TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Imbauan Menag Sambut Tahun Baru Hijriyah, Selaraskah?


Tahun Baru Hijriyah atau Tahun Baru Islam merupakan suatu hari yang penting bagi umat Islam, karena menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam yaitu peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari kota Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Semangat hijrah yakni berpindah dari keadaan yang tidak baik di suatu tempat ke tempat lain untuk meraih keadaan yang lebih baik. Berkaitan dengan hijrah, maka momentum tahun baru Islam adalah saat yang tepat untuk melakukan perubahan. Perubahan dalam hal apapun, berubah menjadi lebih baik.    

Baru-baru ini Menteri Agama, Fachrul Razi mengajak umat Islam meneguhkan persatuan dan mewujudkan kehidupan berbangsa yang lebih baik dalam rangka menyongsong tahun baru 1 Muharram 1442 H . Menag menghimbau umat Islam untuk memperingati tahun baru Islam dengan penuh syukur. Ada tiga makna penting pada peringatan tahun  baru hijriyah yang bisa digali menurut beliau, yaitu, pertama hijrah mengingatkan umat pada sikap istikamah Nabi Muhammad Saw yang tetap berjuang menyebarkan Islam walau menghadapi berbagai rintangan. Kedua, hijrah mencerminkan kecerdasan dalam perjuangan dakwahnya menyebarkan agama Islam. Ketiga, makna hijrah adalah pindah dari keadaan yang tidak baik ke keadaan yang lebih baik (Republika.co.id, 19/8/2020).

Tidak ada yang salah dari himbauan Menag diatas, bahkan bisa dikatakan pernyataan yang sangat bijak dari seorang menteri agama di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, pernyataan tersebut menjadi kontradiksi dengan pernyataan – pernyataan sebelumnya yang kerapkali menyakiti hati umat Islam. Sebagaimana jamak diketahui, selama 100 hari pertama Fachrul Razi menjabat menteri agama hampir selalu menggegerkan publik lantaran ucapan yang dilontarkannya di muka umum sarat kontroversi.

Diantara pernyataan Menag yang kontroversi adalah rencana pemulangan 600 WNI eks Kombatan ISIS, sertifikasi Dai, majlis taklim harus terdaftar, larangan cadar dan celana cingkrang, kursus pranikah calon pengantin, dan yang masih hangat adalah merombak 155 buku agama yang mengandung konten radikal serta menggeser materi jihad dan khilafah menjadi pelajaran sejarah, padahal jihad dan khilafah  semula masuk dalam pembahasan fikih. Semua sepak terjang Menag ini benar-benar menyakiti hati umat Islam.

Sebagai seorang muslim tidak sepatutnya Menag Fachrul Razi menyudutkan Islam sedemikian rupa hingga menimbulkan gejolak di tengah umat. Namun, sistem demokrasi telah meniscayakan munculnya orang-orang yang berpihak pada rezim walau menelikung sesama umat islam, bagai menggunting dalam lipatan. Ucapan dan perbuatan yang kerap tidak sejalan adalah hal yang lumrah dalam sistem ini. Karena tolok ukur perbuatannya bukan lagi halal dan haram, tapi asas kebebasan, yang penting posisi aman.

Setiap  muslim wajib mengikatkan seluruh perbuatannya dengan hukum syara’, karena esok di yaumil hisab akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang kita perbuat dan apa yang kita ucapkan. Jika perkataan kita tidak sesuai dengan perilaku dan sikap kita maka Allah Swt telah memberikan warning dalam QS As-shaff ayat 2-3

‘Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” 
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” 

Maka imbauan Menag untuk meneguhkan persatuan dan mewujudkan kehidupan berbangsa yang lebih baik seharusnya diiringi dengan sikap yang tidak mendiskreditkan umat Islam. Menciptakan suasana yang kondusif dengan pernyataan-pernyataan yang menyejukkan, bahkan harus mendorong umat untuk berjalan di atas rel syariat. Bukankah umat yang berpegang teguh pada syariat Islam akan meminimalisir berbagai bentuk kejahatan? Wallahu a’lam bisshawab.[]

Oleh: Evi Shofia

Posting Komentar

0 Komentar