TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Di Mata Belanda, Persatuan Islam adalah Kekacauan dan Kerusuhan

Foto: radarjogja.jawapos.com


Bukan hanya tidak suka, penjajah tentu saja benci dengan persatuan umat Islam dalam satu komando seorang khalifah. Hal itu terungkap pula dalam buku yang berjudul Kekacauan dan Kerusuhan: Tiga Tulisan tentang Pan Islamisme di Hindia Belanda Timur pada Akhir Abad Kesembilan Belas dan Awal Abad Kedua Puluh. Buku ini diterbitkan oleh Indonesian Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS), yakni sebuah badan penerbitan kerja sama studi Islam Indonesia-Belanda. 

Buku ini terdiri dari empat bagian, bagian pertama berisi Kata Pengantar ditulis oleh editor buku tersebut yakni Nico JG Kaptein. Bagian kedua adalah tulisan pertama Anthony Reid yang berjudul Pan Islamisme Abad ke-19 di Indonesia dan Malaysia. Bagian ketiga berjudul Ketakutan Penjajah, 1890-1918: Pan Islamisme dan Persekongkolan Jerman-India, tulisan Kaes Van Dijk. Sementara bagian keempat tulisan Jan Schmidt berjudul Pan Islamisme di Antara Porte, Den Haag dan Buitenzorg.

Sebutan “Pan Islamisme” dalam buku setebal 170-an halaman ini ditujukan kepada strategi politik luar negeri Khilafah Utsmaniyah untuk menggabungkan negeri-negeri Islam di bawah satu komando, satu kekuasaan di bawah Kekhilafahan Utsmaniyah.
 
Hal ini berbeda dengan istilah “Pan Islamisme” yang muncul belakangan yang hanya sekadar solidaritas antar umat Islam dalam bingkai negara-bangsa. Dari sini bisa dipahami walaupun sama-sama menyerukan Pan Islamisme, Jamaluddin al-Afghani dianggap agen Inggris oleh Sultan Abdul Hamid II, karena Pan Islamisme ala Jamaluddin al-Afghani justru menyuburkan keretakan kekuasaan Khilafah Utsmaniyah. 

Karena ini merupakan dimensi politik luar negeri Khilafah Utsmaniyah, maka bagi Belanda yang sedang menjajah Hindia Belanda (sekarang Indonesia) ide Pan Islamisme ini dianggap sebagai sesuatu yang sangat berbahaya. Tak kurang seorang Snouck Hurgronje berpendapat bahwa ide Pan Islamisme yang diemban oleh Khilafah Utsmaniyah sebagai sebuah ide yang berbahaya bagi dominasi penjajahan Belanda di Hindia Belanda. 

Yang unik dari Kata Pengantar buku ini adalah pada bagian akhir paragraf bahwa “tulisan dalam buku ini diharapkan bisa menjadi pembanding dan mengurangi pandangan berat sebelah tentang pergerakan jaringan Islam internasional, Islam kontemporer, mengingat dunia saat ini dihadapkan ide penyatuan dunia Islam.” Mungkinkah yang dimaksud adalah ide Khilafah? Yang jelas Kata Pengantar itu ditulis di Leiden pada 3 Juni 2002.


Foto: Republika.co.id


Pan Islamisme

Dalam bagian kedua buku ini, Anthny Reid (Dosen Sejarah Universitas Malaya), mendedahkan bagaimana gagasan Pan Islamisme dari Khilafah Utsmaniyah bisa masuk ke Indonesia dan Malaysia. Untuk menulis tulisan ini, Anthony Reid harus merujuk kepada laporan-laporan dalam arsip lama penjajah Belanda. 

Anthony mengungkapkan ide Pan Islam Khilafah Utsmaniyah sebagai sebuah gagasan menghimpun perlawanan menyatukan dunia Islam untuk mencapai Kekhilafahan Universal seperti dengan kongres dunia Islam, dan pergerakan Khilafah di India. Hingga pergerakan Khilafah Utsmaniyah dalam kancah Perang Dunia II. 

