TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Indonesia, Sejengkal Lagi Resesi?



Bayang-bayang resesi terus menghantui Indonesia, setelah negara-negara besar mengumumkan terjadinya resesi ekonomi dalam negaranya. Negara berkembang seperti Indonesia pun pasti akan terkena dampaknya.

Menteri keuangan Sri Mulyani memprediksikan perekonomian Indonesia berpotensi mengalami resesi. Beliau menjelaskan, faktor-faktor resiko yang berpotensi menyebabkan ekonomi pada kuartal ketiga mengalami kontraksi masih terasa nyata. "Pergerakan (indikator ekonomi) belum terlihat sangat solid, meskipun ada beberapa yang positif," ujarnya dalam dalam paparan kinerja APBN secara virtual pada Selasa (25/8).

Resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Dampak yang dihadapi masyarakat dalam situasi resesi adalah meningkatnya angka pengangguran secara tajam yang mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan dan kelaparan.

Berdasarkan data jelas pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I turun dari yang biasanya 5% jadi 2,97%, kuartal II bahkan kontraksi ke 5,3% (minus). Sehingga jika kuartal III masih minus maka Indonesia mengalami resesi.

Kemudian pertanyaannya mengapa pertumbuhan ekonomi menurun sehingga terjadi resesi? Banyak yang berpendapat karena pandemi, benarkah?

Pandemi memang pasti berdampak pada pertumbuhan ekonomi, karena agar tidak ada cluster penyebaran covid19 tempat kerja dibatasi bahkan banyak juga yg ditutup sehingga ini menjadikan pendapatan masyarakat menurun, sehingga daya beli dan konsumsi menurun. Kegiatan investasi juga akhirnya menurun dan produksi juga menurun. Namun bukan karena pandemi menjadi penyebab satu-satunya.

Faktanya, Dua tahun lalu, Dr. Doom Nouriel Roubini meramal adanya krisis finansial di tahun 2020. Padahal, waktu itu virus corona belum ada dan merajalela seperti sekarang. Ancaman resesi ekonomi sebetulnya sudah mulai terasa sejak periode pertengahan hingga akhir 2019. Namun, kala itu penyebabnya adalah perang dagang AS-China yang mempengaruhi perdagangan global. 

Menurut para ahli, Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient time to Present Day, menguraikan sejarah kronologi krisis secara komprehensif. Menurut mereka, sepanjang abad 20 telah terjadi lebih dari 20 kali krisis besar melanda banyak negara. Fakta ini menunjukkan secara rata-rata, setiap lima tahun terjadi krisis keuangan hebat.

Jadi, meski ekonomi sempat naik, namun akhirnya selalu terjun bebas ke jurang resesi. Meski pandemi ini berakhir, resesi ekonomi akan tetap menghantui Indonesia. Karena pandemi bukan satu-satunya penyebab terjadi resesi melainkan pandemi mempercepat terjadinya resesi.

Sehingga dapat disimpulkan faktor penyebab resesi ada tiga hal.

Pertama, pondasi ekonomi rapuh. Sebagaimana yang kita pahami Indonesia menerapkan sistem ekonomi kapitalis yang di dalamnya menggunakan sektor ekonomi riil dan non riil. Sektor ekonomi non riil inilah menyebabkan resesi tidak dapat dihindari dalam siklus bisnis ekonomi kapitalis. Karena ikuti siklus tahunan yang tidak bisa stabil, terbukti diterapkan di abad 20 telah menyebabkan krisis siklik (berulang). Selama masih menerapkan sistem ekonomi kapitalisme, selama itu pula Indonesia akan terus mengalami resesi.

Kedua, SDA tidak dikelola dengan benar. Adanya aturan liberalisasi kepemilikan sebagai salah satu pilar sistem kapitalisme, menjadikan pengelolaan SDA berada ditangan para kapital. Mereka yang kuat berhak menguasai segalanya, sehingga rakyat biasa tertindas hanya menikmati limbah.

Ketiga, kesejahteraan yang tidak terjamin. Ada tidaknya pandemi dan resesi atau tidak resesi, rakyat tidak pernah merasakan kesejahteraan selama yang diterapkan adalah sistem kapitalis. Dan ini sudah terbukti di Indonesia dari tahun ke tahun tidak menunjukkan adanya kesejahteraan ditengah rakyat. Kemiskinan, kelapara selalu ada di sepanjang penerapan sistem kapitalis.

Lalu jika penyebab terjadinya krisis adalah karena sistem kapitalis yang diterapkan, apakah ada sistem lain yang dapat memberi solusi untuk menyelamatkan?

Maka kita harus melihat terlebih dahulu ideologi yang pernah diterapkan di dunia, yaitu kapitalisme, sosialisme dan Islam. Karena ideologi adalah pandangan hidup yang darinya akan melahirkan peraturan-peraturan.

Kapitalisme sebagaimana dijelaskan diatas terbukti tidak dapat mensejahterakan melainkan kebijakan senantiasa menindas yang lemah. Dan Sosialisme memang distribusi sama rasa sama rata. Sehingga bekerja berat atau ringan mendapatkan upah yang sama, ini menjadikan rakyat didalamnya malas bekerja dan akan mengalami kehancuran sendiri juga. Terbukti jika diterapkan menjadikan negara terbelakang.

Sedangkan Islam mengatur sistem ekonomi secara terperinci. Dan sistem ini berasal dari sang pencipta yaitu Allah SWT yang mngetahui mana yg terbaik untuk hambaNya dan mana yg buruk untuk hambaNya. Telah terbukti 13 abad diterapkan tidak terjadi krisis secara sistemik.

Pertanyaanya bagaimana rahasia sistem Islam dalam mengatur perekonomian negara?

Pertama, pembagian kepemilikan dalam ekonomi Islam itu ada tiga yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara.

Pembagian kepemilikan ini sangat penting agar tidak terjadi hegemoni ekonomi. Yakni pihak kuat menindas yang lemah. Seperti pencaplokan kepemilikan umum oleh swasta, baik asing maupun lokal.

Kedua, mengatur pembangunan dan pengembangan ekonomi secara benar dengan menggunakan sektor ekonomi riil. Karena secara tegas Islam mengharamkan adanya praktek riba.

Ketiga, distribusi harta dengan adil. Baik distribusi harta kekayaan oleh individu, masyarakat, maupun negara.

Ekonomi Islam menjamin seluruh rakyat Indonesia terpenuhi semua kebutuhan dasarnya. Sistem Ekonomi Islam juga menjamin seluruh rakyatnya dapat meraih pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersiernya.

Dan sistem ekonomi islam tidak bisa berdiri sendiri karena ada kaitanya dengan sistem politik islam, pemerintahan islam dan sistem yang lainnya. Oleh karena itu butuh menerapkan ideologi islam secara kaffah dalam bingkai negara yakni Khilafah. Wallahua'lam bishawab.[]


Oleh : Setya Kurniawati S.Pt 
Aktivis BMI Malang dan Pena Langit

Posting Komentar

0 Komentar