TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Wanita Mulia dengan Islam, bukan Feminisme



Kita beragama Islam sejak lahir. Merasakan manisnya iman. Lalu bagaimana dengan bayi yang terlahir dari keluarga non muslim. Memang setiap bayi terlahir suci, namun orangtuanyalah yang menjadikan ia kafir atau muslim. Dia harus tetap mencari kebenaran, karena kewajibannya juga sama dengan kita.

Allah telah memberikan kemudahan kepada kita sebagai orang yang terlahir dalam keluarga muslim. Kita telah berada dalam agama yang sempurna, yang mengatur segala lini kehidupan. Agama yang memberikan kemuliaan kepada pemeluknya. Serta tak luput memberikan rahmat bagi seluruh alam.

Untuk apa cari yang lain? Sedangkan dia (dinul Islam) sudah sempurna.

...ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ ...

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (Al Maidah : 2)

Syariat Islam juga mencakup hukum-hukum tenang perempuan. Jauh sebelum ada gerakan feminisme, Islam telah memberikan hak-hak para perempuan yang tak secuilpun menodai perempuan dan menyelisihi fitrah perempuan.

Islam menjaga kehormatan perempuan dengan perintah berpakaian syar'i. 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al Ahzab:59)

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
 
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An Nur:31)

Perempuan juga terjaga dari pandangan nakal sorotan-sorotan tak bertanggungjawab.

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).

Teringat sabda Rasulullah SAW. Dalam sebuah perjalanan singkat Rasulullah yang sedang berboncengan dengan Fadhl, ketika itu datanglah seorang wanita yang ingin meminta fatwa kepada Rasulullah. Fadhl dan wanita tersebut saling berpandangan seketika itu Rasulullah SAW memalingkan muka Fadhl ke arah lain agar syaithan tak bermain diantaranya. Masih banyak lagi bentuk penjagaan martabat dan kemuliaan Islam untuk perempuan. Masya Allah betapa berharganya wanita dalam Islam.
 
Wanita terhindar dari pandangan liar. Tak secuil pun Islam mengekang wanita. Islam punya aturan sesuai dengan fitrah wanita. Bahkan Islam tak melarang wanita untuk mengeksiskan diri, tentunya dengan aturan yang telah Islam tentukan.

Wanita boleh menjadi pembisnis, jurnalis, guru, qadhi, dokter, perawat, mubalighoh, dan masih banyak lagi. Namun Islam melarang wanita untuk menjadi pemimpin, bukan untuk membatasi gerak wanita. Namu Islam tau seluk beluk wanita. Mana yang baik untuknya mana pula yang buruk untuknya. Tak menjadikan suka atau tidak suka sebagai pedoman menjalankan syariat Islam.

Jauh sebelum tokoh feminisme berkoar, baik tokoh yang melabeli diri sebagai feminis maupun yang dilabeli. Asma binti Yazid sang orator yang menanyakan perihal wanita kepada Rasulullah. Dengan katangguhan jiwa serta ketawaduannya, Asma maju mewakili kaum wanita menemui Rasulullah menanyakan apakah ada perbedaan pahala antara kaum wanita dan kaum lelaki. Rasullah menjawab dengan lembut,  bahwa setiap pekerjaan wanita jika dilaksanakan secara ikhlas menghrap ridho-Nya adalah pahala yang tak terkira.

Sikap Asma mengundang decak kagum para sahabat. Keluhuran budi tercermin padanya. Buah dari kejayaan Islam yang akan melahirkan jiwa-jiwa berbudi pekerti luhur. 

Tentunya kehormatan wanita tak akan terjaga secara keseluruhan bila hanya individu atau kelompok saja yang melakukannya. Harus ada sebuah institusi yang menaungi segala urusan umat dengan syariat Islam kafah. 

Ada hak ada kewajiban. Yang mana tuntutan kewajiban akan menyertakan haknya jika kewajiban telah terlaksana. Hukum timbal balik akan berlaku.

Islam menjaga martabat wanita dengan syariat-Nya. Bukti cinta Islam terhadap wanita. Tegakah kau berpaling darinya dan menduakan cinta-Nya?

Oleh: Keysa Neva

Posting Komentar

0 Komentar