin mencari solusi pasti ada solusinya. Jika ingin mencari alasan maka solusi apapun tak akan didengar. Maka solusi yang sudah terbukti mampu mengatasi masalah kenapa tidak diambil sekarang?.[]

Oleh: Meita Ciptawati
(Pemerhati Remaja)

Posting Komentar

0 Komentar