Hubungan Islam di Nusantara dengan KhiIafah Islamiyyah Jelas, Pasti Ada dan Kuat


foto: Moeflich Hasbullah, Sejarawan


Ada beberapa pesan yang masuk ke saya menanyakan mengapa tak menanggapi bantahan-bantahan atas status saya soal sejarah dan jejak khilafah di Nusantara, termasuk yang dari Prof. Azyumardi Azra. Saya jawab begini di japrian.

Biarin sajaaa ... sanggah-menyanggah itu biasa, positif, bagus, biarkan terjadi diskusi yang produktif. Saya gak ada waktu menyanggah itu semua karena akan jadi diskusi panjang yang sangat melelahkan soal materi. 

Intinya, sebenarnya, bukan soal teritorial, soal khilafah apa, khilafah atau dinasti, tapi adanya hubungan antara Islam pusat dengan remote areas atau Islam regional/daerah yang jauh termasuk dengan Nusantara sebagai lalu lintas perdagangan internasional yang ramai di perarian Asia Tenggara bahkan sampai ke Kuanton (Ghuangzou), Cina, yang memuncak pada abad ke-15-17 yang oleh Prof. Anthony Reid disebut sebagai era "religious revolution."  Fakta-fakta dan jejak-jejak sejarah (historical traces) pasti berlimpah berserakan di jalur-jalur islamisasi yang berabad-abad itu. Substansinya itu.

Pengaruh dan hubungan itu pasti, tak terbantahkan, apapun argumen sanggahannya. Kalau hubungan Islam Nusantara dengan islam pusat itu disanggah, logika yang paling sederhananya, memang Islam datangnya dari mana? Masa dari planet Pluto. Disertasi Prof Azra sendiri membahas jaringan ulama Timur Tengah dengan para ulama Nusantara abad le-17/18. Itu kan memperkuat relasi itu. Hubungannya dengan khilafah sebagai insitusi global saat itu? Pasti ada lah. Baca saja, disertasinya.

Soal lembaga kekhifahannya apa, khilafah atau dinasti, faktanya apa, silahkan itu berdebat, saya tak mau terlalu masuk ke teknis informasi seperti itu, melelahkan, kecuali kalau menulis buku. Saya lebih suka jadi menjadi substansialis ketimbang teknisi. Saya kurang suka dengan perdebatan apalagi berdebat soal teknis.

Hubungan Islam Nusantara dengan khiIafah Islamiyah itu jelas, pasti ada dan kuat, faktanya berlimpah sejak Khulafaur Rasyidin hingga Turki Utsmani seperti banyak ditulis para sejarawan klasik dan modern, asing dan domestik. Film JKDN itu telah memvisualisasikannya secara menarik. Itu memang romatisme. Sejarah sendiri memang romantisme. Dan hidup, apalagi cinta, tanpa romantisme akan kering dan gersang." Lagi-lagi, jangan lupa ngopduud ..."[]

Sumber artikel: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=318290426181991&id=100040031089719

Posting Komentar

0 Komentar