TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kekuatan Itu Bernama Keyakinan

Foto: islampos.com

“Sungguh Kostantinopel akan dibebaskan, sebaik–baik amir adalah amirnya dan sebaik–baik pasukan adalah pasukan tersebut.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Al Hakim dalam Al Mustadrak menyatakan hadits ini shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga dikeluarkan oleh Al Haitsami, Abu Nu’aim, Ibnu Abi Syaibah, Al Bazzar dan At Thabrani.

Syahdan, Rasulullah ditanya oleh salah seorang sahabat. ''Ya Rasul, mana yang lebih dahulu jatuh ke tangan kaum muslimin, Konstantinopel atau Romawi?'' Nabi menjawab,''Kota Heraklius (Konstantinopel). (HR Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim).

Kedua hadits ini telah mendorong umat Islam untuk merealisir sabda Nabi tersebut. Maslamah bin Abdul Malik memanggil Ubaidillah dan menanyakan tentang hadits ini, setelah diberitahu kebenarannya maka Maslamah kemudian menyerang Kostantinopel. Pasca Maslamah, upaya itu dilanjutkan oleh Abu Ayyub al-Anshari (44 H), Sulaiman bin Abdul Malik (98 H), Harun al-Rasyid (190 H), Beyazid I (796 H), dan baru berhasil pada masa Sultan Muhammad Al Fatih (824 H). Dengan kekuatan tak kurang 100 ribu pasukan, pasukan kekalifahan Utsmani dibawah komando Mehmed II, dikenal dengan panggilan Muhamad Al-Fatih, berhasil menaklukkan jantung peradaban Kristen terbesar itu. Tepatnya pada 29 Mei 1453, atau tujuh abad kemudian.

Selat di Konstantinopel dibentang rantai besar, memusykilkan armada kecil sekali pun untuk melewatinya. Tapi Al-Fatih saat itu usianya 23 tahun tak kehabisan akal. Ia menggusur kapal-kapalnya dari laut ke darat, demi menghindari rantai besar. Sebanyak 70 kapal digotong ramai-ramai ke sisi selat dalam waktu singkat pada malam hari. Inilah awal dari kejatuhan Konstantinopel yang fenomenal. Nama konstantinopel kemudian diubah menjadi Istambul (kota Islam).

Keyakinan dalam dirilah bahwa apa-apa yang terucap dari sang Nabi adalah sesuatu yang benar. Penaklukan Konstantinopel menjadi salah satu bukti bahwa kekuatan Iman dan keyakinan akan bisyarah Rosul. Saat ini kita juga menyaksikan bagaimana kekuatan keyakinan ada dalam diri kaum muslimin. Keyakinan bahwa khilafah adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dalam diri kaum muslimin. Khilafah adalah perisai bagi kaum muslimin yang saat ini terpecah-belah. Khilafah adalah janji Allah yang akan segera terwujud kembali. 

Sebagaimana sabda nabi :
“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

Benih-benih kebangkitan dari sebuah kayakinan akan bisyarah itu sudah mulai terlihat. Animo masyarakat yang begitu besar terhadap pemutaran film Jejak Khilafah di Nusantara semakin menyakinkan kita, insyaaAllah Islam akan berjaya kembali. Meskipun penayangan film ini sempat tertunda, tidak membuat para penontonnya beralih meninggalkannya. 

Bahkan ada beberapa diantara mereka yang merasa "berjihad" dalam menonton film ini. Berasa ngos-ngosan dan seperti kucing-kucingan dalam menontonnya. Pemutaran film dokumenter berdurasi sekitar 50 menit yang berjudul Jejak Khilafah di Nusantara menunjukkan dengan jelas bahwa sejarah islam di nusantara tak bisa lepas dari eksistensi dan peran khilafah. 

Film yang digagas oleh Komunitas Literasi Islam (KLI) ini memutar berbagai bukti sejarah, mulai dari nisan makam para Sultan hingga hubungan antara Samudra Pasai di Sumatra dengan Kekhilafahan di Timur Tengah. Sampai akhirnya menyebar di berbagai daerah di Nusantara, salah satunya ke Gresik, Makassar, Buton dan sebagainya.

Seiring gelora Islam terus melaju mulai dari Aceh, Jawa Timur sampai ke Jaziratul Muluk yakni kepulauan raja-raja, yaitu Maluku yang juga dikenal sebagai kepulauan rempah-rempah. Di Maluku ini, ada begitu banyak Raja berkuasa di masing-masing pulau, namun sejak masa Zainal Abidin penguasa ternate yang masuk Islam belajar kepada Sunan Giri di Jawa, maka Raja Ternate tersebut langsung memproklamirkan wilayah kekuasaannya sebagai Negara Islam. 

