Heboh Film Dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara, Benarkah Ada Sejarahnya?



Jagad media sosial dibuat heboh di awal tahun baru Hijriah 1442 ini dengan hadirnya sebuah film antimainstream. Film ini telah mendobrak fakta sejarah yang selama bertahun-tahun dipahami masyarakat Indonesia sebagai sejarah masa lalu bangsa yaitu tentang masuknya Islam ke Indonesia. 

Film dengan judul “Jejak Khilafah Di Nusantara “ besutan sutradara Nico Pandawa yang merupakan seorang sejarawan ini menjadi trending di Twitter. Kamis 20 Agustus 2020 Sekitar pukul 9.30 hashtag yang berkaitan dengan Film tersebut masuk trending 3 teratas diantaranya #DakwahSyariahKhilafah, #JKDNTheMovie, dan #SejarahIslamIndonesia. Film yang ditayangkan sekitar pukul 09.00-12.30 tersebut sukses ditonton lebih dari 100.000 netizen secara live. 

Sebelum pemutaran film diawali dengan pengantar dari seorang ulama yaitu KH. Rohmat S. Labib. Beliau menyampaikan kaitan bertepatan dengan momen awal tahun Hijriah, dimana yang menjadi penanda adalah sejarah Hijrahnya Nabi SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan hanya dimaknai berpindah tempat saja akan tetapi memisahkan yang haq dengan yang batil.

Ada hal yang tidak banyak diketahui dari hijrahnya Nabi dan kaum muslimin yaitu umat islam yang dulunya dibawah penindasan kaum kafir Qurays Makkah beralih menjadi mempunyai negara yang kuat dan agung. Dan Rosulullah SAW menjadi kepala negara yang mengatur urusan rakyat serta pemerintahan. Selanjutnya pengaturan negara dengan syariat Islam inilah yang menjadi sunnah dan diwariskan kepada para Khulafaur Rasyidin dan khalifah-khalifah setelahnya. 

Selanjutnya juga ada bincang hangat dengan para tokoh dibelakang layar diantaranya adalah ustad Ismail Yusanto yang merupakan penasehat Komunitas Literasi Islam (KLI) sebagai organiasasi dibalik Film JKDN. Beliau memberikan perspektif baru pada masyarakat bagaimana memandang sejarah. Bahwa sejarah itu tergantung pada siapa yang menuliskan dan tidak bisa dilepaskan dari latar belakang pemikiran penulis, termasuk salah satunya  kondisi politik yang mendominasi saat itu. 

Dalam ilmu sejarah ada istilah digging up the past (masa lalu adalah kunci memahami masa depan). Akan tetapi menurut beliau sejarawan muslim seharusnya juga memperhatikan aspek digging up the Truth (menggali kebenaran) dalam melihat sejarah. Selain itu jangan menjadikan sejarah sebagai sumber hukum dan pemikiran, karena sejarah hanya obyek pemikiran sebagai pelengkap dan bukti dari apa yang kita pahami juga bukti bahwa pernah terjadi. 

Termasuk dalam film JKDN ini hanya menunjukkan bahwa Khilafah itu pernah ada di dunia dan jejaknya juga sampai ke nusantara. Kalaupun jika sejarah ini tidak ada bukan berarti kewajiban adanya khilafah menjadi tidak berlaku. Sekali lagi sejarah hanya sebagai obyek, bukan sumber pemikiran maupun sumber hukum.

Lalu perbincangan dilanjutkan dengan ulasan dari Scriptwriter film JKDN, Septian AW yang juga seorang sejarawan muda. Menurutnya belum pernah ada film sejarah di Indonesia  yang menunjukkan hubungan antara kekhilafahan di Timur Tengah dengan umat Islam di Nusantara. Seperti halnya film walisongo yang mengisahkan sejarah dakwah islam di pulau jawa pun tidak menunjukkan sisi hubungan ini.

