Dakwah Hari Ini Bagaikan Menggenggam Bara Api



Saat ini, berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah berat, bagaikan mereka yang mengenggam bara api.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Mengenggam bara api di dunia berarti merasakan panasnya luar biasa. Namun justru ketika Islam dan syari'atNya dilepaskan, panas neraka lebih tak tertahankan selamanya.

Hal tersebut bisa tergambar pada keadaan umat Islam hari ini. Beberapa tahun terakhir ini telah banyak menjumpai persekusi yang dilakukan pada beberapa ulama, asatidz, aktivis dakwah serta umat dan ajaran Islam secara umum. Bahkan kabar yang terakhir datang dari Pasuruan, Jawa Timur. Seorang ustadz desa digeruduk sekelompok orang atas nama ormas Islam. Beliau dituduh terkait dengan ormas Islam yang telah dibubarkan. Padahal meskipun ormas tersebut telah dicabut BHP nya, aktivisnya tetap boleh aktif berdakwah menyampaikan ajaran Islam.

Saat ini segala ajaran Islam banyak dikritisi serta mengalami distorsi. Mulai dari hukum poligami, hijab, uqubat, khilafah dan jihad. Hingga baru-baru ini pemutaan film dokumenter bertajuk sejarah Jejak Khialafah Di Nusantara juga dilarang penguasa.

Selain itu, nun jauh di sana. Saudari kita muslimah di Kirgistan ditangkap dan dipenjarakan oleh pihak penguasa Kirgistan. Mereka dituduh menyebarkan ajaran radikal dan terkait sebuah ormas Islam yang dilarang penguasa. Padahal mereka hanyalah ibu rumah tangga yang melakukan kewajiban dakwah menyeru sesama.

Berbagai macam persekusi di dalam dan luar negri terhadap pengemban dakwah dan ajaran Islam adalah bentuk kezaliman. Padahal kejadian tersebut berlangsung di negara yang mayoritas muslim penduduknya. Negara yang katanya menerapkan sistem demokrasi. Mengakui kebebasan beragama dan berpendapat. Namun, demikianlah proses tabayun dan musyawarah yang ditampilkan lebih cenderung pada upaya perundungan dan kezaliman. Nampaknya demokrasi hanya menjaga kebebasan kepemilikan saja.

Ketiadaan Junnah

Pasca runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah 1924 silam, umat Islam mengalami banyak Kezaliman. Tidak ada lagi Junnah atau payung pelindung bagi umat ini. Rosulullah SAW pernah bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Jumlah umat yang begitu besar, kini tinggal kuantitas tanpa kualitas. Umat Islam tanpa khilafah mengalami berbagai serangan dari kaum kafir penjajah. Baik serangan pemikiran maupun serangan fisik dan kekerasan. Melalui penguasa muslim yang munafik, umat hari ini dipaksa berhadap-hadapan dengan sesama saudaranya. Tidak ada lagi kasih sayang dan musyawarah. Bahkan yang ada justru persekusi dan kezaliman.

Hal ini, akibat umat telah lama dalam sistem Kapitalis Demokrasi. Sebuah sistem yang sekuler, menjauhkan agama dari kehidupan dan negara. Menjadikan standar kebahagiaan pada materi dunia. Jadilah umat Islam tidak lagi mengedepankan adab dan Akhlakul Karimah. Umat telah jauh dari pemahaman Islam Kaffah. Ketakutan kepada penderitaan dan kematian membuat umat Islam akhirnya tunduk kepada hawa nafsunya. Mengikuti arahan penjajah.

Rahmatan Lil alamin tinggal jargon semata. Bahkan lebih dimanfaatkan oleh orang-orang munafik menyampaikan Islam yang pluralisme dan sinkretisme. Sebuah tafsir yang jauh dari pemahaman hakikatnya.

Perlakuan umat Islam terhadap sesamanya harusnya lebih mengedapankan kasih sayang bukan kekerasan. Adanya ikhtilaf pada beberapa pemahaman ajaran Islam harusnya menjadi berkah dan Rahmat. Sebagai sebuah diskursus yang membuka cakrawala ilmu dan tsaqofah. Bukan tangan besi dan arogansi.

Demikianlah bukti bahwa saat ini dakwah dihadapkan dengan umat Islam sendiri yang sudah jauh dari pemahaman Islam. Umat yang telah lama hidup dalam sistem kapitalis telah mengadopsi ide-ide kufur barat. Hingga secara sadar ataupun tidak sebagian dari umat Islam telah menjadi antek dan agen pemikiran barat. 

Dengan imbalan sedikit dunia, umat yang munafik telah menjadi alat penjajah untuk menyerang umat Islam yang menyeru kepada penegakkan Islam Kaffah. 

Umat Islam tanpa khilafah tidak hanya tercerai berai oleh sekat nasionalisme yang dipasang oleh para penjajah. Namun, umat saat ini juga tersekat oleh ide-ide penjajah. Hari ini tampak nyata umat terpolarisasi menjadi pembela Islam atau pembela kaum penjajah.

Dengan demikian sudah saatnya umat menyadari bahwa perundungan seperti saat ini tak akan pernah berhenti. Hingga umat memiliki kembali Junnah yaitu sebuah institusi Khilafah. Kemuliaan Islam dan umat akan terjaga. Tidak akan ada lagi kezaliman dengan berbagai bentuknya. Para ulama', ustadz dan pengemban dakwah akan mendapatkan perlindungan dalam menyampaikan Islam. Karana Khilafah adalah negara dakwah. Wallahu a'lam bi ash-showab.[]


Oleh: Najah Ummu Salamah
Forum Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar