ASI dan Pengasuhan Anak dalam Islam

Foto: sehatQ.com


Setiap tanggal 1 – 7 Agustus dunia internasional memperingati World Breastfeeding Week atau Pekan ASI Sedunia. Hal ini merupakan cara WHO dan UNICEF mendukung ibu menyusui diseluruh dunia. Adanya perayaan ini bertujuan memperjuangkan pemenuhan hak anak atau bayi akan kebutuhan ASI hingga berusia 24 bulan atau lebih. 

Menyusui itu sama saja seperti kita memberi cinta seperti kutipan "You can't buy love. Because when it's real, it's priceless" -Anonymous-

Peringatan pekan ASI sedunia ini diharapkan para ibu mampu menyelamatkan 820.000 anak di dunia setiap tahunnya. Itulah mengapa WHO dan UNICEF meminta kepada pemerintah di masing masing negara untuk melindungi dan memberikan akses para ibu untuk menyusui serta mendampingi lewat konseling. 

Telah sama sama kita ketahui pula bahwa manfaat dari menyusui selain aspek kesehatan, nutrisi, tapi juga dari emosional anak dan ibu yang terjalin, Bonding yang tercipta ketika prosesnya berlangsung yang justru jauh lebih mahal. Menyusui secara langsung mengajarkan setiap ibu luar biasa banyak hal setiap langkah nya.

Memberikan ASI juga mendukung program pemberian pangan berkelanjutan. Di dalam ASI tekandung zat zat gizi yang diperlukan bayi untuk pertumbuhan dan mengandung zat zat kekebalan yang sangat penting untuk mencegah timbulnya penyakit (Imunoglobulin, laktoferin, lisosim, sel bifidus), sel darah putih, serta mudah dicerna oleh pencernaan bayi. 

Alhasil, mengutip dari situs WHO, UNICEF dan WHO telah menyusun rekomendasi kepada pemerintah disetiap negara demi menjamin dukungan dan perlindungan bagi para ibu menyusui, salah satunya negara harus memastikan bahwa konseling tersedia sebagai bagian dari layanan kesehatan dan gizi rutin yang mudah diakses.

Pemberian ASI sudah diberikan arahan semenjak agama ini diturunkan 14 abad silam, jauh sebelum kedokteran modern dan ilmu gizi menyerukan gerakan inisiasi menyusui dan pemberian ASI Esklusif bagi bayi. Dalam Islam, pemberian ASI dijelaskan sebagai jalan menularkan karakter watak ibu pada anak. Malalui menyusui ada kontak batin dan fisik antara ibu dan anak. Secara tidak langsung, hal itu merupakan bimbingan dan pendidikan dari ibu kepada anak. Inilah pentingnya seorang ibu memberikan ASI pada anaknya. Proses pemberian ASI pada anak dilakukan setelah dilahirkan hingga berusia lengkap dua tahun.

Fakta-fakta tentang ASI memang tidak terbatas. Kontribusi ASI untuk kesehatan bayi berubah seiring tahapan bayi dengan menyesuaikan bahan makanan yang dibutuhkan pada tahapan tertentu. Kandungan ASI berubah untuk memenuhi kebutuhan yang sangat khusus. ASI, yang selalu siap setiap saat dan pada suhu yang ideal, memainkan peran utama dalam perkembangan otak karena gula dan lemak yang dikandungnya. Selain itu, unsur-unsur seperti kalsium di dalamnya memainkan peran besar dalam perkembangan tulang bayi.

Kehebatan gizi dalam ASI sudah tidak terbantahkan lagi. Kecanggihan teknologi sudah tuntas mengupas kuasa Allah dalam setiap tetesnya. Pemberian ASI dapat membantu ibu memulihkan dari proses persalinannya. Pemberian ASI selama beberapa hari pertama membuat rahim berkntraksi dengan cepat dan memperlambat pendarahan. Seorang Ibu yang menyusui  bayinya merupakan cara diet alami untuk menurunkan berat badannya semasa kehamilan dan juga cara bagi ibu untuk mencurahkan kasih sayangnya pada bayi yang membuat bayi merasa nyaman. 

Pada tahun 70-80an, justru banyak rumah sakit dan tenaga kesehaatan yang mendorong para ibu yang baru melahirkan memberikan susu formula untuk bayi bayi mereka. Tindakan ini adalah khas kapitalisme yang kejam sekaligus mengambil keuntungan dari keawaman masyarakat. Kejam karena tindakan mereka memisahkan ibu dari bayi yang lahir berarti mengurangi ikatan emosional diantara mereka dan meningkatkan stress pada bayi dan ibunya, kapitalistik selalu mengkampanyekan formula buatan untuk menggeser pemberian ASI pada bayi. 

Sebuah analisis komparatif bayi yang diberi ASI dan susu formula bayi oleh James W. Anderson, ilmuwan dari University of Kentucky, menetapkan bahwa IQ bayi yang diberi ASI lebih tinggi 5 angka daripada bayi lainnya yang tidak diberi ASI. Sebagai hasil dari penelitian ini, ditetapkan bahwa ASI sangat bermanfaat bagi kecerdasan hingga 6 bulan dan bahwa anak-anak yang disusui kurang dari 8 minggu menunjukan tidak adanya perkembangan IQ yang signifikan.

Empat belas abad lalu, keluarga tumbuh dalam lingkungan sosial yang tertimpang. Dunia begitu patriarki memuja dan memuji kaum lelaki, Barulah ketika Islam datang, keluarga memiliki makna agung. Semua anggota keluarga bukan hanya suami/ayah dipandang punya kedudukan berharga. Dalam surat Al Baqarah : 233 terkandung sejumlah kewajiban bagi kedua orang tua yakni penyusuan anak dan pemberian nafkah dari ayah kepada keluarga. Ayat ini memperlihatkan kemuliaan hukum islam yang menjaga keluarga. 

Dalam ayat itu juga para ayah diberikan amanah untuk mencari nafkah secara ma’ruf untuk keluarga mereka. Pemeliharaan anggota keluarga yang utuh dan berharga telah dicontohkan dalam kehidupan Nabi SAW dan para sahabat. Kepada anak anak, Nabi kita sangat menyayangi dan menyukai anak anak bahkan ketika shalatpun beliau menggendong salah satu cucunya. 

Dalam islam, anak-anak mendapatkan perlakuan yang istimewa dan orang tua diberikan kewajiban mempelakukan mereka dengan kasih sayang, Lengkap sudah praktek Islam sebagai agama yang ramah pada anak, tidak ada dalam peradaban manapun sistem kehidupan yang demikian ramah pada keluarga, wanita dan anak anak. Wallahualam.[]


Oleh : Ahsani Ashri, S.Tr.Gz 
Nutritionist, Pemerhati Sosial
  

Posting Komentar

0 Komentar