Meski film ini bisa dikatakan memberi perspektif sejarah yang masih baru bagi rakyat Indonesia, tetapi bukti-bukti sejarahnya bisa dipertanggungjawabkan secara akademis dan ilmiah. Tidak kalah meyakinkan sang sutradara Nicko Pandawa memberikan pernyataan bahwa film ini telah melalui berbagai riset, data pustaka dan data lapangan yang diambil dari ujung Aceh hingga Ternate sehingga keakuratannya bisa dipertanggungjawabkan. Dan setelah melalui berbagai kritik dan saran dari internal maupun eksternal dibuatlah menjadi narasi yang mudah dipahami oleh masyarakat. 

Tiba saat yang ditunggu yaitu pemutaran film dokumenter yang diawali dengan kisah wafatnya Rosulullah SAW hingga menjadi duka yang amat dalam bagi seluruh kaum muslimin saat itu termasuk para sahabat. Akan tetapi ada sebuah momen yang tidak terduga saat wafatnya Nabi bahwa para sahabat mendahulukan pemilihan pemimpin umat Islam yang menggantikan Nabi sementara jasad beliau belum dimakamkan. 

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya urusan pemimpin ini. Estafet kepemimpinan pun beralih kepada para Khulafaur Rasyidin dan Khalifah-khalifah setelahnya. Sistem kepemimpinan khilafah ini berlangsung selama 1300 tahun dan setelah itu tumbang. Kini, setelah hampir 1 abad berlalu tanpa ada kepemimpinan islam, pembicaraan tentang Khilafah mencuat kembali diseluruh dunia termasuk Indonesia. Dan nyata adanya bukti-bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa pengaruh khilafah di Timur tengah telah sampai di Nusantara. 

Perkembangan Islam yang pesat pada masa Khulafaur Rasyidin  telah mendobrak dua negara adidaya kala itu yaitu kekaisaran Persia dan Imperium Romawi. Ini menunjukkan kebijakan politik luar negeri negara khilafah yang luar biasa. Selain itu perdagangan umat Islam menjadi berkembang pesat  yang ditunjukkan dengan dikuasainya pelabuhan-pelabuhan strategis di Samudra Hindia. 

Pada masa Khalifah Usman bin Affan tahun 651 M terjadi hubungan diplomatik Khilafah dengan Cina dan Hindia. Hal ini terus berlangsung hingga kepemimpinan Islam beralih kepada Bani Umayyah. Posisi Nusantara yang strategis dan merupakan penghubung jalur dari Timur tengah ke Asia timur menjadikan nusantara sebagai pelabuhan dagang yang ramai. Dan disinilah awal mula jejak Khilafah di nusantara. 

Adalah kerajaan Sriwijaya, yang pelabuhannya dijadikan titik transit perdagangan dan hubungan diplomatik Khilafah dengan negara di Asia Timur. Ternyata ada fakta sejarah surat- menyurat yang dilakukan oleh Raja Sriwijaya Sri Indrawarman dengan khalifah Umar bin abdul Aziz pemimpin kekhilafahan Bani Umayyah di Damaskus. Selain itu pula diketahui di Aceh tepatnya Samudra Pasai  terdapat makam 3 orang yang merupakan keturunan dari Bani Abbasiyah. Diantaranya adalah Ashrodul Alkabir Abdullah bin Muhammad Al-Abasy serta anak dan istrinya. Beliau diketahui adalah keturunan khalifah Al-Mustamshir billah. 

Dalam kitab Ibnu Batutah disebutkan bahwa ayah dari Abdullah pernah menjadi Gubernur di India, sementara para sultan di India begitu taat dan memuliakan keturunan Khalifah Al-Mustamshir. Disebutkan pula bahwa India telah berbaiat dengan Daulah Abbasiyah di Mesir. Sementara itu terdapat hubungan erat antara sultan di India dengan Samudra Pasai, sehingga ada dugaan kuat kerajaan Samudra Pasai telah berbaiat kepada Daulah Abbasiyah, salah satunya kepada khalifah Al-mutawakkil Alallah di awal abad 15. 