Diulas pula bahwa Kesultanan Aceh menjalin hubungan dengan Khilafah Utsmaniyah dengan seluruh pasang surutnya. Tradisi orang-orang Aceh menegaskan bahwa Aceh adalah bagian dari kekuasaan Khilafah Utsmaniyah. Beberapa ahli strategi perang, pembuat senjata dan meriam didatangkan dari pusat Khilafah Utsmani ke Aceh dalam rangka untuk menghadapi penjajah Portugis. 


Ilustrasi

Sultan Ibrahim, penguasa Aceh mengirim surat agar Aceh diakui sebagai wilayah protektorat (provinsi) dari Khilafah Utsmaniyah. Sultan Abdul Majid (Khalifah Utsmaniyah) menerbitkan dua titah, yakni memperbarui perlindungan Khilafah atas Aceh, dan menegaskan Sultan Ibrahim sebagai penguasa Aceh. Bahkan Aceh mengirimkan sejumlah uang untuk membantu Khilafah Utsmaniyah ketika Khilafah bertempur dengan Rusia di perang Crimea. 

Hubungan Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah terpelihara dengan arus jamaah haji. Selama tahun 1872, Pasha Turki di Jeddah berulangkali menegaskan kepada Konsul Belanda bahwa Aceh merupakah bagian dari Kekhilafahan Utsmaniyah. 

Para haji mempunyai peranan penting untuk melakukan propaganda melawan penjajahan kafir Belanda. Mereka terkoordinir dalam sebuah kampung yang dikenal dengan  nama Kampung Jawwah. Para haji ini juga menjadi guru bagi orang dari Hindia Belanda yang melakukan ziarah ke Makkah, mengonsolidasikan mereka dan mengobarkan semangat jihad. 

Juga terdapat peran penting dari pergerakan para sayyid keturunan Arab untuk ---selain menyebarkan Islam di Hindia Belanda juga--- mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajahan. Dan juga menguatkan identitas Islam kepada warga Muslim Hindia Belanda. Para haji dan ulama inilah yang dicurigai pertama kali jika ada perlawanan di wilayah jajahan. Sehingga Belanda atas anjuran Snouck Hurgronje untuk giat menyokong para pemimpin pribumi sekular adat untuk melawan para ulama dan para pemimpin Muslim. Belanda senantiasa menumbuhsuburkan perpecahan ini. 


Foto: tes.co


Belanda Menindas

Sebuah informasi masuk ke penjajah Belanda bahwa Belanda digambarkan dalam pelajaran geografi di sekolah-sekolah di Turki (Khilafah Utsmaniyah) dan Arab sebagai sebuah kekuasaan yang menindas berjuta-juta umat Islam di Hindia Belanda. 

Disebut pula bahwa Sultan Jambi, Taha Safi’uddin memohon kepada Khilafah Utsmaniyah dengan menuliskan sebuah dokumen yang meminta Khilafah menyatakan bahwa kekuasaanya berada dalam wilayah Khilafah Utsmaniyah. Sultan Taha mengirimkan utusannya bernama Syarif Ali untuk menyampaikan permohonannya ini kepada Khalifah di Konstantinopel. 

Akhirnya Sultan Taha menjemput syahid ketika menghadapi penjajah Belanda. Namun hanya lima bulan kemudian sebagian besar bangsawan Jambi dibangkitkan lagi semangat jihadnya oleh Karl Hirsch alias Abdullah Yusuf, seorang kebangsaan Hungaria dalam pasukan Khilafah Utsmaniyah yang memiliki tugas khusus dari Khilafah Utsmaniyah untuk membantu pertahanan Jambi. 

Sementara di Jawa ditulis berbagai propaganda untuk menyebarluaskan perlawanan umat Islam akan penjajah Belanda. Penyebarluasan propaganda ini dilakukan oleh para haji Jawa dan orang-orang Arab di Jawa. Bahaya terbesar terhadap penjajah Belanda adalah perlawanan di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi lantaran para sultannya mempunyai kekuasaan politik Islam yang dominan. 

