Childfree, Keputusan Pragmatis di Era Millenial



Kemunculan istilah childfree sudah dimulai pada abad ke-20 akhir atau sekitar tahun 2000-an. Childfree adalah istilah memilih untuk tidak memiliki anak, hal seperti ini terjadi kepada pasangan suami istri bahkan yang masih lajang. Pasangan dengan sengaja tidak ingin mempunyai anak,bukan karena belum dikaruniai anak. Beberapa alasan memang tampak egois seperti mengira anak akan membuat badan wanita tidak ideal,menghambat karir wanita. Dan ada komunitas tertentu para pendukung gaya hidup childfree seperti penulis asal Paris yang menulis buku tentang 40 alasan untuk tidak memiliki anak dengan berbagai pandangan. Penulis tersebut bernama Corinne Maier dengan buku “No Kids : 40 Reasons For Not Having Children”. (wikipedia.com 24/10/2019)

Banyak yang menganggap mempunyai anak pada saat kondisi seperti sekarang ini kurang tepat, kecemasan para orang tua karena segi ekonomi ataupun pendidikan bahkan para wanita yang sedang bekerja berpikir bahwa jika mereka memiliki anak akan mengganggu pekerjaan mereka, seolah-olah mereka dipaksa menjadi seorang ibu rumahtangga. Framing menjadi ibu rumah tangga yang tidak bebas serta tidak menghasilkan materi menjadi virus dikalangan milenial yang akan menempuh rumah tangga. 

Padahal ada pahala yang luar biasa ketika perempuan menjadi ibu rumah tangga yang ikhlas mengerjakan pekerjaan rumah dengan keridhoan suaminya. Seperti dalam kisah Fatimah putri Rasulullah yang menangis karena lelah menggiling gandum. Kisah ini diambil dari kitab Uqudulujain Karya Imam Nawawi Al-Bantani untuk menyemangati para istri atau wanita yang akan menikah, juga untuk bahan renungan bagi suami untuk lebih menyayangi istrinya. Karena dalam rumah tangga, wanita memiliki tugas yang sangat berat.

Suatu hari Rasulullah SAW menyempatkan diri berkunjung ke rumah Fatimah az-zahra. Setiba di kediaman putri kesayangannya itu, Rasulullah SAW berucap salam lalu masuk. Ketika itu beliau mendapati Fatimah tengah menangis sambil menggiling Syaiir (sejenis Gandum) dengan penggilingan tangan dari batu. Seketika itu Rasul bertanya kepada putrinya. “Duhai Fatimah, apa gerangan yang membuat engkau menangis ? Semoga Allah tidak menyebabkan matamu berderai.” Fatimah menjawab, “Wahai Rasulullah, penggilingan dan urusan rumah tangga inilah yang menyebabkanku menangis.”

Kemudian duduklah Rasulullah SAW di sisi Fatimah. Lalu Fatimah melanjutkan. “Duhai Ayahanda, sudikah kiranya Ayah meminta kepada Ali, suamiku untuk mencarikan seorang jariyah (budak perempuan) untuk membantuku menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah?”

Maka bangkitlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Dengan tangannya beliau mengambil sejumput gandum, lalu diletakkannya tangan beliau di penggilingan seraya membaca “Bismillah.” Ajaib, dengan seizin Allah SWT penggilingan tersebut berputar sendiri. Sementara penggilingan itu berputar, Rasulullah bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa, sehingga habislah gandum itu tergiling.. “Berhentilah berputar dengan izin Allah SWT.” Maka penggilingan itu pun berhenti berputar.

Lalu dengan izin Allah pula penggilingan itu berkata dengan bahasa manusia, ”Ya Rasulullah, demi Allah yang telah menjadikan tuan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Seandainya tuan menyuruh hamba menggiling gandum dari timur hingga ke barat pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT, “Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu, keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan-Nya. Maka hamba takut, wahai Rasulullah, jika kelak hamba menjadi batu di neraka.” Lalu bersabdalah Rasulullah SAW, ”Bergembiralah, karena engkau adalah salah satu Mahligai Fatimah az-zahra di dalam surga.” Maka bergembiralah penggilingan batu itu.

