TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Keliru Ali Abdul Raziq Sebut Khilafah Bukan Bagian Ajaran Islam

foto: alwaie.id
 

Pemutaran perdana film dokumenter Jejak Khilafah Di Nusantara menjadi pantikan awal diskusi berkepanjangan soal khilafah. Pro kontra sudah terjadi sebelum film ditayangkan. Prof. Peter Carey, sejarawan yang menganggap dirinya sebagai korban penjebakan menjadikan gelombang pembicaraan khilafah kian menajam. 

Sebagai seorang muslim, dalil adalah sandaran terkuat menjalankan tugas sebagai hamba di muka bumi. Khilafah sebagai mahkota kewajiban telah disebutkan dalilnya dalam al-Qur’an, sunnah maupun pendapat ulama. 
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sungguh aku akan menjadikan di muka bumi khalifah...” (QS al-Baqarah: 30). 

Imam al Qurtubi menjelaskan ayat ini merupakan hukum asal tentang kewajiban mengangkat seorang khalifah. Beliau menegaskan “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat khalifah) ini di kalangan umat kecuali pendapat yang diriwayatkan Asham (yang tuli tentang syariah)...” (Al-Qurtubi, Al Jami’ li Ahkam al-Qur’an, I/264).

Dalil sunnah menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “siapa saja yang mati, sedang di lehernya tidak ada bai’at (kepada imam atau khalifah), maka ia mati jahiliyah” (HR Muslim). 

Sebagai isyarat begitu pentingnya kepemimpinan kaum muslimin, sepeninggal Rasulullah saw, para sahabat memilih menunda pengurusan jenazah beliau untuk bermusyawarah menentukan siapa yang akan memimpin kaum muslimin.

Rasulullah saw bersabda: “Bani Israil dulu telah diurus oleh para nabi. Ketika seorang nabi wafat, ia akan digantikan oleh nabi lain. Sungguh tidak ada seorang nabipun setelahku. Yang akan ada adalah khalifah sehingga jumlah mereka banyak” (HR. Muslim).

Keberadaan dalil keharusan adanya khilafah telah jelas dari berbagai sumber yang qath’i. Adapun ulama maupun intelektual yang menganggap khilafah bukan bagian dari islam adalah bentuk kegagalan mereka dalam memahami kedudukanya. Seperti ulama kontemporer, Ali Abdul Raziq (1888-1966) yang banyak diikuti oleh penentang khilafah saat ini. Ia telah menyatakan khilafah tidak wajib adanya dan tidak ada halangan membentuk model lain dari sistem khilafah.

Melihat sanad keilmuannya, Abdul Raziq menimba ilmu dari Inggris yang posisinya sebagai rival Utsmani untuk menjajah dunia Islam. Sehingga ia sendiri dikucilkan dari ulama Al-Azhar Mesir yang kala itu mendukung penuh keberadaan dan kewajiban khilafah. 

Bukan berarti redup, gagasan Abdul Raziq sendiri semakin meluas dan dijadikan pengokoh bagi sekuleris untuk semakin menjauhkan Islam dalam kehidupan. 

Wahai umat Islam, sadarilah jati diri sebagai seorang muslim yang hakiki. Menempatkan aqidah sebagai landasan setiap amalan, sehingga benar-salah dikembalikan dalam timbangan syariat. Berbagai macam bencana yang menimpa umat Islam kini adalah bukti ketiadaan rahmat Allah karena tidak menerapkan aturan yang berasal dari Nya. 

Sedangkan menilik tujuan diturunkannya Islam tidak lain adalah membawa rahmat bagi semesta alam. “Dan tidaklah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya’).

Sudah saatnya umat menyadari akar dari seluruh akar permasalahan kini karena tidak hadirnya syariat Islam sebagai jawaban atas persoalan kehidupan. Tidak tenggelam dalam upaya deislamisasi yang dilakukan penjajah demi menjaga eksistensi penjarahan di negeri-negeri muslim.[]


Oleh: Nafisa Az-Zahrah

Posting Komentar

0 Komentar