TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Jejak Khilafah di Nusantara: Membuka Tabir Sejarah

Foto: Republika.co.id


Animo masyarakat terhadap kehadiran film dokumenter 'Jejak Khilafah di Nusantara' nampak riuh di dunia nyata dan maya. Meski masa pandemi, tidak menyurutkan langkah para penggagas film tersebut untuk menyajikan sesuatu yang berbeda. Jika kita hanya mengenal wali songo sebagai pembawa risalah Islam di tanah Jawa. Maka di film 'Jejak Khilafah di Nusantara'  kita akan diajak menelusuri latar belakang mengapa ada wali songo. Bagaimana berdirinya kerajaan Islam di Nusantara. Film ini juga bakal membuka tabir sejarah nusantara dengan peradaban Khilafah Turki Utsmani. 

Besarnya antusiasme masyarakat terhadap pemutaran film dokumenter menarik untuk dikuliti. Pertama, film dokumenter pertama tentang Khilafah. Sebagaimana diketahui, istilah 'Khilafah' bukan lagi menjadi hal tabu untuk diperbincangkan. Terlepas dari pro dan kontra, pembahasan khilafah memang tak pernah mati didiskusikan di ruang publik. Mengapa? Karena ada nilai historis dan empiris yang menjadi daya tariknya. Bagi mereka yang obyektif akan memberi porsi yang adil, khilafah sebagai gagasan sistem pemerintahan alternatif sejatinya bukanlah hal baru dalam khazanah keilmuan Islam. 

Kedua, momen pas di bulan Muharram. Penggagas film ini rupanya tahu betul bagaimana membangkitkan ghirah umat Islam. Kita tentu tidak asing dengan peringatan tahun barun Islam yang jatuh pada 1 Muharram 1442 H. Tepatnya, hari Kamis 20 Agustus 2020. Momen bersejarah  bagi umat Islam, yakni hijrahnya Nabi shallallahu alaihi wassalam dari Makkah ke Madinah. 

Dalam peristiwa hijrah Nabi tersimpan pesan politik, yaitu hijrah Nabi merupakan peletak dasar berdirinya Daulah Islam Madinah pertama bagi umat Islam. Disanalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membangun masyarakat Islam. Di sana pula Rasulullah menetapkan hukum Islam dalam pemerintahan. Di sana juga menjadi cikal bakal berdirinya pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang menjadi kiblat bagi khalifah-khalifah penerus Khilafah yang sesuai metode kenabian. 

Maka, film Jejak Khilafah di Nusantara adalah hadiah bagi umat Islam. Tanpa Khilafah, akankah nusantara tersentuh dengan Islam? Maka, film ini sangat layak untuk ditonton bagi siapa saja yang ingin mengulik sejarah Islam di nusantara. 

Ketiga, sebagai referensi sejarah. Di antara viralnya perbincangan film ini, tentu ada yang merasa tidak senang dengan karya ini. Pro dan kontra itu pasti. Hanya saja, jika kita mau membuka diri cobalah untuk melihat dengan pandangan yang lebih jujur dan luas. Bukan melihat dengan egoisme pribadi atau kelompok. Setidaknya, film ini bisa dijadikan pembanding di antara tumpukan sejarah bangsa Indonesia. Jas merah, kata Bung Karno. Jangan lupakan sejarah. 

Di antara kitab sejarah yang beredar, tak banyak yang memberi gambaran utuh keterkaitan nusantara dengan Khilafah Utsmani di Turki. Kita mungkin hanya tahu Islam dibawa oleh para pedagang Arab atau sembilan wali. Tahukah kita dari mana datangnya para pedagang dan sembilan wali yang disebut wali songo itu? Siapa mereka? Datang dari mana? Apa misinya? Bagaimana berdirinya kesultanan Islam di nusantara? Jawabannya bisa Anda lihat dalam film ini. 

Keempat, urgensitas belajar sejarah. Prof A. Hasymy, dalam bukunya 'Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia' mengatakan, "Sesungguhnya sejarah adalah jembatan penghubung masa lampau dengan masa kini dan membuat pijakan untuk menatap masa depan." Zainal Abidin bin Syamsudin dalam bukunya yang berjudul Fakta Baru Wali Songo juga mengatakan, "Umat yang eksis hanyalah umat yang mampu menghayati sejarah masa lampaunya kemudian dijadikan sebagai pijakan menentukan arah masa depannya."

Ya, belajar sejarah itu penting. Terutama sejarah Islam. Dengan sejarah, kita bisa mempelajari fakta runtuh dan gemilangnya peradaban Islam. Dengan belajar sejarah kita bisa mengambil hikmah atas peristiwa di masa lalu. Dengan begitu, umat tidak akan mengulang kegagalan di masa lampau. Umat bisa membangkitkan kembali peradaban Islam yang pernah berjaya selama kurang lebih 13 abad lamanya. Film Jejak Khilafah di Nusantara  menyajikan fakta sejarah dan kebenaran yang mungkin belum kita ketahui. 

Kelima, nusantara itu unik. Sebagai negeri berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, nusantara bisa dikatakan unik dan menarik. Andai saja para ulama penyebar agama Islam di nusantara masih hidup, mereka mungkin tak pernah membayangkan ajaran Islam begitu mendominasi di negeri ini. Sungguh berkah yang tidak terkira. 

Fakta yang sangat menarik. Uniknya, Indonesia diberi kelimpahan yang tidak sedikit. Kekayaan alamnya terbentang luas. Sebutannya bermacam-macam. Hutannya disebut paru-paru dunia. Wilayahnya dikatakan zamrud khatulistiwa. Sampai-sampai digambarkan dalam sebuah lagu, Indonesia ibarat kolam susu, tongkat dan batu bisa jadi tanaman. Saking suburnya tanahnya. 

Dengan segala keistimewaan itu, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi negara adidaya. Hal itu membutuhkan sentuhan Islam sebagai sistem kehidupan. Bukan sentuhan kapitalisme dan sekularisme. Film dokumenter ini bisa menjadi referensi bagaimana sistem pemerintahan Islam (khilafah) mampu menguasai 2/3 dunia. 

Oleh karena itu, film ini sangat layak menjadi tontonan serta tuntunan bagi masyarakat agar tidak buta sejarah. Cocok untuk semua kalangan. Tepat untuk meningkatkan keimanan serta kebanggaan atas identitas keislaman kita. Tontonan asyik nan ciamik. Jangan berprasangka dulu sebelum Anda menontonnya terlebih dahulu. Lihat dulu, komentar kemudian. 

Mari renungkan apa yang disampaikan Ibnu Khaldun dalam buku Muqadimah Ibnu Khaldun, "Faedah belajar sejarah bahwa sejarah merupakan mazhab keilmuan paling bergengsi, faedahnya sangat banyak dan sasarannya sangat mulia. Karena dengan sejarah, kita mampu mengenali akhlak umat terdahulu, jejak hidup para Nabi,  dan tata kelola pemerintahan, serta dasar kebijakan politik para raja. Dengan tujuan agar kita mengikuti perikehidupan mereka, hingga kita mampu mengambil faedah untuk kepentingan dunia dan agama."[]


Oleh: Chusnatul Jannah 
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar