Janganlah Kita Selalu Mulai dari Nol



Salah satu testimoni tokoh yang inspiratif, diakhir pemutaran film dokumenter “Jejak Khilafah di Nusantara” (JKdN)  adalah, "Janganlah kita selalu mulai dari nol, tapi bagaimana kita menyempurnakannya", karena sejarah itu sangat penting bagi kita. Masa lalu itu menjadi titik awal untuk masa depan dengan tatanan dunia baru.

Testimoni tersebut sekaligus menjawab mereka yang selalu menjadikan sejarah islam itu sebagai romantisme belaka, yang tidak akan terulang, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan hingga harus dikubur dan di kaburkan. 

Sebagaimana penjelasan ustadz Ismail Yusanto, saat sesi bincang bersama dengan para narasumber, yang terlibat langsung dalam pembuatan film dokumenter pertama JKdN. “Ada persoalan besar didalam sejarah kita, saya melihat ada dua kejahatan dalam penulisan sejarah. Pertama, ada pengaburan sejarah dan kedua, ada penguburan sejarah, ada yang hilang dalam penulisan sejarah di negeri ini. Bahwa sejarah itu 'second hand reality', tergantung siapa yang menulis dan mengungkapnya". ujar beliau.

Dari fakta yang terindra memang ada upaya pengaburan dan penguburan sejarah islam di nusantara.  Bahwa khilafah sebagai ajaran islam dicoba untuk di monsterisasi, dihujat. Namun semakin dikubur, semakin mencuat, dan semakin banyak yang berusaha untuk menggalinya, karena sejarah itu, mauidhu al tafkir (obyek berfikir) bukan sebagai subyek pemikiran. Sebagai obyek maka dia akan memperkuat dan menjadi bukti hukum. 

Upaya pengaburan itu dilakukan agar ajaran islam dibenci dan ditinggalkan oleh umat islam.
 
Hari ini, khilafah dan jihad di monsterisasi, disamakan dengan komunisme. Sehingga umat yang seharusnya mengenal dan mencintai khilafah dan jihad menjadi benci dan memusuhi. 

Kemudian Klaim, bahwa  khilafah itu diajarkan tapi bukan untuk diterapkan pun dimunculkan. Fakta peran khilafah islam yang membantu nusantara dalam melawan dan mengusir penjajah dan peran jihad yang mengobarkan semangat untuk terus melawan penjajah, juga dikaburkan. 

Namun sebagaimana closing statement dari Ustaz Rokhmad S. Labib pasca pemutaran film JKdN, bahwa sejarah itu bukan akhir, ia akan terulang kembali.  Ibarat matahari tidak akan ada yang mampu mmenghalangi terbitnya. Mereka tidak akan mampu karena khilafah memang ajaran dan diajarkan dalam fiqih, dan fakta yang tidak terbantahkan dalam sajarah islam.

Dalam film Jejak Khilafah di Nusantara ini, fakta bahwa ada hubungan antara khilafah dan nusantara, dimunculkan dan dikuak secara jelas dan terang. Sehingga umat mengetahui sejarahnya dengan benar, dan dapat mengambil ibrohnya.

Penulis buku “Fakta Baru Wali Songo, Zainal Abidin bin Syamsudin, mengatakan, "Umat yang eksis hanyalah umat yang mampu menghayati sejarah masa lampaunya kemudian dijadikan sebagai pijakan menentukan arah masa depannya."

Sayyid Qutb menyatakan, sejarah adalah interpretasi peristiwa yang memberikan dinamisme dalam waktu dan tempat. Sejarah adalah pelajaran. 

Oleh karena itu, sejarah itu penting, agar kita bisa mengambil pelajaran darinya agar masa lalu yang keliru dan kegagalannya tidak akan terulang lagi, sebagai pijakan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Maka umat islam akan bisa membangkitkan kembali peradaban Islam (khilafah islam) yang pernah berjaya selama kurang lebih 13 abad lamanya. Berdasarkan pijakan sejarah dan bukti hukum yang kuat, ada bukti empiris dan historisnya. Maka jangan lupakan sejarah, sebagaimana ungkapan bung Karno ‘jas merah’.