Lalu Rasulullah bersabda: ”Jika Allah menghendaki, niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu. Tapi Allah menghendaki dituliskannya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskannya beberapa kesalahanmu. Dan diangkatnya beberapa derajat untukmu. Bila seorang wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya, Allah akan menuliskan baginya setiap butir gandum yang digilingkannya satu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.“

Kemudian Rasulullah meneruskan nasehatnya, ”Wahai Fatimah, wanita yang berkeringat ketika wanita itu menggiling gandum untuk suami dan anaknya, Allah akan menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh parit. Wanita yang meminyaki dan menyisiri rambut anaknya, serta mencuci pakaian mereka, Allah akan mencatat pahalanya seperti memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya, Allah akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar di hari kiamat.”

Rasulullah SAW masih meneruskan nasehatnya, ”Wahai Fatimah, yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jika suamimu tidak ridha, aku tidak akan mendoakanmu. Tidakkah engkau ketahui, ridha suami adalah ridha Allah SWT, dan kemarahannya adalah kemarahan Allah SWT?”

“Apabila seorang wanita mengandung janin, maka beristighfarlah para malaikat. Dan Allah mencatat tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit karena akan melahirkan, Allah akan mencatatkan pahala baginya seperti pahala orang-orang yang berjihad. Apabila ia melahirkan, keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaan saat ibunya melahirkannya. Apabila ia meninggal dalam melahirkan, ia meninggalkan dunia ini tanpa dosa sedikit pun. Kelak ia akan mendapati kuburnya tersebut sebagai taman-taman surga. Dan Allah mengaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah. Dan beristighfarlah seribu malaikat untuknya di hari kiamat.”

”Wahai Fatimah, wanita yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta dengan niat yang benar, Allah SWT akan menghapuskan dosa-dosanya. Dan akan mengenakan seperangkat pakaian hijau, dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya, seribu kebaikan (setiap helai seribu kebaikan). Wanita yang tersenyum di hadapan suaminya, Allah memandangnya dengan pandangan Rahmat.”

”Wahai Fatimah, bagi wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring atau menata rumah dengan baik untuk suami dan anaknya, maka berserulah para malaikat untuknya: ‘Teruskanlah amalmu, maka Allah telah mengampunimu dari dosa yang lalu maupun yang akan datang”

”Wahai Fatimah, wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya, serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya, Allah akan memberinya minuman dari sungai-sungai surga. Dan kuburnya akan menjadi taman di surga. Dan Allah akan menyelamatkannya dari api neraka, serta selamat dari titian Shirotul Mustaqim.”

Dari Abdullah bin Amr Al Ash ra, Rasulullah SAW bersabda: “Dunia adalah suatu perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.”(HR. Muslim)

Sudah sangat jelas banyak kebaikan menjadi ibu rumah tangga, dengan keikhlasan mengerjakaan pekerjaan rumah untuk mendapat ridho dari suami serta meyakini balasan dari Allah saja. 

Dan kita juga mengetahui ketika kita berhasil mendidik anak menjadi anak yang sholih dan sholihah maka do’a mereka adalah amal jariyah yang saat kita meninggal tidak akan terputus. “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Childfree bukan solusi, karena tanpa anak akan bermasalah saat suatu negeri krisis generasi sehingga tidak memiliki pemuda yang meneruskan estafet pembangunan negerinya, seperti negara-negara maju sepeti Jepan, Italia, Yunani dan lainnya. (brillio.net 17/01/18)

Ketakutan dan framing saat ini bagi para perempuan yang belum menikah atau bagi para istri yang tidak bangga dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga sudah layaknya kita hapuskan, termasuk childfree. Karena kebahagiaan kita sejatinya bukan diukur berdasarkan materi namun ridho ilahi, dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup serta tuntunan dan cahaya bagi kehidupan kita. 

Perkataan orang hanyalah goda yang tega yang membuat hati kita keruh, maka masyarakat juga perlu menyadari bahwa menjadi ibu rumah tangga atau terpaksa menjadi ibu sekaligus bekerja karena harus mendukung ekonomi keluarga bukan kesalahan individu semata namun tidak meratanya kesejahteraan masyarakat yang seharusnya negara pun ikut andil dalam memenuhi kebutuhan per individu terutama kebutuhan pokok, terlebih lagi di masa pandemi seperti ini, disaat ekonomi merosot diberbagai lini.

Khilafah yang mampu menerapkan Islam secara menyeluruh termasuk dalam penyadaran pemahaman individu, masyarakat serta keluarga untuk memahami Islam. Wallahu'alam bish shawab. []


Oleh: Dwinur Pratiwi

Posting Komentar

0 Komentar