TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Wacana Peleburan Mapel Agama: Upaya Sistemis Pendangkalan Aqidah dan Sekulerisasi



Wacana penghapusan mata pelajaran (mapel) agama khususnya Agama Islam sudah beberapa kali muncul. Jika pun tidak dihapus, maka mapel tersebut dilebur atau digabungkan dengan mapel lain. Awal mula muncul isu mengenai peleburan mata pelajaran agama itu berawal dari salinan rancangan penyederhanaan kurikulum, yang menggabungkan mata pelajaran agama dan PPKN. 

Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda yang juga merupakan politikus PKB langsung mengkritik ide penggabungan dua mata pelajaran tersebut . Menurut Syaiful Huda, penggabungan mata pelajaran Pendidikan Agama dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) kurang tepat karena kedua mata pelajaran ini mempunyai filosofi dan muatan yang tidak bisa menggantikan satu dengan lainnya. 

Dia juga menjelaskan dari tiga UU Pendidikan Nasional yakni UU Nomor 4/1950, UU Nomor 2/1989, dan UU Nomor 20/2003, kebudayaan nasional dan nilai-nilai agama menjadi dasar serta akar dari sistem pendidikan di tanah air. 

Asosiasi Guru pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) pun meminta klarifikasi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang sedang membahas kemungkinan penggabungan mata pelajaran PAI dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan  (PPKN). 

Mahnan Marbawi selaku Ketua Umum DPP AGPAII pada Kamis (18/6) di Jakarta meminta penjelasan atau tabayyun kepada Kemendikbud terkait beredarnya power point yang ditulis rahasia terkait penyedarhanan PAI dan PPKN. Menurut Marbun, AGPAII menolak kebijakan itu karena menimbulkan persoalan besar yang dapat mereduksi masing-masing mata pelajaran. 

Tak memerlukan waktu lama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kementrian Pendidikan (Kemendikbud), Totok Suprayitno menegaskan tidak ada rencana peleburan mata pelajaran Agama dengan PPKN. Dia menyatakan jika Kemendikbud memang terus melakukan kajian terkait penyederhanaan kurikulum namun belum ada keputusan terkait hal itu. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim senada menegaskan  hingga saat ini tidak ada keputusan  mengenai peleburan mata pelajaran agama dengan mata pelajaran lainnya. 

Peleburan Mata Pelajaran Agama: Upaya Pendangkalan Agama dan Sekulerisasi 

Test the water, mungkin itulah yang akan  selalu umat Islam rasakan dimana berbagai cara dilakukan untuk menyingkirkan  ajaran Islam di era sekulerisme. Umat Islam akan selalu menjadi umat yang dipinggirkan termasuk ajarannya.

Tak ada asap jika tak ada api. Ini bisa menjadi penggambaran  reaksi penolakan peleburan mata pelajaran Agama. Ketika penolakan semakin kuat, maka mudah saja dikatakan bahwa itu hanya isu atau belum ada pembicaraan sama sekali. Namun jika tak ada penolakan atau jika pun ada penolakan yang tidak besar, bisa jadi akan menjadi sebuah kebijakan.

Tentu merupakan suatu keprihatinan ketika benar-benar terjadi peleburan mata pelajaran Agama Islam. Padahal saat ini porsi mata pelajaran Agama Islam  hanya dua jam dalam satu minggunya. Hal ini pasti dirasa sangat kurang apalagi juga beberapa bab sudah tereduksi. 

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, menilai telah terjadi pendangkalam agama dan sekulerisasi secara nyata dan sistematis ketika menyikapi adanya isu peleburan mata pelajaran Agama Islam dan PPKN.  Penolakan tegas juga disampaikan Pimpinan Lembaga Pendidikan Maarif PBNU KH Arifin Junaedi yang menyatakan untuk saat ini saja mata pelajaran agama sangat kurang apalagi jika dilebur dengan mata pelajaran lain.

Upaya sistematis dalam menyingkirkan mata pelajaran agama memang nyata adanya. Mapel Agama yang terbatas bisa dipastikan tidak cukup mampu membuat siswa menjadi terikat dengan ajaran agamanya. Para siswa akan semakin jauh dari ajaran agama yang seharusnya bisa menjadi tuntunan dalam berperilaku. Kita bisa melihat hasil pendidikan saat ini justru menghasilkan pelajar yang terjerumus pergaulan bebas, tawuran, kecanduan internet, serta perilaku-perilaku negatif  lainnya. Tentu ini tidak terjadi pada semua pelajar namun menggejala pada banyak pelajar. 

Penananam paham sekulerisme meniscayakan manusia mengambil keputusan-keputusan yang semakin menjauhkan agama dari kehidupan. Mereka akan membuang apapun yang berbau agama agar tidak mencampuri kehidupan. Menjadi hal yang lumrah ketika sistem sekuler ini menghasilkan sumber daya manusia yaitu peserta didik yang hanya mengejar keberhasilan duniawi.

