Intimidasi Ulama, Jalan Pintas Diskriminasi Ajaran Islam



Kaset lama kembali diputar. Penistaan terhadap ajaran Islam dan para da'i terus terjadi. Persekusi terus dilakukan terhadap pengemban ajaran Islam yang dianggap berbahaya, radikal, intoleran dan sejenisnya. Seperti beberapa waktu lalu, viral sebuah video seorang Kiai, Zainullah Muslim di Desa Kalisat, kecamatan Rembang, dibentak-bentak karena diduga menyebarkan "ideologi khilafah". 

Dalam video itu, beliau dikelilingi sejumlah orang yang mengenakan atribut Barisan Serbaguna atau Banser. Aksi itu dipimpin oleh Saad Muafi, Ketua PC Anshor Bangil yang juga Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan karena dianggap menyebarkan paham yang telah dilarang oleh negara. "Wes dilarang kok tanya salahnya apa," bentak Muafi pada Kiai Zainulloh. Walaupun diperlakukan dengan tidak sopan dan kurang adab, Kiai tersebut tetap tenang. 

“Salah saya di mana? Kalau saya salah, laporkan ke polisi. Tunjukkan buktinya apa saya salahnya? Nama saya Zainullah, alamat di sini, tunjukkan buktinya, sidang di pengadilan oke,” jawab Kiai. Sampai saat ini, banyak pihak yang menyayangkan bahkan mengecam aksi Muafi tersebut. 

Salah satunya adalah Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC), Prof Musni Umar. Beliau mengecam tindakan puluhan anggota Banser intimidasi ulama di Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. “Memalukan sekali. Melakukan intimidasi dan memaksa ulama. Padahal dia anggota DPR yang terhormat,” kata Prof Musni Umar mengomentari video Banser persekusi ulama yang dibagikan oleh akun Twitter @C_NdoenK_531, Jumat (21/8).

Di negeri yang menganut sistem demokrasi kapitalis, atas nama HAM seseorang bisa bebas bertindak sesuai dengan keinginannya. Tanpa berkaca apakah tindakan yang dilakukan benar atau salah, serta baik atau buruk. Liberalisme mengajarkan kebebasan yang sangat destruktif. Siapa saja boleh melontarkan pemikiran atau pendapatnya sesuai hawa nafsunya. Tanpa berpikir pendapatnya itu sudah berdasar dalil atau tidak, menyakitkan orang lain atau tidak. 

Persekusi ulama hingga pembubaran pengajian secara sepihak tidak terjadi sekali dua kali. Ustadz kondang seperti Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Felix Siauw pun pernah merasakannya. Paham Khilafah dianggap sebagai ideologi HTI. Padahal banyak ulama hadits bahkan imam mazhab yang menuliskan pembahasan terkait Khilafah dalam kitab-kitab yang dikarang. Semuanya tentu dibuat berdasar wahyu, yakni Al qur'an dan Sunnah. Bukan berdasar hawa nafsu para alim ulama.  

Dalam mata pelajaran fiqh dan ushul fiqh pun, pembahasan Khilafah dapat dengan mudah ditemukan. Justru aneh ketika seseorang yang mengaku muslim tapi justru anti terhadap ajaran agamanya sendiri. Bukti mana lagi yang perlu disodorkan untuk mereka yang selalu menentang ajaran Khilafah di garis terdepan. Ajaran Islam seolah terus didiskriminasikan dengan berbagai cara, termasuk mengintimidasi para pengembannya. 

Membicarakan Khilafah juga dianggap sebuah pelanggaran hukum. Nyatanya tidak ada Undang-Undang yang menyatakan terlarangnya Khilafah. Karena Khilafah merupakan bagian dari ajaran Islam. Sesuai Pasal 29 UUD 1945 Tentang Kebebasan Beragama yang ditegaskan dalam ayat dua. Bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing sekaligus beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. 

Lain hal dengan komunisme, marxisme/leninisme serta atheisme yang jelas menjadi paham terlarang karena merupakan bagian dari ajaran PKI. Sesuai TAP MPRS No. XXV/1996. Sayangnya, tidak sedikit yang beranggapan bahwa khilafah sama berbahayanya dengan komunis. Padahal jelas, Khilafah bukan suatu ideologi, tapi hanya potongan dari banyaknya ajaran-ajaran dalam agama Islam. 

Makin hari seolah kian terbukti kebenaran ayat-ayatNya : “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33). Wallahua'lam.


Oleh: Siti Nur Aisyah

Posting Komentar

0 Komentar