TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Jejak Khilafah di Nusantara, Jangan Sampai Dikuburkan Apalagi Dikaburkan



          Film dokumenter yang bertajuk Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) telah menuai antusiasme bagi masyarakat Indonesia. Terbukti adanya pantauan jumlah penonton mencapai 430 ribu lebih yang ditayangkan secara _streaming_ pada tanggal 1 Muharam, 1442 Hijriah atau Kamis, 20/8/20, pukul 09:00 WIB. Begitu pula di media sosial, film tersebut telah menduduki posisi trending topic di twitter land. 
          Khilafah Channel telah menggandeng Komunitas Literasi Islam (KLI) dalam pembuatan film ini. Sebelum pemutaran film tersebut terdapat talk show yang dihadiri oleh tiga tokoh pembicara, yaitu Ustadz Ismail Yusanto (penasihat KLI), Nicko T. Pandawa (produser sekaligus penulis naskah JKdN dan Septian  A.W. (sejarawan muda).

           Dalam talk show tersebut, Ustadz Ismail menuturkan, “Jika sejarah dibuat dengan benar, maka ibrah (hikmah) yang didapatkan juga benar. Namun jika sejarah ditulis salah, maka ibrah yang akan diperoleh adalah salah”. Untuk itu perlu adanya seseorang yang mampu untuk membuat sejarah yang bisa menghadirkan ibrah bagi umat manusia.
 
          Beliau juga mengatakan, “Sejarah adalah second hand reality, tergantung siapa yang menuturkan”. Kaitannya dengan penelusuran sejarah, acap kali tidak terlepas dari latar belakang politik. Sehingga harus ditekankan, sejarah yang benar harus dibangkitkan, jangan sampai dikuburkan apalagi dikaburkan. Maka ada pesan dari Ustadz Ismail, bahwa sejarah digunakan untuk menggali kebenaran.

          Menurut Ustadz Ismail, pada dasarnya sejarah bukanlah sumber hukum atau sumber pemikiran namun sebagai objek pemikiran yang berfungsi memperkuat dan menjadi bukti adanya sejarah. Beliau memaparkan, “Khilafah bukan ajaran yang bersifat khayalan yang tidak bisa diterapkan. Umpamanya tidak ada jejak khilafah di Nusantara, bukan berarti khilafah tidak wajib ditegakkan. Adanya khilafah bukan berdasarkan ada atau tidaknya sejarah. Untuk itu kembalikan kepada dalil atau hadits yang shohih”. Bisa dikatakan bahwa status hukum adanya khilafah tidak berubah dan adanya sejarah ini merupakan sebagai motivasi kepada umat muslimin untuk percaya terhadap adanya khilafah.

          Septian sebagai sejarawan muda menyebut salah satu latar belakang JKdN diproduksi adalah untuk menjawab tantangan zaman. Dimana khilafah telah menjadi obrolan dan perbincangan dari masyarakat Indonesia. Bahkan saat ini khilafah menjadi topik panas di dunia. 

          “Film jejak khilafah di Nusantara disampaikan dengan narasi ringan, visualisasi dan audio visual yang menarik kekinian,” ujarnya. Terbukti, sepanjang tayangan penonton akan disuguhi visual yang bagus, audio dan narasi yang rapi dengan runtutan yang memperlihatkan bahwa jejak khilafah di Nusantara memang ada. “Film ini juga memberikan jaminan kepada penonton berupa nilai akademis dan ilmiah,” imbuhnya.

          Sang sutradara, Nicko Pandawa menuturkan bahwa film ini bisa dipertanggungjawabkan, sebab berlandaskan penelitian dan riset akademis yang didukung sumber primer dan sekunder, bahkan data lapangan yang ditelusuri dari ujung Sumatra-Aceh, Pulau Jawa, hingga ujung timur-Ternate. Bisa disimpulkan bahwa akurasi film ini sudah dijaga melalui proses penelusurannya.

          Pemutaran film ini sempat terkendala dikarenakan ada pihak yang memblokirnya. Pada halaman website muncul kalimat yang bertuliskan ‘Konten ini tidak tersedia di domain negara ini karena ada keluhan hukum dari pemerintah’. Setelah terjadi peretasan selama tiga kali, film Jejak Khilafah di Nusantara kembali berjalan lancar hingga akhir tayangan. Alhasil peluncuran film ini bisa dikatakan sukses besar dan digadang-gadang sebagai film pertama di Indonesia bahkan dunia yang mengisahkan hubungan Khilafah dengan Nusantara.[]

Oleh: Thowiyatun Nadziroh

Posting Komentar

0 Komentar