TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tragedi Srebrenica dan Persatuan Umat

Sumber foto CNN

Kota Srebrenica di Bosnia-Herzegovina, menjadi saksi bisu pembantaian terhadap 8000 umat Muslim. Meski tragedi ini sudah berlalu 25 tahun yang lalu, namun sungguh masih menyisakan kepedihan yang sangat mendalam.

Pada tanggal 11 Juli 1995, unit-unit pasukan Serbia Bosnia merebut kota Srebrenica di Bosnia-Herzegovina. Dalam waktu kurang dari dua minggu, pasukan mereka secara sistematis membunuh lebih dari 8.000 Bosniaks (umat Muslim Bosnia) - pembunuhan massal terburuk di tanah Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua. Pasukan Serbia Bosnia memisahkan pria dewasa dan anak laki-laki dari kerumunan dan membawa mereka pergi untuk ditembak. 

Sementara itu, perempuan dan anak perempuan dikeluarkan dari antrian pengungsi dan diperkosa. Saksi mata berbicara tentang jalanan yang dipenuhi mayat. Tentara Belanda yang tidak bersenjata lengkap menyaksikan agresi Serbia, namun tidak melakukan apa-apa. Mereka juga menyerahkan 5.000 Muslim Bosnia yang berlindung di pangkalan mereka ke pasukan militer Serbia Bosnia. Sebagaimana diberitakan bbc.com pada Sabtu, 11 Juli 2020.

Genosida Tersistem

Bengis, kejam, dan biadab adalah kata-kata yang pantas untuk pelaku genosida terhadap Muslim Bosnia. Sebanyak 8000 Muslim syahid pada tragedi itu. Pun ribuan kehormatan Muslimah dirampas di depan tentara Belanda "yang katanya" adalah pasukan keamanan PBB yang ditugasi untuk melindungi para pengungsi Muslim Bosnia.

Astaghfirullah, inilah fakta kekejaman kaum penjajah yang nyata ada di depan kita. Tak hanya Muslim Bosnia, saat inipun umat Muslim di beberapa negara, dikoyak dan dikerat-kerat oleh penjajah kafir. Umat Muslim di Rohingnya, Palestina, Suriah, Uighur, Kashmir, Yaman, nyata-nyata dihilangkan nyawanya secara membabi buta. 

Inilah salah satu ciri sistem sekuler kapitalis. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Dan sistem yang tidak memberikan perlindungan pada umat manusia. Tak hanya itu, sekuler-kapitalis juga telah nyata merampas kehormatan wanita. Masihkah kita mempertahankan sistem yang jahat seperti ini?.

Bagai Buih di Lautan

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Menurut sebuah penelitian pada tahun 2015, Islam memiliki 1,8 miliar penganut, yang membentuk sekitar 24% populasi dunia, ("Why Muslims are the world's fastest-growing religious group". Pew Research Centre. April 2017. Diakses tanggal 24 April 2017)

Namun sayangnya, Muslim dengan jumlah sekian miliar, bisa "dijajah" oleh negara-negara kafir penjajah. Apakah ada yang salah?. Jika membaca hadist dari Rasulullah di atas, maka sebab terpuruknya umat Muslim karena adanya "penyakit al-wahn", yaitu cinta dunia dan takut mati.

Umat yang Terbaik

Dalam surah Ali Imran ayat 110 Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”.

Benar bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik. Dan selayaknya kondisi ini bisa diwujudkan kembali, tentu dengan berikhtiar memenuhi syarat-syaratnya. Yaitu dengan menjadikan kecintaan kepada Allah Ta'ala diatas kecintaan pada dunia dan seisinya. Sebagaimana yang digambarkan oleh Imam Syafi'i, “Jadikan akhirat dihatimu, dunia ditanganmu, dan kematian di pelupuk matamu”. Hingga ketika "akhirat" ada di hati, maka apapun perintah dari Al-Khalik akan mudah dilakukan, diantaranya melakukan amar makruf nahi mungkar, dan juga urgentnya mewujudkan  persatuan umat. Sebagaimana yang digambarkan Rasulullah, bahwa umat Muslim itu bagaikan satu tubuh, jika ada salah satu yang tersakiti, maka selayaknya saudara yang lain juga turut merasakan. 

Sudah saatnya kaum Muslimin bersatu dalam ikatan ideologi Islam yang shahih, dan tidak lagi berharap pada lembaga semacam PBB, yang sudah terbukti berkali-kali mendukung negara-negara kafir untuk menjajah umat Islam. 

Sungguh, umat Islam butuh negara yang bisa melindungi dan menjadi perisai umat. Sebagaimana kepemimpinan para khalifah di masa kejayaan Islam yang melindungi seluruh rakyatnya. Seperti kisah seorang Muslimah yang dilecehkan lantas ditawan di kota Amurriyah, Romawi. Kemudian si wanita meminta pertolongan pada khalifah Al-Mu’tashim Billah. Lantas sang khalifah mengerahkan puluhan ribu pasukan untuk mengepung kota Amurriyah. Yang mana panjang barisan pasukannya tidak terputus dari istana khalifah (Baghdad) hingga kota Amurriyah, Romawi. 

Semoga Allah Ta'ala segera memberikan pertolongan pada umat Muslimin, hingga persatuan dan kemuliaan Islam bisa terwujud kembali, Biidznillah.[]

Oleh Dahlia Kumalasari
Pendidik

Posting Komentar

0 Komentar