Moeflich Hasbullah, sejarawan islam, menyatakan, ”bila kita sekarang khawatir dan ketakutan kepada khilafah Islamiyah bahkan alergi mendengarnya, itu sebenarnya kita menolak, anti dan membenci sesuatu yang telah menyebabkan kita menjadi Muslim, menolak yang, secara syariat, membuat kita menerima hidayah”.

Bagi mereka yang obyektif akan memberi porsi yang adil, khilafah sebagai gagasan sistem pemerintahan alternatif sejatinya bukanlah hal baru dalam khazanah keilmuan Islam. 

Disinilah menjadi alasan bagi Septian AW, selaku script writer film Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN)  bahwa film JKdN menjawab tantangan zaman krn khilafah itu menjadi perbincangan masyarakt bahkan dunia, terlepas dari pro dan kontranya. JKdN bisa dijadikan referensi dan rujukan yang tepat dalam mempelajari sejarah, yang menyajikan fakta dan kebenaran sejarah yang mungkin belum kita ketahui. Setidaknya, bisa dijadikan pembanding di antara tumpukan sejarah nusantara.

Apalagi diantara kitab sejarah nusantara yang beredar, tak banyak yang memberi gambaran utuh keterkaitan nusantara dengan Khilafah Utsmani di Turki. Kita mungkin hanya tahu Islam dibawa oleh para pedagang Arab atau sembilan wali.  padahal menurut Salman Iskandar  salah satu tokoh yang di wawancara sebelum pemutaran film JKdN mengatakan terkait msuknya islam di nusantara dan islam tersebar di nusantara itu jauh sebelum  “teori gujarat”.
 
Setelah menyaksikan film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) dapat difahami bahwa, islam tersebar di Nusantara bukan karena hubungan individu per individu karena dagang, Nusantara diislamkan oleh kekhilfahan Islam dengan fasilitas kekuasaan yang mereka miliki sebagai superpower saat itu. 

Dengan kata lain, bangsa Indonesia menjadi Muslim dan Islam menjadi mayoritas di negeri ini.karena keimanan kita telah diselamatkan oleh Allah melalui khilafah Islamiyah yang mengutus para ulamanya ke negeri-negeri jauh termasuk ke Nusantara.

Maka, masih menurut Moeflich film Jejak Khilafah di Nusantara adalah hadiah bagi umat Islam. Tanpa Khilafah, akankah nusantara tersentuh dengan Islam? Maka, film ini sangat layak untuk ditonton bagi siapa saja yang ingin mengulik sejarah Islam di nusantara. 

Dalam film ini kita dibawa ke sebuah masa, dimana sejarah masuknya Islam ke nusantara ini akhirnya terbuka jelas. Ada peran besar Khilafah bagi perkembangan Islam di negeri ini, tak kan bisa dibantah. Bukti-bukti itu masih ada di nusantara seperti manuskrip dan catatan kuno dari Kesultanan-kesultanan yang pernah ada,  menunjukkan bahwa ada kaitan yang sangat erat, antara keberadaan Islam di nusantara  dengan Khilafah Islamiyyah.

Semoga film dokumenter ini bisa meluaskan wawasan kita tentang sejarah Khilafah dan meluruskan berbagai tudingan dan fitnah keji yang dialamatkan kepada ajaran Islam ini. 

Dan sejarah islam menjadi pemantik bahwa, khilafah adalah ajaran islam yang harus diterapkan dan diperjuangkan, yang akan menjadi titik awal, bukan titik nol bagi masa depan dengan tatanan dunia baru, yang diberkahi. Gamabaran kegemilangan sejarah islam itu nyata, ini sebagai penyemangat berjuang untuk tegaknya risalah islam dalam frame terindah yaitu khilafah islam. Allahu Akbar. Wallahu a’lam bi ashshowab.


Oleh : Fariha Adibah 
Aktivis Muslimah

Posting Komentar

0 Komentar