TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Islam, Satu-satunya Solusi Merdeka dari Resesi



Ancaman resesi menjadi kado pahit peringatan 75 tahun kemerdekaan Indonesia, dampak dari pandemi covid-19 yang telah berlangsung selama 6 bulan sejak Maret 2020 lalu. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 tercatat negatif 5,32 persen.  Hal ini menempatkan Indonesia di ambang resesi, setelah pada kuartal sebelumnya juga mengalami kontraksi. (Kompas.com 06/08/2020). 

Harapannya ekonomi membaik pada kuarta III. Karena jika tidak, Indonesia berpotensi mengalami resesi ketika pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Namun benarkah pandemi menjadi satu-satunya penyebab terjadinya resesi? Adakah solusi yang mampu membawa negeri ini merdeka dari resesi?

Kesadaran masyarakat rendah, kebijakan penguasa lemah, virus terus merebak
Tidak bisa dipungkiri kesadaran masyarakat akan bahaya virus dengan menerapkan protokol kesehatan semakin hari semakin rendah. Hal ini semakin diperumit dengan kebijakan pemerintah yang serba prematur, berubah-ubah sehingga semakin sulit mengendalikan sebaran virus. Hingga pekan ke empat Agustus 2020 jumlah pasien positif Covid-19 tercatat sebanyak 150 ribu lebih. 

Di sisi lain masyarakat tidak mendapatkan jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup bila terus diam di rumah. Sementara itu, penyelamatan nyawa dan ekonomi rakyat kecil, dinilai banyak pihak bukan menjadi prioritas utama pemerintah. Stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat melalui pemberian bantuan langsung tunai (BLT) atau bantuan sosial (Bansos) dinilai sebagai solusi tambal sulam, tidak menyentuh akar masalah dan bersifat parsial atau tidak menyeluruh. 

Sebuah solusi ala kapitalisme berupa peningkatan pemasukan dari asset ekonomi kreatif, tapi dengan mengabaikan perampokan asset ekonomi strategis dari umat sebagai pemilik sahnya. Hal ini terlihat dari kebijakan yang diambil lebih diprioritaskan pada kepentingan para kaum kapitalis (pemilik modal/bisnis besar). Diantaranya dengan disahkannya UU Minerba dan terus digodoknya RUU Omnibuslaw meskipun mendapatkan penolakan dari banyak pihak.

Inilah salah satu dari sekian kecacatan kapitalisme. Sistem ekonomi yang mengandalkan hasil akal pikir manusia, yang menyangka akan mampu mengatur kehidupan manusia dan dunia. Sistem ekonomi berbasis riba, alat tukar fiat money yang rentan inflasi, pengaturan kepemilikan dan distribusi harta yang hanya dikuasasi oleh segelintir elit, adalah kefatalan-kefatalan lain yang menjadi andalan sistem kapitalisme, tapi justru terbukti menjadi sumber hancurnya ekonomi umat dan menjauhkannya dari kata sejahtera. 


Kemiskinan Bukan Semata-mata Karena Pandemi

Sebagaimana kita ketahui bersama, jauh sebelum pandemi ini ada, fakta kesenjangan ekonomi begitu kontras tersaji di negeri ini. Masih banyak kita saksikan pemukiman kumuh berada tak jauh dari perumahan megah atau gedung-gedung pencakar langit. Orang-orang kaya asyik menyantap hidangan di restoran mewah, disaat yang sama, anak jalanan mengemis, merintih menahan lapar dari balik kaca.

62 kabupaten ditetapkan sebagai daerah tertinggal periode 2020 – 2024 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Yaitu kabupaten yang wilayah serta masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah dalam skala nasional.(Kontan.co.id/10/05/2020). Apakah kemudian di luar 62 daerah tersebut berarti sudah berkembang, tentu masih perlu penelusuran lebih lanjut. Apalagi selama ini validitas data menjadi salah satu masalah krusial di negeri ini. 

Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang, meningkat 1,63 juta orang terhadap September 2019 dan meningkat 1,28 juta orang terhadap Maret 2019. Bulan maret 2020 adalah awal masuknya covid-19, dimana kasusnya belum tinggi dan belum ada kebijakan PSSB yang berdampak langsung pada roda perekonomian. Angka ini sangat mungkin bertambah mengingat dampak signifikan baru terlihat beberapa bulan kemudian.

Pandemi memang jelas semakin memperburuk kondisi ekonomi tidak hanya di negeri ini, tapi juga negara-negara di dunia. Bahkan 9 negara maju telah menyatakan diri mengalami resesi. (Kompas/07/08/2020). Namun, sejatinya sistem kapitalismelah yang menjadi akar permasalahannya. Diakui atau tidak, sejak negeri ini mengadopsi sistem ini, selama itu pulalah sejatinya goncangan ekonomi terjadi, meskipun tanpa ada pandemi. Apatah lagi saat kemudian dihantam pandemi. 


Kepemilikan Tanpa Batas, Kesenjangan Ekonomi Kian Kontras

Kesalahan sistem kapitalisme diantaranya terletak pada pengaturan kepemilikan dan pengelolaan harta. Dimana siapapun yang punya akses baik melalui kekuasaan maupun modal, bebas memiliki dan mengelola apapun, termasuk Sumber Daya Alam (SDA) bahkan pulau sekalipun. Hal ini berdampak pada terjadinya kesenjangan ekonomi, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin terjepit. 

Sementara di dalam Islam, kepemilikan di bagi menjadi 3 bagian, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan negara dan kepemilikan umum. SDA dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya masuk ke dalam kategori kepemilikan umum, yang haram dimiliki oleh individu, swasta apalagi asing, namun harus dikelola oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Rasulullah bersabda: “Manusia berserikat dalam tiga perkara, yaitu air, rumput dan api” 

Tidak ada yang bisa menampik besarnya potensi kekayaan alam negeri ini dari mulai darat, laut, udara hingga bawah tanahnya. Namun sudah menjadi rahasia umum pula disaat yang sama, hasilnya tidaklah dinikmati rakyat yang tinggal di atasnya. Betahnya perusahan-perusahaan pengeruk SDA bercokol di negeri ini membuktikan betapa melimpahnya kekayaan yang tersimpan dan besarnya keuntungan yang mereka dapatkan. Bayangkan jika semua potensi tersebut dikelola sesuai dengan syariat Islam, betapa kesejahteraan akan meliputi seluruh negeri.

Tetapi faktanya, untuk menjalankan operasional negara, negeri ini bergantung pada pajak dan utang. Hingga Mei 2020 utang Indonesia angkanya menembus 5.868,15 Triliun. (Kompas/17/07/2020). Bahkan Indonesia belum mampu mengembalikan pokok utang, karena masih harus membayar bunganya. Warisan utang ini masih harus terus dibayar anak cucu kita hingga berpuluh-puluh tahun ke depan. 
=====
Masalah Ekonomi Bukan Kurangnya Produksi, Tapi Carut Marut Distribusi
Kesalahan selanjutnya ada pada pengaturan distribusi kekayaan. Mengendalikan harga pasar dan menimbun barang demi kepentingan kelompok tertentu sudah menjadi hal lumrah dalam sistem kapitalisme. Kekeliruan kapitalisme dalam memahami antara kebutuhan dan keinginan membuat mereka beranggapan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, sehingga mereka mengejar produksi sebesar-besarnya dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan tersebut, sekaligus mengatur distribusi sesuai dengan kepentingan mereka.

Padahal sejatinya kebutuhan manusia itu terbatas. Yang tidak terbatas adalah keinginan, yang lebih besar dikendalikan oleh hawa nafsu. Dan sesungguhnya tersedia cukup sumber daya untuk memenuhi kebutuhan manusia, sebagaimana Allah berfirman dalam Al Quran “... Dan Dia telah memberikan kepadamu (kebutuhanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat. {QS Al Isra’(17):30}.

