Antara Fetish dan Fitrah Manusia



BUNGKUS! Kata ini mungkin sedang viral akhir-akhir ini. Berawal dari thread di Twitter yang dibuat oleh akun @m_fikris, ia bercerita tentang kejadian kurang menyenangkan bahkan cenderung ke arah pelecehan. Meski perlakuan yang diterimanya hanya melalui virtual, namun ia rasa harus mengungkap hal ini, sebab khawatir akan memakan lebih banyak korban.

Cerita bermula ketika @m_fikris berkenalan dengan seorang mahasiswa tingkat akhir—sebut saja G—lewat Instagram. Ia mengaku tak segan berkenalan dengan G, karena menganggap bahwa berteman dengan sesama mahasiswa dalam satu kota yang sama meski beda Universitas, kenapa tidak?.

Singkat cerita komunikasi antara @m_fikris dan G berlanjut di Whatsapp. G meminta tolong kepada @m_fikris untuk membantu riset tugas akhirnya yang bertema bungkus-membungkus. Anehnya, yang dibungkus bukanlah benda atau makanan, melainkan manusia. Ya betul, G meminta @m_fikris untuk membungkus seluruh badannya termasuk wajah dengan 3 tahapan. 

Tahap pertama, badan dililit dengan lakban hitam termasuk mata dan mulut. Tahap kedua, dibungkus dengan kain jarik atau semisalnya secara rapat sehingga wajahnya tertutup. Tahap ketiga, dililit oleh tali rafia. Mirip seperti jenazah yang dikafani. @m_fikris mengatakan, semua instruksi ini berasal dari G, yang disampaikan melalui panggilan telepon.

Setelah dibungkus, @m_fikris difoto dan direkam sesuai instruksi G. Dan dikirim melalui Whatsapp. G hanya meminta @m_fikris untuk bertingkah “natural” ketika sedang dalam keadaan terbungkus—reaksi emosional yang wajar ketika dalam keadaan tertekan. Kemudian setelah kurang lebih 3 jam “dibungkus” akhirnya @m_fikris melepaskan “bungkusannya” sebab selama 3 jam G tidak ada kabar dan tidak ada instruksi lebih lanjut. 

Di sinilah kecurigaannya dimulai, setelah 3 jam tidak ada kabar, G memulai chat kembali dengan sangat aneh dan kata-kata yang kurang pantas. Dan justru meminta teman dari @m_fikris untuk dibungkus juga. @m_fikris menolak dan akhirnya menyadari bahwa dirinya sedang jadi objek gairah seksual dari G. Yang ternyata G adalah seorang biseksual dan mengalami gangguan kondisi yang disebut Fetish.

Fetish atau Fetisisme berasal dari kata fetico—bahasa portugis—yang artinya keterpikatan obsesif. Gangguan ketertarikan seksual yang kuat terhadap benda mati atau ke bagian tubuh non-seksual. Orang yang mengalami gangguan ini biasanya memegang, menggosok, mengecap, atau mencium objek fetis demi kepuasan seksual, atau meminta partnernya untuk mengenakan objek itu. Umumnya dialami laki-laki. (Sumber: Psychology Today)

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa Fetish merupakan suatu keadaan yang menyimpang. Lalu, apakah cara pemenuhan seksual di atas adalah benar? Dan bagaimana Islam memandang hal ini?

Allah menciptakan manusia disertai naluri. Salah satunya Allah memberikan manusia naluri berkasih sayang (gharizatun nau’). Naluri ini tidak semata-mata hanya saling menyayangi antar manusia, tapi juga berkaitan dengan kebutuhan biologis manusia (melanjutkan keturunan). Islam memandang kebutuhan biologis ini adalah hal yang fitrah. 

Meskipun kebutuhan biologis ini adalah hal yang fitrah bagi manusia, namun dalam proses pemenuhannya tidak hanya berlandaskan pada tata nilai dan moral yang berlaku di masyarakat saja, akan tetapi juga wajib berlandaskan syariat Islam. Karena pemenuhan kebutuhan biologis ini hanya bisa dipenuhi lewat satu pintu, yaitu pernikahan. 

Secara fitrah, laki-laki dan perempuan itu diciptakan berbeda. Laki-laki cenderung berkepribadian maskulin dan perempuan cenderung berkepribadian feminin. Karena itulah, Allah ciptakan manusia berpasang-pasangan untuk saling melengkapi. Laki-laki hanya akan menyukai perempuan begitupun sebaliknya. Namun bagaimana bila ternyata ada yang tidak berjalan sesuai dengan fitrahnya? 

Jika kita mengamati hewan-hewan di sekitar kita, kita akan dapati seekor hewan jantan hanya akan mengawini hewan betina. Ini karena fitrah yang Allah tetapkan pada setiap makhluk, bahwa jantan tercipta berpasangan dengan betina. Hewan yang tidak diberi akal saja paham, ke mana seharusnya ia “pergi” untuk memenuhi kebutuhannya.

Maka laki-laki ataupun perempuan yang sehat akal, tidak akan mungkin melanggar fitrahnya dan mengikuti hawa nafsunya untuk menyukai sesama jenis. Perilaku tersebut bahkan lebih rendah dari sifat binatang. Dan merupakan perbuatan yang sangat keji.

Jelaslah ini adalah bentuk penyimpangan dari fitrah manusia, yang merupakan suatu penyakit. Fetish bukanlah penyakit bawaan lahir, akan tetapi dikarenakan bacaan, tontonan, teman, lingkungan sekitar dll. 

Selain itu, faktor terbesar yang mendasari penyimpangan ini adalah keimanan. Kurangnya rasa cinta pada Allah dan RasulNya membuat manusia melanggar aturan yang telah Allah tetapkan dan lebih memilih untuk memenuhi hawa nafsunya tanpa berfikir benar atau salah.

Pada hakikatnya, penyimpangan ini bisa sembuh bila ada kemauan dari manusianya itu sendiri. Karena tidaklah mungkin Allah ciptakan manusia terlahir menyimpang dari fitrahnya. Ini semua adalah akibat dari sistem sekulerisme yang diterapkan saat ini. Yang menjauhkan manusia dari agama, sehingga lemahlah iman.

Maka dari itu untuk mencegah terjadinya penyimpangan semacam ini, dibutuhkan sebuah sistem yang dapat menjaga dan memelihara manusia sesuai dengan fitrahnya. Dan sistem itu adalah Islam. Islam akan senantiasa menjaga kewarasan kita untuk selalu berjalan dalam koridor hukum syara. Wallahu a'lam bish shawwab.[]


Oleh: Naely Lutfiyati Margia

Posting Komentar

0 Komentar