TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Wakil Rakyat Idaman, Paham Khilafah Bukan Ancaman


Beredar video singkat ikrar di Gedung DPRD Cirebon yang dibacakan oleh Affiati, A.Ma selaku Ketua DPRD Kota Cirebon pada saat menemui peserta demo penolakan RUU HIP. Ikrar tersebut menuai reaksi warganet karena saat pembacaan ikrar di dalam Gedung DPRD Kota Cirebon pada Senin 06 Juli 2020, khususnya pada pembacaan kalimat poin ketiga, tiba-tiba berhenti.

“Demi Allah, kami akan menjaga NKRI dari Faham Komunisme & Khilafah…”

Dijabarkan setelah membaca kalimat Khilafah, tiba-tiba ketua dewan berhenti dan mencoret redaksi khilafah. (https://www.beritasatu.com/nasional/654165-viral-video-ketua-dprd-kota-cirebon-hapus-kata-khilafah-mantan-ketum-adeksi-patut-dipertanyakan)

Subhanallah wal hamdulillah, ditengah adanya tudingan bahwa Khilafah adalah ancaman yang senantiasa disuarakan oleh sebagian pejabat di negeri ini, ternyata masih ada anggota dewan yang berani bersikap tidak memposisikan ajaran Islam yakni khilafah sebagai ancaman negara. Ya, ibu Affiati, A.Ma adalah muslimah, sangat wajar tentunya jika beliau tidak alergi dengan ajaran Islam.

Benarkah Khilafah ancaman?

Tudingan bahwa Khilafah adalah ancaman, memang terus disuarakan oleh pejabat negeri ini. Mereka yang menyuarakan Khilafah pun dituduh sebagai anti pancasila, anti NKRI, anti kebhinekaan, dan intoleransi.
Akhirnya muncul pertanyaan besar, ancaman seperti apa sebenarnya yang ditakutkan rezim? Apakah mereka sudah mencari tahu apa itu Khilafah? Bagaimana sejarahnya? Bahaya apa yang akan terjadi jika Khilafah ditegakkan? Benarkah Indonesia akan hancur jika ada Khilafah?

Khilafah Ajaran Islam, bukan Ancaman
Khilafah adalah ajaran Islam yang agung dan urgen keberadaannya. Khilafah akan menjadi solusi atas krisis multidimensi yang ditimbulkan sistem sekuler-liberal. Hanya saja, ada opini yang demikian massif untuk mendiskreditkan khilafah, menjadikannya bak monster dan musuh bersama yang patut diwaspadai. Upaya penegakan khilafah dikait-kaitkan dengan radikalisme dan terorisme, dengan harapan umat akan takut dan menolak ide ini. Oleh karena itu, perlu kiranya pembahasan tentang khilafah, agar menjadi penyeimbang di tengah arus penyesatan opini dan monsterisasi khilafah.

Apa itu khilafah?

Menurut Asy-Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya, Nizham al Hukmi fi Al-Islam,  khilafah menurut Hizbut Tahrir ialah “Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum perundang-undangan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia”. Khilafah adalah Imamah. Imamah dan Khilafah itu artinya sama. Misalnya Imam al-Mawardi, beliau tidak membedakan antara istilah khalifah dengan imam, khilafah dengan imamah. Beliau berkata:

وَيُسَمَّى خَلِيفَةً لِأَنَّهُ خَلَفَ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي أُمَّتِهِ، فَيَجُوزُ أَنْ يُقَالَ: يَا خَلِيفَةَ رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى الْإِطْلَاقِ فَيُقَالُ: الْخَلِيفَةُ.

Imam  juga dinamai khalifah karena menggantikan Rasulullah saw dalam umatnya. Boleh juga disebut khalîfah RasuliL-lâh. Namun secara umum disebut khalifah saja (al-Imam al-Mawardi, al-Ahkâm al-Sulthâniyyah, 39).

Banyak hadis-hadis shahih yang menjelaskan dua kata ini dengan pengertian yang sama. Di dalam nash-nash syara’ tidak terdapat untuk salah satu dari keduanya pengertian yang menyelisihi pengertian yang lainnya, tidak dalam al-Qur’an dan tidak pula dalam as-Sunnah, karena hanya keduanyalah yang menjadi nash-nash syara’. Dan dalam hal ini tidaklah wajib terikat hanya dengan kata ini, yakni Imamah atau Khilafah. Sebab, yang wajib hanyalah terikat dengan substansi pengertiannya.

Dari definisi tersebut, terlihat bahwa khilafah memiliki tiga esensi, yaitu ukhuwah, syari’ah, dan dakwah. Ukhuwah, karena khilafah akan menyatukan kaum Muslimin di seluruh dunia, yang selama ini terpenjara dalam sekat imajiner nasionalisme. Syariah, karena khilafah akan menjalankan aturan Islam dalam seluruh bidang kehidupan, yang akan membawa rahmat bagi semesta alam. Sedangkan dakwah, karena Khilafah yang memposisikan dirinya sebagai darul Islam (Negara Islam) akan menjalin hubungan internasional hanya berdasarkan tuntunan Syariah dan kepentingan kaum Muslimin, yaitu berupa dakwah dan jihad.

Inilah yang ditakuti oleh kafir penjajah yang selama ini mengambil keuntungan dari tercerai-berainya kaum Muslimin. Sesungguhnya, khilafah bukan ancaman, kecuali bagi mereka yang nyaman dengan kezaliman. Umat Islam adalah umat yang unggul, selama mau berpegang kepada ajaran agamanya.

Dengan kata lain, selama umat berpaling dan tidak mengambil petunjuk yang sudah Allah berikan, maka selama itu pula kondisi umat akan seperti saat ini; mundur, terbelakang, tertindas, dan keadaan yang menyedihkan lainnya. Hal ini senada dengan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’du ayat 11, bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum selama mereka tidak mengubah apa yang ada pada diri mereka. Ini juga menjadi pengingat, bahwa berpalingnya umat dari Syariah Islam berakibat sempitnya kehidupan, dan terhina di mata lawan.

Maka, reaksi Ibu Ketua Dewan dengan mencoret redaksi khilafah dapat diartikan ketidaksetujuan beliau terhadap kata khilafah disandingkan dengan kata komunisme sebagai ancaman NKRI. Demikian juga mulai nampak berseminya perasaan mencintai ajaran Islam di tengah kaum Muslimin patut diapresiasi dan disyukuri. Kita berharap agar perasaan tersebut diimbangi dengan pemikiran yang menyeluruh tentang bagaimana langkah kongkret untuk mengantarkan umat pada penerapan ajaran Islam tersebut. Bukankah Allah telah menjanjikan dalam QS. An-Nur ayat 55:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ  وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا   ۗ  يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا   ۗ  وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Allah telah menjanjikan kepada orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, tetapi, barang siapa tetap kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Bukankah tiada yang lebih menepati janji, selain Allah? Maka, tentukan pilihan, jadilah pejuang Islam, yang tidak lemah akan rintangan dan celaan. Wallahu a’lam bishshawab.[].

Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd
(Pemerhati Masalah Sosial Masyarakat)

Posting Komentar

0 Komentar