Konsep kapitalisme sangat bertolak belakang dengan sistem Islam yang memandang bahwa persoalan utama ekonomi bukanlah dari sisi produksi, tetapi pada masalah distribusi. Menimbun barang haram di dalam Islam. Islam mengatur bagaimana agar harta dan barang-barang produksi terdistribusi ke setiap individu warga negara baik muslim maupun non muslim. Dengan ketentuan ini perekonomian bisa berkembang dan mencegah perputaran harta di kalangan orang-orang kaya saja. Dalam Al Quran Surat Al Hasyr:7 tentang pembagian harta rampasan perang, Allah berfirman: “... agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu”.


Keinginan Membutakan Manusia Dari Jalan Kebenaran

Kekeliruan pemahaman antara kebutuhan dan keinginan juga mengantarkan mereka menjadi penghamba dunia. Selama bisa mendatangkan manfaat dan atau menambah keuntungan materi, maka cara apapun akan diambil. Tidak peduli pada akad syar’i apakah halal atau haram, tidak dipertimbangkan lagi antara yang haq dan yang bathil. Contoh, sistem ekonomi berbasis ribawi yang jelas haram dan dilaknat Allah, justru dijadikan tulang punggung perekonomian. Allah dengan tegas mengharamkan riba dalam banyak ayat dalam Alquran, salah satunya dalam Surat Al Baqarah 275: “... Allah telah menghalal jual beli dan mengharamkan riba..."


Peran Mata Uang sebagai Jantungnya Perekonomian

Berikutnya adalah pemilihan mata uang yang bisa dikatakan sebagai jantungnya sistem perekonomian. Fiat money yang sekarang digunakan sistem kapitalisme adalah alat tukar yang rentan krisis karena tidak mempunyai nilai kecuali hanya selembar kertas yang berbeda gambar dan angka. Tidak ada sektor riil yang menjadi jaminan. Sehingga saat sebuah negara mengalami krisis, kemudian solusi yang diambil adalah dengan mencetak uang baru, maka sejak saat itulah gerbang inflasi mulai terbuka, karena nilai uang akan semakin turun. Kita bisa bandingkan nilai sepuluh ribu rupiah hari ini dengan 10 tahun yang lalu, sangatlah jauh berbeda.  

Sementara itu mata uang di dalam sistem Islam menggunakan standar emas dan perak yang memiliki nilai tukar riil, sehingga dapat menciptakan stabilitas perekonomian. Mata uangnya tidak bisa digandakan atau dihancurkan, sehingga terhindar dari devaluasi dan inflasi. Harga satu ekor kambing pada zaman Rasulullah masih sama dengan harga kambing hari ini dalam hitungan dinar/dirham.

Namun kondisi ini ternyata tidak serta merta membuat masyarakat sadar. Bahkan menganggapnya sebagai konsekuensi dari sebuah kemajuan zaman. Semakin leluasalah para kaum kapital mengendalikan dan menguasai perekonomian negeri. Padahal sudah menjadi hak kita untuk mendapatkan kesejahteraan dari hasil bumi yang memang Allah ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia seluruhnya, tanpa kecuali, dengan mudah dan murah, bahkan gratis. Allah berfirman: “Dan berikahlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu” {(QS An Nur (24): 33}


Kebutuhan Mendesak Kembali pada Islam

Oleh karena itu, kebutuhan mendesak bagi negeri ini tidak lain adalah mengambil solusi Islam untuk bisa keluar dari keterpurukan ekonomi karena sistem kapitalisme yang diperburuk dengan hantaman wabah covid-19. Keuangan dalam sistem Islam juga mempunyai mekanisme dana darurat yang akan sangat menopang kondisi negara saat terjadi musibah. 

Kita semua harus memahami bahwa modal yang Allah anugerahkan bagi negeri ini, berupa kekayaan yang melimpah, akan mampu memberikan kehidupan sejahtera dalam keadaan apapun, normal maupun krisis, hanya bila dikelola dengan sistem ekonomi Islam. Yang pada akhirnya akan mengantarkan kita menjadi negara yang bermartabat, berdaulat dan merdeka dalam segala sisi kehidupan. Wallahu’alam bishawab.[]



Oleh: Anita Rachman
Pemerhati Sosial Politik

Posting Komentar

0 Komentar