Di Jawa Barat ditemukan oleh penjajah bahwa ulama Jawa Barat menaruh simpati atas perlawanan jihad umat Islam Aceh melawan penjajahan. Bahkan tak sedikit umat Islam Jawa menerjunkan diri untuk ikut perang suci (jihad) melawan penjajah. Salah satunya adalah 30 laskar jihad dari Jawa yang akan berangkat ke Aceh namun belum berhasil karena dihadang oleh blokade penjajah Belanda. 

Karena kekhawatiran pergerakan umat Islam Hindia Belanda akan kesadaran Pan Islam (di bawah komando Khilafah Utsmaniyah) sampai-sampai Kementerian Luar Negeri Belanda harus menerbitkan instruksi khusus untuk diedarkan kepada para konsulnya yang tersebar di seluruh wilayah Hindia Belanda yang isinya adalah untuk segera melaporkan apabila ada tanda-tanda kebangkitan agama dan politik di kalangan umat Islam. 

Pergerakan Pan Islam Khilafah Utsmananiyah semakin kentara ketika ditempatkannya Jenderal Konsulat Khilafah Utsmaniyah di Batavia, yakni Muhammad Kamil Bey. Penjajah Belanda melakukan protes ketika Kamil Bey melakukan korespondensi dengan Sultan Deli. Belanda mengendus pergerakan para konsulat Khilafah Utsmaniyah ketika menemukan surat kabar Turki, Ikdam yang isinya adalah “Tugas terpenting para Konsul Ottoman adalah memperkuat ikatan-ikatan di antara orang-orang Islam di mana pun mereka berada.”

Pada Juli 1904, Sultan Abdul Hamid (Khalifah Utsmaniyah) mengatakan kepada wakil Belanda di Istananya, “Atas nama umat Islam Hindia Belanda agar Ratu Belanda tidak menindas umat Islam Hindia Belanda, mempermudah urusan haji umat Islam Hindia Belanda.”  

Melihat pergerakan Pan Islam dari Khilafah Utsmaniyah sebagaimana di atas maka Snouck Hurgronje menjelaskan bahwa Pan Islam adalah “bentuk yang paling menjijikkan, yang bisa menimbulkan kerusuhan dan kekacauan.” 

Snouck juga berpendangan bahwa hubungan politik dan agama (Islam) sebagai musuh utama bagi kemajuan di Hindia Belanda (Indonesia). Untuk menghadapi pengaruh Pan Islam, Snouck merekomendasikan kepada penjajah Belanda untuk menguatkan pendidikan Barat di kalangan pribumi sehingga pribumi jauh dari gagasan Pan Islam. 

“Gagasan Pan Islam, yang hingga kini kurang memiliki pegangan pada kaum ningrat Jawa dan golongan-golongan Muslim yang setara dengannya di kepulauan-kepulauan luar Jawa, akan kehilangan kesempatan untuk mencapai golongan penduduk tersebut segera setelah para anggotanya secara sukarela menjadi penyangga kebudayaan kita. Jika kemudian golongan petani menjadi terinfeksi penyakit Pan Islam secara membahayakan, yang dapat saja terjadi sewaktu-waktu, maka kaum elite berpendidikan Barat harus berkepentingan untuk mengusirnya.” Demikian penjelasan Snouck Hurgronje untuk menghadang gagasan Pan Islam. 

Entah mengapa ketika membaca kutipan pernyataan Snouck ini penulis jadi teringat ketika tvOne dalam acara ILC mewawancarai Menkopolhukam Wiranto, Wiranto menyatakan bahwa dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam dengan mengembalikan sistem Islam (Khilafah) disamakan dengan “penyakit tumor berbahaya.” Mungkinkah Pak Wiranto terinspirasi dari pernyataan Snouck?[]  

Penulis: Pristian Surono Putro
Editor: Joko Prasetyo

Dimuat pada rubrik KISAH Tabloid Media Umat edisi 241 (pertengahan April 2019)

Posting Komentar

0 Komentar