Jejak Khilafah di Nusantara, Bukti Indonesia Butuh Khilafah


Karakter yang melekat pada ajaran dan aturan Islam adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surat al - Anbiya ayat 107. Abdullah ibn Abbas ra menjelaskan bahwa Allah SWT itu mengutus Rasul-Nya, Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia, baik yang mukmin maupun yang kafir. Bagi yang mukmin, Allah akan memasukkan mereka ke dalam Surga karena keimanannya dan pelaksanaan ajaran Islam dalam hidupnya. Sedangkan bagi yang kafir, Islam menjadi jaminan keamanan bagi mereka di dunia ini. 

Sedangkan dakwah menjadi metode dalam menyampaikan Rahmat Islam ini kepada seluruh manusia. Walhasil, semenjak pertama kali Islam disampaikan oleh Rasul Saw sudah berorientasi kepada sampainya Islam ke tampuk kekuasaan. Rasul Saw menolak tawaran tahta, harta dan wanita dari pembesar Quraisy. 

Tujuannya agar Rasul Saw mau menghentikan dakwahnya. Akan tetapi Rasul Saw tidak akan berhenti mendakwahkan Islam. Rasul Saw menyadari bahwa kekuasaan bagi Islam adalah kekuasaan yang dengannya seluruh hukum Islam bisa diterapkan. Kekuasaan bagi Islam itu bukan kekuasaan semu di bawah bayang - bayang penjajahan. Dengan kekuasaan tersebut, Islam akan bisa didakwahkan ke seluruh penjuru dunia.

Dakwah Islam pun merambah ke wilayah nusantara. Pada tahun 672 M telah ditemukan makam Syaikh Rukhnuddin di samping 40 makam muslim lainnya di Baros, Tapanuli. Artinya hanya berkisar 47 tahun dari wafatnya Rasul Saw (632 M), Islam sudah masuk ke Nusantara. Pada masa Khilafah 4 sahabat Nabi Saw, dakwah Islam terus meluas. 

Bahkan pada periode berikutnya, terjadi dakwah yang dilakukan Khilafah kepada Raja - Raja di nusantara. Pada abad ke-7 M Raja Sriwijaya Jambi, Sri Srindravarman berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah. Hingga Srindravarman pun masuk Islam sekitar tahun 720 M. Selanjutnya gelombang dakwah Islam di nusantara secara masif dilakukan Khilafah. Hingga pada abad ke-13 muncul Kesultanan Samudera Pasai dengan sultan pertamanya, Al Malikus Salih. Disusul kemudian bermunculan Kesultanan - Kesultanan di seluruh wilayah nusantara.

Jelas sekali bahwa Kesultanan nusantara punya hubungan yang erat dengan kekhilafahan Islam. Sebagai contoh, Raden Fatah diangkat menjadi sultan pertama Demak oleh Syarif Mekah sebagai wakil Khilafah di Timur Tengah. Tentunya Kesultanan Samudera Pasai yang menyampaikannya. Begitu pula Sultan I Pontianak dinobatkan oleh Syarif Mekah, sebagai wakil Khilafah Utsmaniyah di tahun 1526 M. Beliau adalah Sultan Suryanullah di Pontianak. Jadi Kesultanan di nusantara itu merupakan wilayah ke-Amilan. Sedangkan Mekah termasuk amir wilayah. 

Dalam wadah Kesultanan tersebut, seluruh hukum Islam diterapkan di nusantara. Pengadilan Surambi di jaman Kesultanan Mataram Islam. Pengadilan Surambi mempunyai 2 fungsi yakni menyelesaikan persoalan perdata dan pidana dengan hukum Islam, serta memberikan pertimbangan hukum kepada sultan atas setiap kebijakannya. 

Demikian pula, di Kesultanan Banjar. Sultan Tahmidulloh menitahkan kepada qadhi negara, Syaikh Muhammad Arsyad al - Banjari untuk menulis kitab sebagai pedoman hukum kesultanan.Kitab Sabilal Muhtadin ditulis Syaikh Muhammad Arsyad untuk kebutuhan tersebut.Uniknya, kitab Sabilal Muhtadin ditulis dengan huruf arab dan berbahasa melayu. Tentunya hal tersebut akan memudahkan seluruh rakyat Kesultanan Banjar mempelajari Islam. Demikianlah sekelumit tentang potret hukum Islam sudah menjadi sendi kehidupan nusantara waktu itu.

Saat ini Indonesia masih terjajah. Bukan oleh Belanda, Portugis maupun Jepang. Indonesia dijajah oleh Kapitalisme termasuk Komunisme. Sekulerisme yang menjadi asas Kapitalisme menjadi asas kehidupan bernegara. Islam dipinggirkan dari pengaturan kehidupan dan negara. Berbagai kebijakan dholim ditelorkan oleh penguasa. Pengadilan agama hanya mengurusi nikah dan talak. Sedangkan masalah perdata dan pidana diselesaikan dengan KUH pidana dan perdata warisan penjajah di pengadilan sipil. Kekayaan alam dirampok. Rakyat dimiskinkan. 

Pendidikan berasaskan sekulerisme dijalankan. Hasilnya generasi yang berorientasi materialistik dicetak. Pancasila dijadikan tameng untuk infiltrasi Komunisme lewat RUU HIP, utang negara bertumpuk - tumpuk dan kesemrawutan lainnya. Oleh karena di momen kemerdekaan, 17 Agustus 2020, tentunya semangat untuk menyelamatkan Indonesia dari kehancuran harus menjadi spirit bangsa. Kehancuran bangsa dan negeri ini akibat diterapkannya Kapitalisme - sekuler. Dan termasuk di dalamnya Komunisme. Keduanya sudah nyata merusak Indonesia. 

Harapan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Kapitalisme dan Komunisme, adalah Islam. Bukankah Kesultanan nusantara yang menjadi motor perlawanan terhadap para penjajah? Untuk kedua kalinya, Islam yang diterapkan oleh Khilafah akan memainkan perannya membebaskan Indonesia dari semua bentuk penjajahan. []

Oleh: Ainul Mizan
Peneliti LANSKAP

Posting Komentar

0 Komentar