Pendidikan Integral dan Menyeluruh di dalam Islam

Hal berbeda terjadi pada masa kejayaan Islam yang banyak menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar yang tetap berpegang teguh pada Islam. Mereka menguasai beberapa  ilmu  pengetahuan namun juga hapal al Quran bahkan ribuan hadist. Beberapa ilmuwan muslim yang berpengaruh besar di dunia adalah (merdeka.com, 26/06/2020) : 

1. Ibnu Sina (980-1037)
Ibnu Sina mempunyai kontribusi besar dalam bidang kedokteran yang juga mempelajari bidang teologi dan matematika. Salah satu  penemuan pentingnya adalah menemukan cara pengobatan bagi orang yang sakit dengan menyuntikkan obat ke tubuh penderita.

 2. Al Khawarizmi (780-850)
Beliau dikenal sebagai salah satu ilmuwan muslim yang berkontribusi besar di bidang matematika, geografi, dan astronomi. Selain itu juga ahli dalam bidang falsafah, artmatika, music, geometri, sejarah Islam, dan kimia. 

3. Ibnu al-Nafis (1213-1288)
Pada abad ke-13 Masehi Ibnu al -Nafis telah mampu merumuskan dasar-dasar sirkulasi jantung, paru-paru, dan kapiler pertama kali di dunia. Berkat jasanya yang sangat luar biasa ini Ibnu al-Nafis dianugerahi Bapak Fisiologis Sirkulasi.Beliau juga berhasilp memperkenalkan sebuah klasifikasi ilmu hadits yang lebih logis.

4. Jabir ibn Hayyan (721-815)
Beliau mendapat sebutan “the father of modern chemistry” karena beberapa penemuan-penemuannya di bidang kimia telah menjadi dasar bagi berkembangnya ilmu kimia modern saat ini.  

5. Ibnu Khaldun (1332-1404)
Ibnu Khaldun merupakan sejarawan dan sosiologi islam dan hafal al Quran sejak kecil. 

6. Al Zahrawi (936-1013)
Al Zahrawi dikenal sebagai salah satu ilmuwan muslim yang paling jenius di zamannya. Beliau seorang tokoh yang meletakkan dasar-dasar ilmu bedah modern.

Melihat hasil pendidikan islam tersebut, tentu kita bertanya bagaimana Islam mampu mencetak ilmuwan-ilmuwan handal? 

Sistem pendidikan tidak bisa dilepaskan dari ideologi yang menyokongnya. Islam sebagai sebuah ideologi akan merancang system pendidkannya sesuai dengan arahan Islam. Tujuan pendidikan Islam dibuat untuk membentuk manusia yang memiliki kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam, menguasai iptek (ilmu, pengetahuan, dan teknologi), dan memiliki ketrampilan tepat guna dan aplikatif.

Pada tingkat dasar yaitu TK – SD akan diberikan materi aqidah yang akan memperkuat keimanan dan keterikatan terhadap hukum syara. Selain itu juga diberikan materi kepribadian Islam untuk mempersiapkan mereka menuju masa baligh.

 Pada tingkat selanjutnya yaitu SMP, SMA, dan PT barulah diberikan materi yang bersifat lanjutan baik iptek maupun tsaqafah sehingga mampu menilai pemikiran lain di luar Islam. 

Kurikulum pendidikan Islam dibangun berlandaskan aqidah Islam sehingga setiap pelajaran dan metode serta semua hal terkait mata pelajaran akan diselaraskan dengan asas ini. Materi pemikiran dari luar Islam dipejalari agar tahu kecacatannya serta kesalahannya.

Negara Penyelenggara Pendidikan

Penyelenggara pendidikan di dalam Islam adalah Negara yang akan mengatur seluruh aspek dalam pelaksanaan pendidikan baik dari konsep, kurikulum, metode pembelajaran, dan lain-lain. Negara juga akan memberikan akses seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk bisa memperoleh pendidikan dengan mudah. 

Rasulullah saw bersabda : “Seorang imam (khalifah/kepala Negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hasil dari sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum bisa dikelola dengan optimal dan salah satunya bisa dimanfaatkan untuk sarana dan prasarana pendidikan. Fasilitas pendidikan akan dibangun Negara agar proses pendidikan berjalan optimal dan maksimal. 

Dengan metode dan konsep pendidikan yang berlandaskan aqidah Islam tentu akan sangat mampu  mencetak generasi cemerlang. Generasi yang tidak sekedar menguasai iptek semata namun juga berpegang teguh pada aqidah Islam dan menguasai tsaqafah Islam secara mendalam.[]

Oleh : Erlina YD, S.Hut
Institut Kajian Politik Dan Perempuan

Posting Komentar

0 Komentar