TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Individu dan Negara Bertakwa, Kesejahteraan Tercipta

Sejahat-jahatnya harimau tak akan memakan anaknya sendiri. Betapa pun jahatnya orang tua kandung, mereka tidak akan tega mencelakakan anaknya sendiri. Demikianlah penjelasan arti dalam kamus Peribahasa Indonesia. Namun pribahasa tersebut tampaknya tak berlaku terhadap seorang oknum ibu di Kalimatan Barat, yang menghadirkan kisah miris dan memilukan yang diduga menjual bayi yang baru dilahirkannya.

Seorang ibu kandung diduga menjual bayi yang baru dilahirkannya. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara kepolisian, bayi dipesan seseorang dari Yogyakarta sejak kandungan si ibu berusia tujuh bulan. Selain itu polisi juga mengamankan lima wanita, mereka turut terlibat dengan perannya masing-masing. Aparat Kepolisian juga turut mengamankan uang tunai sebanyak Rp 30 juta yang diduga uang transaksi penjualan bayi itu. (Pontianak.tribunnews.com 22/8/2020)

Hati nurani setiap insan pasti teriris  ketika mendengar kisah miris seperti kasus tadi. Apalagi yang dijadikan alasan bagi seorang ibu untuk menjual anak yang baru dilahirkannya tersebut adalah karena permasalahan ekonomi. Kasus ibu menjual bayi memang bukan baru kali ini terjadi. Banyak lagi kasus-kasus serupa yang sebelumnya terjadi dan seperti tak pernah berakhir bahkan tanpa solusi. Terlebih di tengah kondisi wabah yang menerpa saat ini. Yang mana dalam kondisi pandemi, tentu tidak semua keluarga bisa melewatinya sebagaimana kondisi biasanya. Bahwa akibat pandemi saat ini dampaknya merembet ke berbagai aspek tidak hanya menyebabkan krisis kesehatan, krisis sosial dan ekonomi, yang akhirnya memicu permasalahan dalam keluarga. 

Walaupun tidak dapat dipungkiri pandemi yang terjadi saat ini bukanlah suatu alasan bagi seorang ibu untuk abai bahkan mencelakai anaknya demi dalih perbaikan ekonomi menjadi hal yang bisa diterima. Terutama anak yang merupakan bagian dari amanah Allah, dimana orang tua tidak dibenarkan melalaikannya, apalagi lari dari memikul amanah besar tersebut. Namun tidak sedikit orang tua yang meninggalkan dan menelantarkan anaknya begitu saja. Keluarga harmonis, tentram, penuh kasih sayang  merupakan dambaan setiap orang. Namun mewujudkannya di tengah masyarakat saat ini, terlebih dalam sistem kapitalis yang mengadopsi pemikiran ala barat yang lebih mengutamakan syahwat, serta pandangan materialistis dimana uang adalah segala-galanya. Sistem yang jauh dari nilai-nilai Islam, tentu tidaklah mudah.

Demikian juga peran negara yang seharusnya peduli terhadap masalah yang menimpa rakyatnya. Namun yang terjadi seringkali abai dan tak peduli bahkan tak jarang kebijakan yang dibuat mencederai hati rakyat. Padahal setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa-apa yang dipimpinya. Maka jika negara absen sehingga membiarkan apa saja yang terjadi tanpa kontrol maka akan memunculkan masalah baru yang justru bisa jadi semakin memperparah kondisi negara dan bisa dipastikan rakyatnyalah yang menjadi korban.

Allah menitipkan amanah, disaat yang sama Allah akan membalas dengan surga bagi orang yang dapat menunaikan amanah tersebut. Sebaliknya, akan mengazab mereka yang gagal melaksanakannya. Esensi amanah yakni menjaga apa yang dititipkan kepadanya dan waspada agar jangan sampai mencederai amanah tersebut karena lupa atau abai.

Dari Ibnu Umar RA, Nabi SAW bersabda: 

"Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim).

