Athian Ali dan Kecintaan terhadap Bendera Tauhid

Foto: Ahmad Khozinudin


Beredar viral artikel dengan judul 'Banser, Khilafah dan Kalimat Tauhid'. Tulisan tersebut ditulis oleh Athian Ali. 

Beberapa poin penting artikel adalah mengingatkan kedudukan kaum muslimin bersaudara bagaikan jasad yang satu, nasehat agar saling menghormati sesama muslim pada hal hal di ranah ijtihad, menyayangkan sikap Banser yang anti Khilafah tapi mentolerir Syiah, lebih spesifik ungkapan rasa aneh penulis pada Banser yang begitu antipati terhadap kalimat tauhid.

Terlepas dari apapun, kalimat tauhid adalah kalimat sakral. Keliru besar menisbatkan bendera bertuliskan kalimat tauhid pada ormas tertentu. Apalagi, memperlakukannya secara hina seperti apa yang terjadi di Garut sekira dua tahun lalu.

Yang menarik, Athian Ali selaku penulis artikel dalam paragraf akhir menyatakan :

"Untuk yang terakhir ini. Terus terang darah saya juga ikut mendidih menyaksikan kalimat tauhid atau syahaadatain diperlakukan seperti itu."

"Ingin rasanya jika suatu saat Alloh SWT memberi saya peluang berhadapan dengan siapa pun yang membenci kalimat tauhid itu dikibarkan, dimana insya Alloh saya akan angkat bendera tauhid setinggi-tingginya. Untuk kemudian saya siapkan diri untuk mempertahankannya jika ada yang bermaksud menurunkannya dari tangan saya, walaupun katakanlah, untuk itu saya harus menebusnya dengan nyawa saya sendiri !"

Apa yang dinyatakan oleh penulis mengingatkan kita pada kisah heroik sahabat RA yang berjibaku, membela dan mempertahankan bendera bertuliskan kalimat tauhid hingga syahid pada perang Mut'ah.

Dalam perang Mut’ah, kaum muslimin berjumlah 3.000 pasukan untuk menghadapi tentara Romawi berjumlah 100.000 tentara dan 100.000 kabilah-kabilah arab nasrani sehingga total tentara musuh kaum muslimin berjumlah 200.000 tentara.

Dalam perang ini Rasulullah menunjuk tiga orang panglima besar.
Zaid Bin Haritsah RA , Ja’fa Bin Abu Thalib RA, dan Abdullah Bin Rawahah RA.

Rasulullah menunjuk tiga orang terbaiknya tersebut, ”Kalian harus tunduk pada Zaid. Jika Zaid gugur pimpinan diambil alih oleh Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far gugur maka pimpinan dipegang oleh Abdullah Rawahah”, demikian sabda Baginda Nabi SAW.

Perang pun tak terelakkan, Zaid Bin Haritsah maju dengan membawa bendera umat islam. Ja’far pun maju dengan gagah berani. Saat dilihatnya bendera hampir jatuh dari tangan kanan Zaid. Ja’far sigap menyambar. Dia berjanji dalam hati akan menjaga bendera agar tidak sampai menyentuh tangan musuh. 

Tanpa rasa takut dia terus menebas musuh dengan pedangnya. Musuh pun jatuh tak terhitung. Melihat sepak terjang Ja’far, panglima Romawi pun memutuskan untuk mengepungnya. 

Ja’far tak gentar terus maju. Hingga terpisah tangan kanannya oleh tebasan pedang musuh. Tangan kirinya dengan sigap menangkap bendera. Bahkan ketika tangan kirinya pun terkena sabetan pedang. Dia memeluk bendera dengan kedua pangkal lengannya.

Di perang inilah Ja’far menemui kesyahidannya. Setelah beliau syahid ditemukan pada tubuhnya terdapat 90 luka lebih antara tebasan pedang, tusukan panah, tombak yang menunjukkan keberaniannya dalam menyerang musuh. 

Ja'far kembali pada Allah setelah memenuhi janjinya menjaga panji-panji islam. Kemudian, bendera pun diambil oleh Abdullah Rawanah. Dan Abdullah Rawanah pun wafat.

Saat itu Rasulullah sedang berbincang dengan para sahabat di Madinah. Tiba-tiba Allah mengabarkan kondisi peperangan Mut’ah. Rasulullah menunduk, matanya berkaca-kaca.

”Bendera pasukan dibawa oleh Zaid bin Haritsah. Ia bertempur dengan gagah berani hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian bendera diambil oleh Ja’far. Dia pun bertempur dengan gagah berani hingga gugur sebagai syahid.”   Beliau pun menangis. 

Namun setelah itu beliau memberikan kabar baik pada keluarga Ja’far , ” Aku telah melihatnya di surga. Dia mengenakan sayap yang masih ada darahnya dan bertaburkan bintang kehormatan.”  Ja’far si Burung Surga.

Rasulullah diam sejenak, kemudian berkata,

”Kemudian Bendera itu dipegang oleh Abdullah bin Rawanah. Dia bertempur dengan gagah berani hingga gugur sebagai syahid”

Rasulullah kembali diam. Tiba-tiba wajah beliau terlihat gembira dan penuh ketentraman. 

“Mereka bertiga dinaikkan ditempatku di surga.”

Demikianlah, kisah heroik para sahabat Ridwanullahu Ajma'in dalam membela dan mempertahankan bendera tauhid, bendera persatuan dan simbol kemuliaan kaum muslimin. Bendera, yang akan memberikan naungan di hari kiamat kelak.

Athian Ali ingin membela Bendera tauhid dan mempertahankannya sebagaimana Zaid Bin Haritsah RA , Ja’fa Bin Abu Thalib RA, dan Abdullah Bin Rawahah RA membela dan mempertahankan bendera tauhid hingga mengantarkannya menemui syahid.

Semestinya, saudara kita di Ansor Banser NU, juga mengambil sikap yang sama, yakni membela dan mempertahankan bendera tauhid, menolong agama Allah SWT, meski nyawa sebagai taruhannya.

Semoga kita semua umat Islam, dapat menteladani sikap Zaid Bin Haritsah RA , Ja’fa Bin Abu Thalib RA, dan Abdullah Bin Rawahah RA yang membela dan mempertahankan bendera tauhid karena kecintaannya kepada Allah SWT, Kepada Islam dan kaum muslimin.

Semoga seluruh kaum muslimin di dadanya mencintai kalimat tauhid dan bangga mengibarkannya ditengah umat, dan berkomitmen membelanya sebagaimana apa yang ditulis oleh Athian Ali. Ya Allah, satukan kami umat Islam dibawah naungan kalimat tauhid. [].

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Sumber: Facebook Ahmad Khozinudin

Posting Komentar

0 Komentar