Semenjak Khilafah berhasil mengalahkan Mongol dakwah Islam semakin pesat termasuk di Nusantara diantaranya penaklukan kerajaan-kerajaan di Sumatra dan Semenanjung Malaya. Raja-raja yang telah menjadi bagian dari institusi Islam ini mendapatkan gelar dari Khilafah di Timur tengah dengan gelar politis dan agamis. Samudara Pasai sebagai kerajaan yang telah berbaiat pada kekhilafahan mengemban misi dakwah ke daerah-daerah yang lain termasuk di Jawa Timur yaitu kerajaan besar Majapahit. Maulana Malik Ibrahim adalah utusan yang dikirim oleh Sultan dari Samudara Pasai ke kerajaan tersebut. 

Faktanya dakwah islam mudah diterima karena kebenaran ajarannya juga faktor perpecahan internal yang telah melanda kerajaan Hindu tersebut. Dakwah islam yang dilakukan sangat masif oleh para utusan tersebut menjadikan pesatnya perkembangan dakwah hingga berhasil mendirikan institusi Islam di tanah Jawa yaitu kesultanan Demak. Penyebaran islam terus berlanjut hingga sampai Maluku, Ternate, Makasar, Kalimantan, dan lain-lain. 

Di saat yang bersamaan kekhilafahan di Timur Tengah dibawah Bani Utsmaniyah telah berhasil menaklukkan negara adidaya Konstantinopel. Hal ini semakin menguatkan posisi Islam di dunia dan masifnya penyebaran Islam. Akan tetapi disisi lain umat Islam diujung barat yaitu Andalusia sedang berada dalam rongrongan tentara kristen barat (Portugis dan Spanyol) yang juga gencar melakukan serangan kepada wilayah-wilayah umat islam. 

Selain menginginkan kekuasaan dan penyebaran misi agama mereka juga mencari kekayaan. Rempah-rempah yang menjadi komoditas mahal melebihi emas mereka cari khususnya kenegeri kaya rempah di Samudra Hindia termasuk Nusantara. 

Malaka merupakan tempat strategis pertama yang berhasil menjadi perebutan Portugis dan Spanyol. Dengan masuknya penjajah barat ke Nusantara menjadikan babak baru perkembangan Islam di Indonesia. Islam benar-benar telah menjadi sumber perlawanan kepada para penjajah. Khilafah pun diketahui ikut andil dalam mengusir penjajah di Nusantara.

Disebutkan pada tahun 1568 armada besar berkekuatan 15000 ghazi Aceh, 400 jenissari dari khilafah Utsmaniyah serta 200 meriam monster berangkat ke Malaka dikomando langsung oleh sultan Alaudin Riayat Syah Alqohar dari khilafah Utsmaniyah untuk mengusir Portugis.  Sehingga banyak ditemukan makam tentara Turki di Aceh tepatnya di kampung Bitai. Sejarah hubungan Aceh dengan khilafah Utsmaniyah juga  bisa dilihat dari ditemukannya 6000 keping dinar dirham pada tahun 2013 lalu yang dicetak oleh Turki Utsmani. 

Ulasan film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) benar-benar telah membuka tabir sejarah di Nusantara yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Sehingga di akhir sesi pemutaran film disampaikan oleh ustad Ismail yusanto bahwa jika saat ini opini khilafah yang mengusik umat Islam agar diterapkan kembali ternyata memiliki dasar sejarah yang nyata. Bahkan di pelajaran-pelajaran sekolah mulai materi Sejarah Kebudayaan Islam hingga materi Fiqh telah termaktub secara gamblang. Maka tidak tepat ketika dikatakan opini penerapan khilafah adalah ahistoris. 

Jadi, cukuplah film ini menjadi pembuka pikiran kita bahwa jejak khilafah di Nusantara benar-benar ada. Dan kita berharap semoga umat Islam semakin rindu untuk segera mengamalkan ajarannya secara sempurna. []

Oleh: Fata Vidari, S. Pd
Penulis dan pemerhati sosial

Posting Komentar

0 Komentar