TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Film JKDN Sukses di Tayangan Perdana




Film Jejak Khilafah di Nusantara diinisiasi Sejarawan, Nicko Pandawa bersama Komunitas Literasi Islam JKDN.

Jejak Khilafah di Nusantara dikemas secara dokumenter, secara garis besar menceritakan hubungan Indonesia yang dulu disebut nusantara ternyata memiliki kaitan erat dengan khilafah Islamiyah, utamanya pada masa Khalifah Utsman.

Film yang dikemas apik dan disertai bukti-bukti bangunan bersejarah, lembaran-lembaran surat berbahasa arab yang ditulis raja Sriwijaya kepada sang Khalifah, makam para raja dan walisongo semuanya tertata apik dan berurutan sehingga bukan  saja orang tua namun anak-anak pun asyik menonton film Jejak Khilafah Di Nusantara.

Bayangkan, di tayangan perdananya masyarakan berbondong-bondong mendaftarkan diri demi mendapatkan tiket di http://bit.ly/tiket-jkdn hingga tercatat 250.000 pendaftar.

Film ini sangat dinantikan umat, terbukti saat penulis masuk ke dalam link di waktu subuh ternyata disana telah hadir 300 lebih calon penonton padahal menurut link resmi JKDN, film akan ditayangkan pukul 09.00 WIB.

Rupanya ada yang tidak suka dengan hadirnya film JKDN ini. Terbukti sejak awal hingga akhir penayangan tak kurang dari 3 kali pemblokiran, tetapi pihak penyelenggara tampaknya telah menyiapkan skenario ganda sehingga film sukses tayang sampai akhir cerita. Begitupun para pemirsa atau penontonnya, mereka tak kalah sigap bergerak segera berpindah dari link satu ke link lainnya demi mendapatkan film secara utuh tanpa terpotong potong.

Mengapa mereka begitu takut dengan sebuah film mahakarya anak bangsa yang telah berhasil memberi pencerahan ratusan ribu mata umat di negeri mayoritas Muslim ini? Seharusnya mereka bangga ditengah karut marut negeri ini, ditengah pandemi Corona muncul anak bangsa yang peduli dengan sejarah masuknya Islam di Nusantara hingga tagar #JejakKhilafahDiNusantara menjadi trending topik dan berhasil menembus 77.700 lebih cuitan di twitter.

Mengapa semua ini bisa terjadi?

Pertama, adanya pemblokiran menunjukkan bahwa rezim saat ini benar-benar takut jika sejarah yang sebenarnya terungkap serta membuktikan bahwa selama ini ada yang kurang dalam penyampaian sejarah masuknya Islam di Nusantara.

Islam masuk ke Nusantara ternyata tidak hanya berdasar teori Gujarat. Namun memang ada utusan dari Khalifah saat itu yang diutus untuk menyampaikan risalah Islam dan sampai di nusantara. Diapit oleh dua benua dan dua samudra, menjadikan letak Nusantara sangat strategis dalam lalu lintas laut yang ramai. Nusantara saat itu masih berada dalam kegelapan. Menjadi jalur transit dunia saat itu, maka Nusantara kemudian mendapatkan dakwah Islam dari Kekhilafahan. “Sebagai negara super power (adikuasa) pada masanya, maka wajar jika Khilafah berhubungan dengan banyak negara”, kata Moeflich Hasbullah.

Kedua, upaya pemblokiran film tersebut menunjukkan bahwa kebebasan ala demokrasi hanyalah omong kosong belaka. Bahkan pemerintah diduga secara resmi menutup channel youtube yang menayangkan film JKDN tanpa bertabayyun ataupun memberikan alasan dimana letak kesalahan film hasil riset Nicko Pandawa dan tim.

Sejumlah link yang telah disediakan, tidak bisa diakses. Jika diklik, layar monitor akan tertulis; ‘Konten ini tidak tersedia di domain negara ini karena ada keluhan hukum dari pemerintah’. Sejumlah channel juga tertulis hal yang serupa. Termasuk Khilafah channel yang merupakan official film tersebut.

Penutupan ini mendapat protes keras dari Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnain. Beliau berharap Pemerintah memberikan alasan pemblokiran film tersebut. Film itu, kata beliau, tidak bertentangan dengan hukum.

“Dengan ini saya meminta jawaban resmi dari pak @jokowi sebagai Presiden RI, Yai Ma’ruf Amin dan pak @mohmahfudmd :”Apa alasan Keluhan Pemerintah atas Video Jejak Khilafah sebagai Sejarah?” Apakah ada hukum negara yg dilanggar? NKRI negara hukum, tidak boleh sewenang wenang,” tulis Tengku Zul di akun twitternya, Kamis (20/8)

Ketiga, JKDN menunjukkan keberhasilan peyelenggara sekaligus kemenangan perang gerilya tim cyber dengan didukung ratusan ribu penontonnya di medan pertempuran milik kapitalis. 

Medan peperangan itu adalah Medan pemikiran. Berbagai kajian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa Islam tinggal menjadi satu-satunya petarung di medan pemikiran menghadapi sosialisme, komunisme atau kapitalisme, demokrasi dan liberalisme. Perang kita adalah perang pemikiran. Ide harus dihadapi dengan argumentasi dan bukti. Kita tidak menghadapi ide dengan kebohongan tetapi dengan kebenaran, kejujuran dan hukum-hukum Allah Swt. Allah Swt. telah menegaskan setiap muslim untuk mengatakan kebenaran dan berbuat sesuai dengannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu. Itulah yang harus kita lakukan di dalam perang pemikiran.[]


Oleh: Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh admin... Untuk nobar nye daftar dulu email nye ye kin..?

    BalasHapus