TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Jejak Khilafah Islam pada kesultanan Melayu Johor Lingga di Kepulauan Riau



Viralnya film dokumenter “Jejak Islam di Nusantara” dimedia sosial begitu ramai diperbincangkan, baik kalangan muda maupun tua dari berbagai penjuru Indonesia. Film ini akan mengupas tabir sejarah Islam di nusantara yang berhubungan dengan khilafah Turki Usmani. 

Jika kita hanya mengenal walisongo ditanah Jawa sebagai pembawa risalah Islam ke nusantara, Penulis mencoba mengangkat cerita sejarah yang berada di tanah melayu Kepulauan Riau. 
Pembahasan khilafah memang tidak pernah habis diruang publik, karena ada nilai historis dan empiris dalam khazanah keilmuan Islam khususnya budaya melayu pada kesultanan Riau Lingga. 
Kesultanan Lingga yang berada di Kepulauan Riau merupakan Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di  Indonesia. 

Berdasarkan Tuhfat al-Nafis, Sultan Lingga merupakan pewaris dari Sultan Johor, dengan wilayah mencakup Kepulauan Riau dan Johor. Kerajaan ini diakui keberadaannya oleh Inggris dan Belanda setelah mereka menyepakati Perjanjian Traktak London tahun 1824. 
Sejarah Johor dimulai pada masa pemerintahan Kesultanan Malaka. Sebelumnya daerah Johor merupakan bagian dari Kesultanan Malaka, kemudian Malaka jatuh akibat penaklukan Portugal pada tahun 1511.  

Berdasarkan Sulalatus Salatin, setelah wafatnya Sultan Malaka, Mahmud Syah tahun 1528 di Kampar, Sultan Alauddin Syah, salah seorang putra raja Malaka, menjadikan Johor sebagai pusat pemerintahannya dan kemudian dikenal sebagai Kesultanan Johor. wilayah kerajaan johor meliputi Johor, Pahang, Selangor, Singapura, Kepulauan Riau, dan daerah-daerah di Sumatra seperti Deli, Siak, Rokan, Inderagiri, Batu Bara, dan Jambi sebagai wilayah kedaulatannya. (Wikipedia bahasa Indonesia 26 Maret 2020).

Pengaruh dari perjanjian Traktat London tahun 1824 antara Inggris dan Belanda, mereka membagi bekas wilayah Kesultanan Johor atas dua bagian, kemudian mereka menempatkan orang kepercayaanya  pada masing-masing daerah, sehingga muncul dualisme kepemimpinan pada bekas wilayah Kesultanan Johor, Sultan Husain  didukung oleh Inggris sebagai sultan johor di Singapura sedangkan Sultan Abdul Rahman Muadzam Syah didukung oleh Belanda sebagai sultan di Riau lingga di Lingga Kepulauan Riau. 

Hubungan kedua kerajaan tersebut terus berjalan dengan baik sampai tahun kerajaan 1911 masehi, Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah merupakan sultan pertama kerajaan ini. Kemudian pada tahun 3 Februari 1911,  kesultanan ini dihapus oleh pemerintah Hindia Belanda. 

Kesultanan ini memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Melayu hingga menjadi bentuknya sekarang sebagai bahasa Indonesia. Pada masa kesultanan ini bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia, yang kaya dengan sastra. Tokoh besar di belakang perkembangan pesat bahasa Melayu ini adalah Raja Ali Haji, seorang pujangga dan sejarawan keturunan Bugis. 

Seperti yang penulis kutip pada laman jalil@ump.edu.my- Kegemilangan kesultanan Johor banyak dipengaruhi oleh hubungannya dengan Khilafah Usmaniyah. 

Dibuktikan dengan beberapa peninggalan bersejarah di kerajaan johor – lingga seperti bentuk  bangunan khas istana dan masjid-masjid dipengaruhi oleh bentuk-bentuk bangunan lama di wilayah Khilafah Usmaniyah. Hubungan Johor dan Khilafah usmaniyah yang begitu erat, dikatakan bahwa Johor sebenarnya menjalankan pemerintahan dengan menggunakan sistem Khalifah, karena berada di bawah naungan Khilafah Usmani dan bukannya sistem "British" seperti yang di gambarkan di dalam buku-buku sejarah. 

Ini dapat dibuktikan dalam Perjanjian Inggeris Johor Tahun 1885, di mana Inggris menganggap Johor sebuah negeri yang berdaulat dan merdeka dalam  perjanjian tersebut juga Inggris telah menyatakan raja Johor sebagai Sultan sebagaimana yang yang dilakukan oleh Khilafah usmaniyah.

Anugerah gelar "Sultan" kepada Sultan Johor Abu Bakar adalah pemberian Khilafah usmaniyah sewaktu kepergian baginda raja ke Turki pada tahun 1866. 

Sebelum itu Khilafah usmaniyah juga telah memakai gelar Sultan kepada Sultan Melaka sebagaimana dicatatkan di dalam Buku "Hikayat Hang Tuah", yaitu Sultan Muzaffar Shah telah menghantar 6 Hang Tuah ke Turki untuk mendapat penghargaan  dari Khalifah untuk memakai gelaran Sultan. Begitu juga dengan Pasai dan Sultan Aceh Iskandar Alam, kesemua mereka menghadap Khalifah untuk mendapat penghargaan memakai gelaran Sultan.

Beberapa perjalanan Sultan johor yaitu sultan Abu Bakar ke Khilafah usmaniyah telah dilakukan yaitu pada tahun 1866, tahun 1879 dan tahun 1893.

Pada tahun 1894, Kapal Perang Attughrul dari Turki telah mendarat di Istana Besar Johor. Pembacaan  doa untuk Raja-Raja juga telah dibacakan dan buat pertama kali telah digunakan pada tahun 1895 mengikut adat dan amalan Khalifah Turki Usmniyah dan seterusnya ditiru oleh orang-orang melayu Lingga  Kepulauan Riau hingga kini.

Pada tahun 1904, pegawai Khilafah Usmani telah diberikan bintang penghargaan Kerajaan Johor, Raja Ali Kelana dari Riau telah dilantik menjadi Sheikh Al Islam, jabatan yang lebih tinggi dari Mufti Kerajaan seperti yang digunakan oleh Khilafah Turki usmaniyah. 

Raja Ali Kelana telah dihantar ke Turki untuk mendalami undang-undang mal Islam yaitu “Majallah al-Ahkam al-`Adliyyah” pada tahun 1883, 1895, 1899 dan 1913. Kemudian Majalah ini diterjemahkan dan dinamakan dengan “Majalah Ahkam Johor” pada tahun 1913. 
Syed Hasan dan Syed Abu Bakar al-Attas dan 4 orang pegawai kerajaan Johor juga telah dikirim menghadiri sidang kenegaraan khilafah pada tahun 1926 sebagai wakil Sultan Johor.

Demikian fakta sejarah jejak  khilafah di bumi melayu, yang selalu ditutupi demi mengukuhkan dominasi barat. Besarnya peran dan jejak khilafah ini selalu luput dari pelajaran sejarah terutama di sekolah-sekolah umum. Sudah saatnya kita bersuara dan mengangkat dan mengajak kaum muslim khususnya di bumi melayu untuk memahami dan mengangkat jejak khilafah dibumi melayu. Wallahu a’alam.[]

Oleh : Riana Magasing M.Pd 
Pendidik dan Tim penyusun kurikulum muatan lokal budaya melayu

Posting Komentar

0 Komentar