TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

UKT Tetap Normal, Mahasiswa Mulai Kesal



Perbincangan masalah UKT bagi mahasiswa masih saja hangat dibahas, pasalnya dibulan Juli ini sudah waktunya bagi mahasiswa untuk membayar uang kuliah untuk semester ganjil. Namun, banyak kalangan mahasiswa dari berbagai universitas beberapa waktu lalu melakukan aksi demo menuntut penurunan UKT. Mereka merasa bahwa, pemerintah tidak memperhatikan keadaan mahasiswa ditengah Pandemi Covid-19 ini.

Mahasiswa harus menghadapi kuliah online, dan tentunya ini membutuhkan biaya yang lebih dari biasanya untuk membeli kuota internet. Sedangkan disisi lain orang tua mengalami krisis ekonomi karena adanya Pandemi. Meskipun demikian biaya pendidikan tetap berlaku seperti biasanya, padahal kurang lebih 3-4 bulan selama pandemi, bisa dibilang uang kuliah tunggal mahasiswa di semester sebelumnya tidak digunakan secara penuh. Menindak lanjuti akan hal itu, banyak dari kalangan mahasiswa beberapa pekan lalu mulai kesal dan melakukan demonstrasi untuk meminta penurunan UKT. Mahasiswa berupaya agar pembayaran UKT di semester ini membayar separuh dari nominal UKT yang mahasiswa tanggung. (www.majalahnusantara.com/2020/06/pamekasan)

Walaupun dari pihak kampus telah mengadakan penurunan UKT sesuai dengan kebijakan yang di keluarkan oleh kemendikbud, akan tetapi kebijakan yang dikeluarkan itu dinilai masih menyulitkan mahasiswa, karena masih harus memenuhi persyaratan tertentu. Salah satunya adalah keluarga yang terdampak covid-19 dan pendapatan orang tua yang menurun, padahal sudah jelas bahwa pendapatan ekonomi masyarakat rata-rata menurun dari dampak ini. Selain itu juga, mahasiswa yang mendapatkan penurunan UKT tersebut tidak merata karena masih ada penyeleksian siapa mahasiswa yang berhak mendapatkan penurunan UKT (Uang Kuliah Tunggal).

Begitulah hidup di tengah-tengah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, asasnya hanya keuntungan yang ingin didapatkan tidak melibatkan agama sebagai penentu arah kebijakan. Bahkan kesusahan rakyatnya justru dijadikan sarana untuk tetap mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Padahal, sudah tugas negaralah menanggung segala penderitaan rakyatnya termasuk masalah mencekiknya UKT saat   pandemi.

Hal ini berbeda dengan Islam, di dalam Islam biaya pendidikan adalah tanggung jawab negara, karena pemimpin di dalam Islam adalah pelayan bagi umat dan mengurusi seluruh keperluan umat. Dengan prinsip ketaatan pada Allah Swt, maka akan terbentuk pemimpin yang amanah dan takut jika harus bermaksiat dengan membuat rakyatnya menderita dan sengsara. Pemimpin seperti ini hanya ada dalam sistem islam (Khilafah) yang mampu mensejahterakan seluruh umat didunia. []

Oleh: Zul Fajariyah 
Aktifis Dakwah Kampus

Posting Komentar

0 Komentar