TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Waspadalah! Kasus Baru Corona Semakin Meningkat



New normal atau kenormalan baru sedang trend-trendnya di kalangan masyarakat Indonesia. Kenapa?. Rencana punya rencana, pemerintah kita akan memberlakukan new normal ini selama pandemi virus corona. Lalu, apakah Indonesia sudah cukup aman dari virus corona sehingga pemerintah berani mengeluarkan rencana memberlakukan new normal ini?. Apakah masyarakat sudah siap menghadapi new normal ini?. Dan apakah jumlah kasus virus corona di Indonesia sudah dikatakan layak oleh WHO untuk diterapkannya new normal?.

Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dr. Iwan Ariawan menyampaikan, dengan jumlah kasus yang masih terbilang tinggi maka penerapan new normal beresiko tinggi terhadap makin masifnya penyebaran virus corona.

Hal tersebut dikatakan Iwan dalam diskusi virtual yang diadakan oleh Para Syndicate, Minggu (21/06/2020). “Seharusnya, mengacu persyaratan WHO, kalau kondisi jumlah kasus tidak naik selama dua minggu baru bisa dilonggarkan bahkan ada beberapa negara yang menetapkan pelonggaran dilakukan kalau sudah menurun selama satu bulan. Jadi, sekarang kondisi di Indonesia belum aman untuk keluar dan bergerak, resikonya masih tinggi” katanya.

Pemerintah saat ini mulai melonggarkan sejumlah aturan, tapi Iwan menyarankan tindakan pencegahan seperti cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak harus tetap dijalankan. “Ini pun sebenarnya tidak menjamin, karena pemahaman yang masih kurang di tengah masyarakat. Untuk sebagian besar, aturan itu hanya dianggap sebagai larangan yang kalau tidak dilakukan akan kena denda bukan resiko terinfeksi penyakit” katanya.

Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dr. Panji Fortuna Hadisoemarto juga menilai pemerintah seharusnya fokus pada menekan angka kasus virus corona dahulu ketimbang berfikir melonggarkan aturan demi ekonomi.

“Agenda pemberantasan penyakitnya tidak ada, narasi yang dibawa malah hidup berdampingan, berdamai dengan covid. Ini masalahnya kebijakan amburadul karena arahnya bukan memberantas, kalau agendanya kuat untuk memberantas Covid-19 baru kita bisa menemukan jalan” kata Panji

Menurut Panji, perekonomian Indonesia pun akan sulit berjalan kalau wabah belum diatasi karena kesehatan masyarakat perlu diperkuat lebih dulu. Iwan juga sepakat akan hal itu dan menambahkan bahwa pemerintah seharusnya memikirkan kesehatan masyarakat terlebih dahulu ketimbang ekonomi.

“Kesehatan harus aman dulu baru ekonomi bisa tumbuh. Pedomannya itu harus aman dan produktif, jangan terbalik produktif dulu baru nanti aman” kata Iwan. 

Selain itu, sejumlah pakar dan praktisi kesehatan menduga pembukaan sembilan sektor ekonomi dan wacana adaptasi kebiasaan baru atau AKB di tengah masyarakat menyebabkan kenaikan kasus virus corona. Adapun sembilan sektor yang ditetapkan untuk dibuka kembali meliputi pertambangan, perminyakan, industri, konstruksi, perkebunan, pertanian, dan peternakan, perikanan, logistik dan transportasi barang.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra berpendapat, sejumlah masyarakat pada akhirnya menganggap langkah itu menunjukkan kondisi yang sudah kembali normal seperti sebelum adanya pandemi virus corona. Nyatanya, kasus virus corona di Indonesia kian meningkat setiap harinya sehingga hal ini akan sangat membahayakan masyarakat di seluruh Indonesia.

“Inilah resiko pembukaan sektor – sektor tersebut, kita sekarang mengalami kenaikan kasus secara konsisten di atas 1.000 per hari. Lonjakan ini terjadi di berbagai wilayah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah yang cukup signifikan” kata Hermawan melalui pesan suara kepada Bisnis, Jakarta pada Minggu (21/06/2020).

Hermawan meminta pemerintah untuk kembali mengevaluasi kembali pelonggaran PSBB atau keputusan untuk membuka kembali sentra ekonomi dan aktivitas masyarakat secara luas. “PSBB sendiri tidak perlu dikhawatirkan, itu adalah bentuk intervensi longgar. Tetapi bukan berarti membebaskan semua hal tanpa ada saringan” katanya.