Tidak dapat dipungkiri, di tengah situasi yang semakin rumit, dimana sesungguhnya rakyat membutuhkan peran penuh penguasa dalam meriayah, semakin nampak keinginan berlepas tangannya negara, dengan mengeluarkan kebijakan yang semakin menihilkan perannya, rakyat dibiarkan sendiri menyelesaikan urusannya yang sesungguhnya merupakan kewajiban negara.

Situasi ini diperburuk dengan lemahnya pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam kaffah. Ajaran Islam terlanjur di pahami sebatas ritual saja, hingga tidak mampu berpengaruh dalam perilaku keseharian, baik dalam konteks individu, keluarga, masyarakat maupun negara. Dengan minimnya pemahaman Islam maka saat mendapat ujian tak sedikit individu muslim yang mengalami disorientasi hidup, akibat himpitan ekonomi dan krisis hingga orang tua dan keluarga yang seharusnya menjadi benteng perlindungan pertama tak lagi ditemukan sehingga berakibat mudah menyerah pada keadaan, bahkan terjerumus dalam kemaksiatan.

Masyarakat juga kehilangan fungsi kontrol akibat individualisme yang mengikis budaya amar makruf nahi mungkar. Sementara negara sibuk berkhidmat pada asing dan pengusaha, bahkan sibuk berdagang dengan rakyatnya.

Menerapkan Al-Qur'an dan As-Sunnah Secara Kaffah

Sistem sekularisme yang bathil memang meniscayakan kehidupan yang serba sempit dan jauh dari berkah. Tentu kondisi ini tak boleh dibiarkan berlanjut, umat harus segera bangkit dari keterpurukan dan  kembali menerapkan aturan Islam sesuai Al-Qur'an dan as-Sunah secara kaffah dalam rangka memenuhi seruan ayat Allah agar memiliki kesadaran dalam pengamalannya sesuai firman Allah SWT yang artinya :

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
(QS. Al-Imron: 104)

Maka para ibu dan keluarga muslim harus kembali menjadi benteng umat yang kukuh, yang siap melahirkan generasi terbaik dan individu yang bertakwa dengan visi hidup yang jelas sebagai hamba Allah yang mengemban misi kekhalifahan di muka bumi.

Dengan bekal takwa dan tawakal pada Allah, maka kita akan berharap dan berupaya maksimal dalam melalui ujian Allah. Menerima bahwa semua ujian yang terjadi adalah sebagai bentuk nikmat dan karunia agar hamba-Nya senantiasa bersemangat dan mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan perbuatan yang dimurkai-Nya. Sehingga urgensi dakwah dalam membangun kesadaran bagi umat harus dilakukan sebagai bentuk kepedulian guna menanamkan pemikiran bahwa Islam adalah solusi terbaik untuk berbagai persoalan kehidupan dan sebagai undang-undang yang mutlak harus dijalankan yang berfungsi sebagai pelindung dan mengayomi bagi rakyat guna mewujudkan ketakwaan di tengah masyarakat.

Sehingga sakinah dan barokah dalam kehidupan akan dirasakan tidak hanya oleh keluarga muslim, namun juga dirasakan oleh umat secara keseluruhan, karena aturan Islam memang datang sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Allah SWT telah menurunkan Islam sebagai sistem hidup manusia yang sempurna dan paripurna yang mampu menyelesaikan seluruh problem kehidupan manusia di dunia termasuk permasalahan ekonomi dan pembentukan iman yang kuat. Allah telah mewajibkan negara untuk melindungi dan menjamin kesejahteraan rakyatnya, laki-laki dan perempuan, sepanjang masa, dalam kondisi aman maupun krisis sehingga berbagai persoalan yang muncul sekarang ini, yang merupakan dampak penerapan sistem kapitalis, sehingga tega menjual anak dengan dalih permasalahan ekonomi, dan kesenjangan sosial, tidak akan pernah terjadi. Wallahu'alam bisshowab.[]

Oleh: Sri Suarni A.Md

Posting Komentar

0 Komentar