Habis Narasi Bergulirlah Persekusi


Sejauh ini, kemunduran berpikir sudah menjangkiti penguasa muslim. Dengan penuh keridloan, mereka mengadopsi sistem aturan yang bukan dari Dzat Yang Maha Baik. Upaya membonsai pemikiran lewat perang pemikiran juga masih dilancarkan demi memuaskan hati tuan Adidaya. 

Berbagai narasi sumbang tentang ajaran Islam disuguhkan. Mulai dari monsterisasi khilafah sampai pada persekusi pengembannya. Dengan bar-bar mereka menuding pengemban dakwah Islam sebagai radikal, teroris, ekstrimis dan segudang sebutan lainnya.

Secara sengaja kebijakan yang ditetapkan untuk menguliti siapa saja yang berpegang teguh pada ajaran Islam. Baru-baru ini tuduhan yang menyakitkan keluar dari salah satu pimpinan ormas terbesar, bahwa konsep khilafah tidak laku di Timur Tengah. Miris sekali narasi itu dilontarkan tanpa beban. Khilafah bukanlah komoditas seperti beras. Khilafah adalah ajaran Islam dan hukumnya adalah farfdhu kifayah.

Diskusi yang diangkat oleh salah satu stasiun TV swasta dengan tajuk yang sangat meyudutkan, begitu ambisi mencecar apakah jejak khilafah sesuai fakta atau tidak. Lagi-lagi narasi yang digulirkan adalah ketidaklayakan khilafah untuk kembali ditegakkan.

Namun demikian, narasi-narasi sumbang tentang khilafah begitu mudah dipatahkan. Sejatinya, khilafah yang merupakan sistem pemerintahan Islam masuk dalam salah satu materi yang diajarkan di madrasah tingkat Menengah Atas. Upaya-upaya pemberangusan bukti materi tersebut sudah digalakkan, akan tetapi narasi khilafah terus mencuat tak dapat dibendung.

Pengaruh dari kemunduran berpikir adalah tertambatnya hati pada kepongahan, sehingga susah menerima kebenaran bahwa khilafah ajaran Islam. Walhasil persekusi menjadi andalan untuk membungkam dan membendung opini khilafah di tengah-tengah ummat.

Maka, dengan persekusi tersebut semakin menampakkan betapa bobroknya sistem yang digunakan saat ini. Sistem demokrasi yang katanya mendewakan kebebasan justru berwajah kebalikan. Kemaksiyatan diapresiasi sepenuh hati. Kebenaran Islam dipersekusi dengan rasa tega tingkat tinggi.

Sayangnya, penguasa muslim sudah menikmati kebahagiaan semu. Mereka sedang berada di atas angin, merasa bisa berbuat apa saja termasuk narasi miring dan persekusi. Akan tetapi, mereka melupakan bahwa musim semi tak kan pudar hanya karena taman rindang di tebang. Mereka juga sedang kalap memadamkan cahaya Islam dan mereka lupa hal itu laksana hendak memadamkan cahaya matahari.

Narasi maupun persekusi yang digulirkan semakin menyadarkan umat pada kebenaran. Justru ummat semakin bersimpati pada ajaran Islam yang mulia. Dengan penuh perhatian, umat menyuarakan kebenaran. Wallahu a'lam.[]


Oleh: Afiyah Rasyad
Aktivis Peduli Ummat


Posting Komentar

0 Komentar