Maka secara cepat diikuti oleh penguasa-penguasa lain di Maluku, sehingga seluruh wilayah mereka menjadi Darul Islam.
Dalam film ini juga diungkap tentang sejarah pengiriman ratusan tentara Khilafah Utsmaniyyah ke Aceh atas titah Sang Amirul Mu’minin, Khalifah Selim II. Merekalah yang membantu Sultan ‘Ala’udddin Ri’ayat Syah al-Qahhar dan segenap rakyat Aceh dalam mengembangkan umat Islam sebagai sebuah kesatuan yang global. Pemutaran film ini sekaligus menepis anggapan bahwa perjuangan khilafah adalah perjuangan yg ahistoris karena faktanya ternyata memang ada jejak-jejak kekhilafahan di Nusantara.   

Di era yang lalu, pada masa pemerintahan Khilafah Utsmaniyah juga pernah berjasa dalam membantu rakyat Nusantara saat terjadi bencana banjir di Batavia, ketika masa penjajahan Belanda. Tepatnya pada tahun 1916. Sultan Mehmed V mengirim bantuan 25.000 Kurush koin emas, yang senilai dengan 91.500 US dollar atau sekitar 1,2 milyar.

Tentu saja pemberian bantuan itu didorong oleh semangat membantu meringankan saudara sesama muslim yang mengalami musibah. Arsip pengiriman bantuan milik Khilafah Utsmaniyah ini masih tersimpan rapi sampai sekarang di Turki. Inilah bukti bahwa rakyat Nusantara atau Indonesia sangat berhutang jasa dan kebaikan kepada Khilafah Islamiyah yang waktu itu direpresentasikan oleh Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Istambul Turki.

Fakta sejarah yang lain yaitu ditemukannya sebuah arsip Khilafah Utsmani yang berisi sebuah petisi dari Sultan ‘Ala’udddin Ri’ayat Syah kepada Sultan Sulaiman al-Qanuni yang dibawa oleh Husein Effendi. Dalam surat ini, Aceh mengakui penguasa Utsmani sebagai Khalifah Islam. Selain itu, surat ini juga berisi laporan tentang aktivitas militer Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap para pedagang Muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Mekkah. Karena itu, bantuan Khilafah Utsmani sangat mendesak untuk menyelamatkan kaum muslim yang terus dibantai Farangi (Portugis) (Sumber: Farooqi, “Protecting the Routhers to Mecca”, hal. 215). 

Di saat sistem kapitalisme tidak mampu menyejahterakan rakyatnya, maka sistem Khilafah-lah yang menjadi solusi tuntasnya. Asas kapitalisme yang rusak, nyata telah membuat kehidupan tak tentu arah. Membuat manusia –demi dan atas nama kebebasan– sibuk mengejar segala hal yang serba materialistis. Membangun peradaban yang menjauhkan manusia dari fitrah penciptaan, sebagai hamba Allah dan khalifah bagi alam dan kehidupan. 
Khilafah merupakan keniscayaan di era modern saat ini. Dalam sistem ini terdapat seluruh aturan kehidupan, baik pendidikan, ekonomi, sosial, hankam. Aturan yang berasal dari penggenggam jiwa kita, Rabb kita yang hakikatnya mengetahui segala apa yang diciptakannya.

Begitu dahsyatnya "the power of belief", kekuatan sebuah keyakinan karena mampu memotivasi kita untuk bergerak melakukan suatu tindakan yang terkadang sangat berat bahkan yang kita pikir tidak mungkin dilakukan. Sebagaimana kita yakin bahwa akan datang waktu magrib untuk berbuka puasa, maka kita akan berusaha menahan godaan sampai datangnya waktu berbuka. 

Keyakinan akan bisyarah Rosul inilah yang menjadi pendorong kita untuk terus berjuang menegakkan Islam secara kafah dalam bingkai daulah. Sungguh bersabar dalam memperjuangkannya adalah perkara yang tidak mudah. Apalagi dalam sistem kapitalis ini, sistem yang menuntut kita berjuang sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Tapi yakinlah bahwa kita tidak sendiri dan lebih dari itu semua, yakinlah bahwa Allah bersama kita. Waallahua'lam bi showwab.[]

Oleh : Andri Septiningrum, S.Si
Ibu Pendidik Generasi

Posting Komentar

0 Komentar