Awal Juni, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah memberikan lampu hijau bagi Sembilan sektor ekonomi untuk kembali beroperasi di tengah penerapan new normal. Kebijakan ini diambil dalam rangka menekan dampak ekonomi dan sosial dari pandemi virus corona.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan langkah itu telah mempertimbangkan risiko penularan yang menggunakan indikator kesehatan masyarakat berbasis data yakni epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan. 

“Selain itu, penilaian dampak ekonomi dilaksanakan dengan menggunakan indikator indeks dampak ekonomi dari tiga aspek yaitu aspek ketenagakerjaan, proporsi produk domestik regional bruto sektoral, dan indeks keterkaitan sektor” kata Doni melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jakarta, Jum’at (05/06/2020).

Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebut masih tingginya kasus baru Covid-19 karena pelacakan yang dilakukan secara agresif. Kasus baru Covid-19 tembus di atas seribu per hari. Pada Sabtu (20/06/2020) pemerintah mencatat ada penambahan 1.226 kasus berdasarkan data yang dihimpun dalam 24 jam terakhir. Dari penambahan ini menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 45.029.

“Penambahan ini sangat signifikan di beberapa daerah karena kontak tracing dari kasus konfirmasi positif yang kami rawat lebih agresif dilaksanakan dinas kesehatan di daerah” kata Yurianto dalam keterangannya di Graha BNPB, Jakarta Sabtu sore.

Yuri mengatakan, orang yang ditemukan lewat hasil pelacakan itu kemudian dites spesimennya menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Tes Cepat Molekuler (TCM). “Dan mendapatkan hasil signifikan positif. Ini upaya kita untuk menjawab bahwa pemeriksaan harus masif berbasis dari data kontak tracing yang dilaksanakan secara agresif.” 

Yuri menegaskan pelacakan agresif disertai tes masif ini penting untuk menemukan kasus positif di masyarakat. Orang dinyatakan positif pun kemudian bisa segera diisolasi atau dirawat. “Ini menjadi penting agar tidak menjadi sumber penularan” kata Yuri.

Dari data dan kenyataan yang ada saat ini menunjukkan bahwa Indonesia belum dinyatakan layak dan siap untuk menerapkan kebijakan new normal. Lalu, kenapa pemerintah bisa mengeluarkan rencana penerapan new normal sekarang?. Dengan pemerintah mengeluarkan wacana new normal masyarakat akan berbondong – bondong menanamkan pikiran bahwa Indonesia sebenarnya cukup aman untuk bisa melakukan aktivitas di luar rumah sehingga mereka akan bebas dan lalai untuk menjaga protokol kesehatan yang diserukan oleh WHO.

Masyarakat akan bebas berinteraksi dengan yang lainnya sehingga penyebaran virus corona akan semakin kian meninggi sehingga angka kasus baru untuk virus corona akan semakin melunjak. Hal ini terbukti bahwa sekarang hampir setiap harinya ada 1.000 di temukan kasus baru. Belum lagi jika ada yang dinyatakan positif tanpa memiliki gejala Covid-19, hal ini akan sangat berbahaya dan secara tidak sadar membuat penyebarkan Covid-19 meluas.

Selain itu pembukaan sembilan sektor ikut berperan untuk meningkatkan penyebaran virus. Apakah ekonomi negara lebih penting dan menjadi perhatian utama pemerintah sehingga untuk masyarakat sendiri terabaikan?. Seharusnya kelesuan ekonomi yang dialami pelaku ekonomi raksasa maupun kapitalis tidak menjadi pendorong kuat pemerintah memberlakukan new normal dengan resiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas. 

Kesehatan masyarakat harus lebih dulu diperhatikan dan dinomor satukan, bukan bagaimana menormalkan dan mengamankan para pemilik modal sehingga mereka tidak merugi. Jika masyarakan sudah dinyatakan aman serta kesehatan mereka terjamin, baru roda perekonomi bisa berangsur – angsur kembali kesedia kala. Apakah pemerintah sudah mengambil langkah yang tepat dengan menomor satukan kestabilan ekonomi dan menumbangkan nyawa masyarakat seperti sekarang ini?. Bukan kah negara harus selalu melindungi masyarakatnya bagaimana pun caranya?.[]

Oleh : Elma Pebiriani

Sumber :
[1] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200622031114-20-515831/new-normal-dinilai-beresiko-bikin-masif-penyebaran-corona 
[2] https://kabar24.bisnis.com/read/20200621/15/1255503/sehari-kasus-baru-corona-lebih-dari-1.000.-pakar-tuding-pembukaan-sektor-ekonomi-gegabah
[3] https://nasional.kompas.com/read/2020/06/20/17120501/kasus-baru-covid-19-masih-tinggi-pemerintah-karena-pelacakan-agresif

Posting Komentar

0 Komentar