Benarkah Khilafah Hancurkan Keberagaman?



Beredar foto dari sebuah baliho yang dikeluarkan PC NU Kota Cirebon. Infonya, baliho tersebut dipasang di depan Masjid Raya at-Taqwa Kota Cirebon.

Didapat foto Habib Luthfi bin Yahya, kemudian terdapat tulisan yang dinisbatkan kepadanya dengan redaksi : 
"Khilafah tidak cocok diterapkan pada zaman sekarang, sebab Indonesia Negara Plural. Saya menjaga umat Islam agar tidak pecah"

Terlepas benar tidaknya baliho tersebut dan terlepas pendapat tersebut benar terucap dari Habib Luthfi bin Yahya atau bukan, penulis ingin mengkritisi terkait opini khilafah yang tertera dari foto baliho tersebut. Foto baliho yang sempat viral di dunia maya.

Penulis ingin menjawab apakah benar khilafah menghancurkan keseragaman?

Allah berfirman dalam AlQuran surat al-Hujurat ayat 13 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu, sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.

Pluralitas adalah paham atas keberagaman untuk dapat hidup secara toleran ditengah-tengah masyarakat. Masyarakat di sini merupakan masyarakat yang majemuk baik secara budaya, agama, bahasa dan sebagainya. 

Pluralitas adalah sebuah realitas alamiah. Pluralitas  merupakan sunnatullah sebagaimana firman Allah Swt.dalam Alquran surat al-hujurat ayat 13 di atas. 

Hal tersebut sebagai bentuk menepis tuduhan tanpa dalil dan tendensi fitnah terkait Khilafah yang meniadakan keberagaman atau pluralitas .

Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa menghormati orang lain sekalipun berbeda agama dan keyakinan. Islam juga menganjurkan umatnya untuk bekerja sama dan tolong-menolong dengan umat lain sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al-Mumtahanah ayat 8

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Artinya: Allah Swt. tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu sesungguhnya Allah Swt. menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Rasulullah Saw. bahkan mencela orang-orang yang menghina dan merendahkan kafir dzimmi, selain itu kaum Muslim tidak dibenarkan memaksa umat lain untuk menjadi penganut Islam seperti apa yang tertuang dalam Quran surat Al kafirun.

Sejarah justru membuktikan banyak umat lain yang berbondong-bondong masuk Islam setelah mereka merasakan sendiri keagungan Islam dan kesejahteraan hidup di bawah naungan pemerintahan Daulah Islam.

T.W. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam, menuliskan bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Dia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”.

Arnold kemudian menjelaskan; “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman -selama kurang lebih dua abad setelah penaklukkan Yunani- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa. Kaum Kalvinis Hungaria dan Transilvania, serta negara Unitaris (kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada di bawah pemerintahan Hapsburg yang fanatik; kaum protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki, dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam… kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.”

Kita dapat melihat bahwa Negara Khilafah bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti oleh kaum non-Muslim. Khilafah adalah sebuah negara yang akan membawa mereka keluar dari kegelapan dan penindasan sistem kapitalis, menuju cahaya dan keadilan Islam. Perlakuan khilafah pada kaum non-Muslim semacam inilah yang kemudian membuat banyak orang memeluk agama Islam. 

Inilah gambaran pluralitas yang diakui Islam. Pluralitas dalam khilafah sebagai realitas, dikelola dengan tuntutan syara' untuk melahirkan kebahagiaan tanpa diskriminasi.

Harus dibedakan antara pluralitas dengan pluralisme. Islam tidak memiliki paham pluralisme sebab pluralisme adalah paham yang mentoleransi adanya ragam pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban dan lain-lain.

Kemunculan ide pluralisme didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan klaim kebenaran yang dianggap sebagai pemicu munculnya sikap ekstrem radikal, perang atas nama agama, konflik horizontal serta penindasan atas nama agama.

Pluralisme memiliki hakikat bahwa rasa benar sendiri dan eksklusivisme merupakan biang terjadinya berbagai tindak kekerasan dan diskriminasi di tengah-tengah masyarakat.

Dalam perkembangannya, ada faktor lain yang mempercepat penyebaran pluralisme ini yakni faktor kepentingan ideologis dan kapitalisme untuk melanggengkan dominasinya di dunia. Selain isu-isu demokrasi, hak asasi manusia dan kebebasan serta perdamaian dunia, pluralisme telah menjadi sebuah gagasan yang terus disuarakan kapitalisme global yang digalang Amerika serikat untuk menghalangi kebangkitan Islam .

Oleh karena itu, pluralisme yang lahir dari ideologi kapitalisme inilah yang haram diambil oleh kaum Muslimin. Adapun Islam adalah ideologi yang sangat menghargai pluralitas.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Editor: SM

Posting Komentar

0 Komentar